Tawaran Ciamik dari Amik

Tak hanya lidah, mata pun perlu dimanja. Syukur, sense of art Anda turut terjaga, meski harus dalam merogoh kocek untuk mengkoleksi beberapa. Tapi, tak ada salahnya bila selera seni yang Anda miliki justru memberi sinyal aksi borong. Bagai saham, tak menutup kemungkinan nilai barang yang saya hadirkan di sini akan terus meningkat. Bukankah harga tembaga di pasar internasional juga terus meningkat?

Ya, ijinkanlah kali ini, saya menceritakan perkenalan saya dengan Amik, seorang seniman tembaga. Dia muda, tapi sudah kenyang pengalaman. Selera seninya juga oke. Setidaknya, bila dilihat dari ketidaksukaannya pada konservatisme dalam berbisnis. Saat ratusan tetangganya menyukai produk massal dan hampir sama, ia memilih bereksperimen dengan menciptakan produk-produk yang berbeda.

tembaga_tumang1 

Saat jalan-jalan mencari bahan tulisan dan foto di sentra kerajinan tembaga, Desa Tumang, Kecamatan Cepogo di kaki Gunung Merbabu, saya hampir putus asa. Tak ada aktivitas produksi. Sejumlah ‘galeri’ juga tak memajang produk yang menarik hati. Keputusan pulang pun sudah nyaris bulat sebelum istri saya mengajak singgah di sebuah rumah yang memajang dagangan agak ‘beda’. 

Saya sebut beda, karena galeri yang satu ini, meski berdebu tapi penataannya cukup rapi meski terkesan waton cemanthel, asal bisa memenuhi rak dan dinding.  

Oleh penjaga showroom, kami dibawa ke ‘galeri’ yang lebih besar, sekitar 50 meter dari tempat pertama. Di tempat kedua, saya disambut oleh beraneka benda yang terasa hidup. Vas bunga menyapa saya dari kejauhan. Beberapa tempat lilin juga menggoda, seolah mengedipkan mata berulang-ulang.

tembaga_tumang2 

Mengamati beberapa produk yang dipajang, saya penasaran. Feeling saya menuntun pada kecurigaan. Tak mungkin kap lampu, tempat lilin, penjepit tisu dan lampu-lampu taman itu bisa sedemikian hidup. “Pastilah Amik seorang pematung,” kata saya dalam hati. 

Baru sehari kemudian saya beroleh jawaban. Dari gagang telepon di seberang, Amik mengaku hanya setahun mengenyam pendidikan sekolah menengah seni rupa di Sala. Ia lalu bekerja sekaligus nyantrik pada seniman patung di Yogyakarta sebelum melakukan hal serupa di Kudus. “Saya belajar seni patung dari mereka,” ujar Amik. Ia menyebut dua nama, tapi saya lupa. Maklum, daya ingat menurun seturut usia yang kian menua. 

Di galeri milik Amik, saya jamin Anda tak bakal kecewa. Dengan duit Rp 50 ribu saja, asbak unik bisa dibawa. Sedang vas bunga dibanderol pada kisaran seratusan ribu saja. Paling mahal, bahkan cuma dua jutaan. Itu pun bisa berupa benda bernilai tinggi, baik untuk menghias taman atau ruangan di rumah Anda. Yang pasti, Anda tak sanggup mengangkat sendirian untuk benda seharga dua jutaan tadi. 

Beberapa ragam bentuk vas bunga, misalnya, bisa dibeli satu set sekalian. Biasanya terdiri tiga barang yang sama dengan ukuran berbeda-beda. Nah, terhadap vas-vas bunga itu, Anda bisa memperlakukannya sebagai patung pojok ruang tamu. Dengan menata berjajar tanpa bunga di atasnya, jadilah ia patung sungguhan. Kalau bosan, tinggal memisahkannya ke beberapa sudut atau lokasi berbeda. Tinggal memasukkan bunga ke dalamnya, bereslah persoalan. 

Saran saya, kunjungi galeri itu bila Anda sedang travelling ke Sala. Hanya sekitar 40 menit perjalanan dengan mobil, Desa Tumang sudah dijelang. Dengan nambah waktu 30 menit saja, bisa dinikmati panorama gunung Merapi dan lembah-lembahnya yang hijau dari Selo Pass. Di Selo, ada jadah bakar yang enak. Juga sate kambing empuk dan lezat, kira-kira 100 meter arah barat Polsek Selo.

5 thoughts on “Tawaran Ciamik dari Amik

  1. Dengan duit Rp 50 ribu saja, asbak unik bisa dibawa. Sedang vas bunga dibanderol pada kisaran seratusan ribu saja. Paling mahal, bahkan cuma dua jutaan.

    byuh, jebulnnya duit dua juta itu cuma to? tambah makmur pakde… 😀

Leave a Reply