Tak Lari Harapan Dikejar

Harapan adalah daya hidup. Demi hidup –termasuk di dalamnya pertaruhan eksistensi, seseorang akan rela dan ikhlas hati menempuh banyak cara. Rasional atau tidak, terukur atau sebaliknya, bisa saja menjadi pertimbangan nomor kesekian. Tergantung kebutuhan atau bisa jadi, suasana hati. Seperti yang sedang dihadapi beberapa teman.

Secara pribadi, tak sedikit pun saya memiliki kewenangan –apalagi hak, melarang teman-teman mewujudkan harapan mereka. Hidup adalah proses, dan setiap orang berhak menentukan arah hidupnya sendiri. Bahwa di sini sedang ‘sepi’ dan di sana ada harapan ‘ramai’, hanya mereka sendirilah yang bisa mengukurnya. Pakaian selalu punya ukurannya sendiri-sendiri, apalagi hasil produksi massal.

Kalau saja tidak dihinggapi sifat sok tahu –bahkan sudah kelewat akut, mungkin tak perlu pula saya tergesa-gesa kembali mengisi halaman blog ini.

Sekilas, kisahnya sederhana. Sepekan silam, beberapa teman menunjukkan draf kontrak kerja sebuah proyek ‘kesenian’ di Batam. Sebuah kontrak tak adil (menurut saya), sebab bila sang seniman memutus sepihak, maka ia (mereka) harus mengganti dua kali lipat dari honor yang seharusnya mereka terima selama masa kontrak. Sebaliknya, bila pihak event organizer yang memutus, hanya membayar sesuai masa kerja yang dijalani.

Dalam draf kontrak juga terdapat klausul aneh. Bila muncul persoalan atau perselisihan (di luar kondisi force majeur), maka mekanisme musyawarahlah yang dikedepankan. Bila mufakat tak dapat dicapai, maka penyelesaian diserahkan ke Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI)!

Ah, jangan-jangan saya saja yang tak tahu perkembangan, bahwa kini, sengketa buruh-majikan sudah jadi wilayah kerja Badan Arbitrase. Lama saya bergumam, suntuk merenung, lagi-lagi yang muncul hanyalah bayangan menyeramkan. Terlalu lama saya dicekoki berita-berita patgulipat cukong-aparat.


Kabarnya, pertunjukan di Batam akan ditujukan bagi penonton dari Singapura. Yang jadi persoalan, tidak rasional bagi orang Singapura menyeberang ke Batam dengan mengeluarkan banyak dana, sementara di Esplanade, mereka bisa memperoleh pertunjukan yang lebih bagus dengan harga setengah dari pengeluaran mereka ke Indonesia

Terlalu banyak orang termakan janji manis penipu. Dijanjikan pekerjaan terhormat-karir hebat-gaji berlipat, namun hanya sesal yang didapat. Dan, Batam adalah belantara bagi kaum papa. KTP dengan identitas baru mudah didapat, dan paspor bisa tersedia dengan superkilat. Tak seperti di Jawa, kabarnya, uang sangat berkuasa di sana.

Pendapatan bersih dua setengah juta rupiah sebulan, mungkin sangat berarti di Surakarta. Apalagi bila kebutuhan makan dan tempat tinggal sudah tersedia. Tapi menari enam hari sepekan –tanpa kejelasan berapa kali tampil dalam 24 jam, alangkah menjenuhkan. Apalagi hingga berbulan-bulan…..

Sejujurnya, saya ragu terhadap kredibilitas dan itikad calon ‘majikan’ kalian. Klausul kontrak yang serampangan, tak adil dan hanya menguntungkan dirinya sendiri, biasanya muncul karena dua alasan: sengaja dengan tujuan melakukan kecurangan atau karena tidak tahu bahwa perjanjian dibuat selalu memiliki konsekwensi hukum yang mengikat.

Kecurangan, sudah jelas harus dilawan. Sementara ketidaktahuan akan menunjukkan kredibilitas, yang karenanya juga wajib dijadikan bahan pertimbangan.

Teman-teman, maafkan kecerewetan saya. Sepekan tinggal di Batam, segudang cerita saya peroleh. Dari Ny. Ira, seorang bekas buruh migran yang memilih meninggalkan kampung halaman lalu menetap di kota itu, bertutur bagaimana mudahnya di sana mengganti identitas yang bakal legal secara formal –meski terkesan tak masuk akal.

Maafkan saya, teman-teman. Semoga yang saya sampaikan hanya ekspresi paranoia belaka. Semoga sukses di tanah seberang.

Leave a Reply