Colokan Listrik Argo Dwipangga

 PT Kereta Api mulai ramah dan sadar kebutuhan penumpang. Setidaknya, begitulah yang saya rasakan saat berada di dalam gerbong kereta Argo Dwipangga yang membawa saya ke Surakarta. Mungkin karena terbiasa memperoleh layanan alakadarnya (bahkan sampai imun), maka colokan listrik pun sanggup membuat saya takjub. Hebat dan menghibur!

Ketakjuban itu, mungkin sangat personal. Karena tak bisa tidur, maka saya harus membunuh waktu dengan kegiatan yang lebih berfaedah. Saya bisa bermain Solitaire saat akses internet dari Latitude saya ngedrop.

Sungguh, baru kali ini saya bisa ‘tulus’ memuji layanan transportasi publik milik negara itu. Sepanjang pengalaman saya sebagai konsumen kereta api sejak pertengahan 1990-an, saya hanya menyukai kereta yang melayani rute ke Bandung. Entah yang dari Surabaya, Surakarta atau Jakarta. Saya menduga, layanan ke dan dari Bandung rata-rata lebih bagus dibanding rute lain, karena di Kota Kembang itulah para direksi berkantor.

Saat Argo Wilis diluncurkan, menurut saya, fasilitas dan pelayanannya jauh lebih bagus dibanding Argo Dwipangga, Argo Lawu, atau Argo Muria. Bahkan Argo Bromo Anggrek yang saat diluncurkan diklaim sebagai kereta termewah dan tercepat, pun menurut saya masih kalah dibanding Argo Wilis. Kereta jurusan Jakarta itu, toiletnya rata-rata berkualitas standar: kotor dan berbau. Pintunya, kalaupun ada yang bisa buka-tutup secara otomatis, biasanya sensornya ngadat.

Singkat kata, terlalu banyak dosa yang akan saya tanggung kalau harus menyebut seluruh kekurangannya. (Kalau saja Soeharto masih hidup dan berkuasa, bisa-bisa saya sudah dipenjara gara-gara mengabsen kekurangan dalam layanan PT Kereta Api. Selain tak nasionalis, saya bisa dikenai pasal menjatuhkan kewibaawan karya anak negeri!)

Kembali ke colokan listrik. Pada gerbong kepresidenan sekalipun, saya tak menjumpainya. (Entah sekarang, wong saya berkesempatan menumpang gerbong mewah begituan juga pada awal 2001, kok).

Sayang, gerbong dengan fasilitas colokan listrik baru terdapat pada Argo Dwipangga yang kebetulan saya naiki sepulang dari ‘mudik’ lebaran di Jakarta. Sayangnya lagi, satu rangkaian kereta yang gerbongnya berfasilitas colokan listrik akan segera dikandangkan kembali ke Madiun, ke PT INKA.

Rupanya, gerbong yang saya naiki belum siap dioperasikan sepenuhnya. Petunjuknya, sih cukup kuat: bau cat masih terasa menyengat, wallpaper-nya pun masih kelihatan baru keluar dari gudang, dan pintu otomatisnya masih ‘underconstruction!’ Buka-tutupnya masih perlu dukungan otot bagi yang menginginkan membuka atau menutupnya.

Ketika orang bepergian perlu dukungan daya listrik untuk telepon seluler, laptop, videogame atau perangkat elektronik lainnya, pemasangan colokan listrik yang terdapat di samping setiap bangku memang layak memperoleh apresiasi yang sepadan. Hanya saja, kalau suatu ketika ada fasilitas hotspot di setiap gerbong dan semua orang bawa laptop, jangan-jangan setiap rangkaian akan ada satu gerbong khusus untuk genset?!?

Menurut saya, ya tidak apa-apa. Toh selama ini PT Kereta Api juga suka curang, mau menangnya sendiri. Setiap akhir pekan, harganya dinaikkan. Setiap libur panjang, tarifnya juga dibuat setinggi bintang. PT Kereta Api seolah-olah menjadi preman tukang palak: memaksa bayaran mahal mentang-mentang dibutuhkan, sementara pelayanan tak ada beda: antara low season atau peak season.

One thought on “Colokan Listrik Argo Dwipangga

Leave a Reply