Wedang Cemol

Wedang Cemol (lafal bunyinya seperti kata setor) merupakan salah satu jenis minuman khas Sala. Bak kosa kata, wedang ini masuk kategori arkais. Masih ada, tapi bukan pekerjaan gampang untuk dapat merasakannya.

Sekilas, rasa Wedang Cemol hampir mirip Wedang Rondhe atau Bajigur (kata orang Yogya). Sama-sama pedas karena berunsur jahe, namun beda penampilan karena isinya juga berbeda. Tak ada kolang-kaling seperti pada Wedang Rondhe, warna putih pada Wedang Cemol berupa kelapa muda.

wedang cemol

Wedang Cemol lumayan menyehatkan. Meneguknya segelas, sudah sanggup mengusir rasa dingin pagi, malam atau ketika hujan.

‘Ornamen’ Wedang Cemol terdiri dari kacang goreng sangrai, potongan roti tawar dan serutan kelapa muda. Manisnya pada wedang ini pun ramah karena berasal dari gula aren, bukan kristal sari tebu. Di Sala, wedang ‘arkais’ ini bisa ditemukan di restoran Hotel Roemahkoe di Jl. Rajiman, kawasan kampung saudagar batik, Laweyan.

Tak mahal, hanya Rp 9.500 untuk satu gelas, belum termasuk pajak. Wedang Cemol cocok bersanding dengan pisang goreng atau pisang owol untuk cemilan sambil ngobrol di hotel yang juga bekas rumah saudagar batik itu. Kalau Anda pernah membaca novel Canting-nya Arswendo Atmowiloto, rumah itu akan mengajak Anda bertamasya ke masa lalu.

Tanya PamanTyo kalau saya dianggap membual.

10 thoughts on “Wedang Cemol

  1. hehe…cm mo mengomentari..
    bajigur itu di sunda ato daerah jawa barat deh mas, bkn di jogja..
    slain itu yg rasanya sama ma ronde, yg sama-sama pedas karena berunsur jahe bkn bajigur, tp bandrek..
    bajigur hanya terdiri dr santan dan gula merah…klo mau ditambahi kolang kaling…tp yg jual kliling biasanya cukup dgn santan n gula merah itu, tanpa ada unsur jahe… sepengetahuan saya sih sprti itu..
    hehe…maap!
    tp si cemol ini kenye musti dicoba…br bs tau jg bedanya ma bandrek..

    matur nuwun komentarnya yang mencerahkan. silakan mencoba si Cemol…
    /blt/

  2. “…rumah itu akan mengajak Anda bertamasya ke masa lalu…”
    Hhmm….masa lalu lagiiii…. Apakah kalau ke Solo kita harus selalu berhadapan dengan masa lalu? Hihihihi…. Mas Blont, di Solo bakal banyak apartemen ya….Wah, “prestasi” bagus buat Pak Walikota sekarang nih….Ternyata selain banyak tempat untuk bertamasya ke masa lalu, banyak juga dibangun tempat tamasya ke masa depan ya?

  3. Yang bikin maknyus wedang cemol itu bukan cuma ornamennya, tapi juga celupan batang sereh (jawa sere) yang ditancepi daun jeruk itu lho. Apa lagi kalo sambil nyemol yang duduk di sebelah.

Leave a Reply