Berburu Buku dan Piringan Hitam Jadul, yuukk…

Apa yang melintas di benak panjenengan semua saat mendengar kata Gladag? Pusat kacamata murah atau pasar keris dan cinderamata? Semoga Anda tidak melewatkan pusat buku bekasnya. Album-album jadul dalam bentuk piringan hitam dan pita suara juga terserak di lapak puluhan kios di sana.

  bukuloak

Buku langka banyak terdapat di pasar loak ini. Hanya saja, butuh ketelatenan untuk membalik-balik tumpukan. Koleksi akan bertambah bila sedang beruntung.  

Tak hanya buku-buku terbitan sebelum 1970-an, buku terbitan super jadul seperti 1930-an pun masih ada di sana. Ada yang berbahasa Jawa, Belanda, Inggris, meski tak sedikit pula yang berbahasa Indonesia.  

Karya-karya penulis legendaris seperti Lenin, Pramoedya Ananta Toer, Slamet Muljono masih mudah dijumpai. Juga, karya-karya penulis anonim yang umumnya pujangga-pujangga Kraton Surakarta. 

Hanya buku-buku berat? Tidak juga. Komik-komik Jepang terbitan Elex Media pun berserakan bersama buku-buku Ian Fleming dan Karl May. Harganya, cuma pada kisaran Rp 2.500-an hingga ceban.  

Yang mahal pun tak kalah banyak. Buku iklan terbitan masa kolonial, pun tersedia. Harganya ‘cuma’ Rp 1,5 juta. Buku koleksi filateli masa pendudukan Jepang dulu, pun tak sulit ditemukan. Untuk jenis beginian, biasanya tidak dipajang. 

Perlakuan yang sama terjadi pada buku atau majalah tentang etiket rokok dan cerutu –lokal maupun impor pada masa kolonial dan awal-awal berdirinya republik.loakPH 

Kalau Anda penikmat piringan hitam, Anda bisa memperpanjang daftar koleksi dengan harga Rp 20.000 per keping. Baik piringan hitam yang besar maupun yang berukuran lebih kecil. Untuk kaset berpita, harganya bervariasi antara Rp 3.500 hingga Rp 10.000 saja. Kata seorang pemilik kios yang mengkhususkan pada koleksi langka, seorang yang mengaku utusan majalah Rolling Stones memborong ratusan piringan hitam, khusus artis-artis Indonesia. 

Satu-satunya pengalaman yang menyebalkan, yakni ada saat saya ‘browsing’ ke pasar itu, sebulan lalu. Usai membalik-balik katalog peristiwa seni di beberapa kios, saya mendapati buku hitam yang menyebalkan. Judulnya: Ketika Kita Disapa. 

Katalog pameran fotografi dokumentasi seni pertunjukan itu dijual Rp 5.000-an. Jumlahnya banyak. Mungkin sekitar seratusan, karena setiap kios memiliki stok rata-rata 20-an buah. 

Ketika saya kehabisan buku katalog pameran saya sembilan tahun silam, saya justru menjumpainya di pasar loak. Padahal, saya membutuhkannya untuk lampiran proposal (rencana) pameran kedua saya. Kata seorang pemilik kios, mereka mendapatkannya dari pemulung yang menjualnya secara kiloan. Edan!

9 thoughts on “Berburu Buku dan Piringan Hitam Jadul, yuukk…

Leave a Reply