Lezatnya Kuetiau Pak Yono

Belum lama saya mengenal lezatnya kuetiau. Kalau saja istri saya tak memaksa, mungkin selamanya lidah saya tak punya pengalaman mengecapnya, apalagi kuetiau goreng seafood bikinan Pak Yono. Sedari dulu, yang menggoda saya rajin bertandang hanyalah sop ayam. Suegerrr tenan……! 

kwetiauw2 

Sop (lidah Jawa telanjur biasa mengucap sup) ayam Pak Yono terletak di  sebelah kiri Hotel Malkana (kini bernama Grand Orchid), Jalan Gajahmada. Orang pertama yang memperkenalkan itu bernama Happy, praktisi bisnis teknologi informasi. Saat babat alas menghadirkan akses internet di Sala, belasan tahun silam, dia sering mengajak saya makan di warung itu. Biasanya tengah malam, atau menjelang pagi. 

Selain sop, saya berkenalan pula dengan ayam goreng tepung. Gurih, kriuk-kriuk. Saya biasa menyantapnya dengan sambal kecap secolek, yang biasa disertakan sebagai variasi sop ayam atau kuetiau. 

Kalau saja Anda sedang menginap di Orchid atau Novotel, jangan ragu singgah di warung kakilima ini. Gengsi sebaiknya dibuang bila masih sayang pada lidah sendiri. Tak perlu dalam merogoh saku, dijamin beroleh beragam menu ala China yang lumayan lezat. Ada mi goreng, cah kangkung dan belasan varian masakan mi lainnya.

Bestik daging sapinya juga yahud, tak kalah dengan sajian Harjo Bestik. 

Saya tambahkan kata ‘lumayan’ karena kokinya sudah bukan lagi Pak Yono. Beliau ‘pensiun’ sejak setahun silam, dan digantikan anaknya, yang (saya tahu) sudah bertahun-tahun magang ‘asisten’. Karena itu, nyaris tak ada selisih rasa di antara keduanya. 

Warungnya tak seberapa luas. Bangku yang ada hanya cukup untuk sekitar 11 orang. Meski jarang menjumpai antrian, tapi yakinlah itu bukan pertanda warung itu tak laku. Bagi para pelanggan, rata-rata sudah saling ‘kenal wajah’ meski tak pernah saling tahu nama masing-masing.  

12 thoughts on “Lezatnya Kuetiau Pak Yono

  1. wah lihat tulisanmu ini membuat aku aku kembali ke memori masa kecil…

    dulu aku tinggal di dekat warung itu

    kalo malem jam 3 pagi, ato sekitar jam segitu sering lapar habis belajar

    tinggal jalan kaki bentar udah sampe…

    menu favoritku di situ “nasi goreng pagelaran’

    aku nggak tau knapa pas aku kecil bisa ngasih nama kayak gitu…

    hehehe

    semacam nasi mawut gitu dech…

    thanks ya…

    i appreciate your web

    that’s nice

  2. Nek istilah Jowone, nek wayah bengi kuwi nggowo howo pantes.
    Lha peteng-peteng, tetep wae pantes.
    Contone, wong wedok (mbok koyo opo dandane/rupane)nek bengi ketok pantes.
    Opo maneh muk tembok pating clemot, mesti ketok cling.
    Yo ora thang?

    salam pantes,

  3. izzy

    masakan-nya memang enak, cuma tempatnya kelihatan kumuh , terutama tembok tempat kaki lima itu nyandar.

    blonty: Kumuh tidak kumuh itu tergantung referensi masing-masing, Mas Mail. Yang penting, selama perkakas masaknya bagus dan menjaga higiene serta tempatnya bersih dan tak banyak lalat, rasanya tempat itu sudah memadai untuk dikunjungi. Salam.

  4. -ichwan-

    Wuiihh… nyenengkeh.. Dadi kelakon tenan duwe blog khusus jajan jalanan. Sukses mas Blo..Dasar uripe ne ndalan, dadi ngerti thok-kliwere dhaharan Sala. Makin hari makin bervariasi aja menunya.. Kapan sedia tulisan “sate kere” mas?? Ditunggu info lanjutannya, salam”

  5. Epi Tamala

    Wah, tulisan ini ngga hanya membangkitkan lidah untuk bermanja-manja, tapi juga lidah nostalgia yang menjilat-jilat membara kembali….ah, masa lalu memang selalu aktual 🙂

Leave a Reply