Tugas Kenabian ala XL

Bagai sufi, XL tak pernah putus berbagi kebaikan. Dengan caranya sendiri, XL menghimpun rejeki, sambil diam-diam menguji kepekaan hati pelanggannya –termasuk saya. Beruntung, I-spot -pusat saraf iman, saya masih berfungsi, sehingga ada cukup rasa malu untuk ikut-ikutan menggerutu.

Pak Murti –pensiunan Kepala Taman Budaya Surakarta, misalnya, bertutur betapa mahalnya menelpon ke nomor rumah dari telpon genggamnya yang bernomor 0817256xxx. Dia lantas menggugat pesan iklan XL yang memberikan keleluasaan bagi pelanggannya untuk memilih sesuka hati: sms murah atau percakapan bertarif miring.

Untuk beralih pilihan dari SMS Semaumu ke Nelpon Semaumu atau sebaliknya, misalnya, pelanggan diminta mengirim pesan pendek ke *878#. Dan, pilihan bisa dinikmati setelah ada pemberitahuan dari operator, meski kata Pak Murti, “Harus menunggu hari berganti!”

Selain hal semacam itu yang membuatnya menggerutu, ia pun menyodorkan tambahan keluhan. “Saat di posisi SMS Semaumu, nelpon semenit bisa nyampe ribuan rupiah. Lebih boros!” katanya.

Saya tak banyak komentar. Sebaliknya, diam-diam saya justru menyalahkan Pak Murti yang saya anggap tak paham politik dagang. Sebagai pelanggan XL selama 8 tahun lebih, saya merasa lebih tahu suka-dukanya memakai XL. Semua teman selalu bilang kualitas suara XL lebih jernih dibanding semua operator, baik GSM, CDMA maupun PSTN.

Dukanya, XL pernah menjadi operator dengan tarif termahal, baik untuk panggilan keluar maupun terima panggilan dari operator lain. Makanya, beberapa teman sering meminta saya agar mengaktifkan nomor dari operator lain, demi memperlambat penyusutan dana pulsanya saat menelepon. Apalagi, panggilan ke XL dari operator lain seperti pakai argo kuda. Tentu, nomor 081704040xx milik saya tak ada dalam perkecualian. Semua warga negara memiliki kedudukan hukum yang sama di dagang Republik Telekomunikasi.

Rupanya, saya masih lebih religius dibanding Pak Murti. Gagal sambung berkali-kali sejak sebulan ini saya sikapi sebagai cara Tuhan sedang menguji isi hati. Beberapa teman yang komplain karena gagal sulit nyambung ke nomor saya, pun masih saya hibur, kok. “Saya sedang sembunyi. Maklum aja kalau panggilan Anda sulit tersambung ke nomor ke saya,” kilahku.

Kalaupun sempat emosi terhadap layanan XL, itu terjadi sepekan menjelang ramadhan. Selama dua hari, 22-23 Agustus, layar telepon genggam saya selalu dihiasi tulisan Blocked area. Saat itu, saya berada di kawasan Jemursari, Surabaya.

Semula, saya menyangka Philips yang kurang ajar karena menghasilkan produk kacangan. Setelah saya matikan handset lalu mencoba menyalakan kembali, kalimat Blocked area telah digantikan oleh dua huruf: X dan L. Pada saat demikian, biasanya segera masuk beberapa pesan pendek, yang rupanya tersandera oleh situasi akibat blocking.

Kejadian serupa berulang terus selama dua hari sial itu. Bahkan, saya sampai dihantui perasaan sangat bersalah lantaran beberapa pesan pendek dari istri seorang teman terlambat masuk beberapa jam gara-gara kena musibah Blocked area itu. Saya merasa kian berdosa dan bingung, sebab sms terakhir yang baru saya terima kemudian, sudah masuk pada wilayah sensitif: makian dan ancaman pemutusan persaudaraan!!! Apalagi, sms yang sama, tak cuma masuk ke nomor saya, namun juga ke HP istri saya.

Beruntung, meski saat itu (eh, hingga kini) sering gagal sambung dalam upaya melakukan panggilan keluar, saya sempat bisa komplain ke petugas layanan konsumen meski penjaga saluran 817 di seberang menyatakan tak tahu-menahu penyebabnya. Tapi, ya mau berbuat apalagi, toh begitu keluar dari Surabaya hingga Surakarta, tulisan Blocked area tak muncul lagi hingga kini.

Kini, di bulan berkah ini, saya seperti memperoleh hidayah. Saya bisa memahami manfaat berpuasa. Kini saya relatif sabar menghadapi tulisan call failed di layar telepon. Pun tidak gampang menggerutu, apalagi komplain kepada petugas customer care.

Terima kasih, XL. Anda sudah menjalankan tugas-tugas kenabianmu. Bagai sufi, kamu telah menuntun saya memahami perintah Tuhan. Maka, tak keliru Anda memilih ad agency-mu, yang menyodorkan slogan jitu: XL Ramadhan, tak pernah putus berbagi kebaikan.

Semoga, peran sufimu berakhir bersamaan dengan ramadhan…..

Leave a Reply