Suasana Baru Tirtonadi

Surakarta terus berbenah. Terminal Tirtonadi juga kian ramah. Tak seperti kebanyakan terminal bus di berbagai kota, lingkungan Tirtonadi kian padhang. Bukan semata terang oleh gemerlap lampu, tapi juga padhang lantaran tak ada preman dan perempuan malam berkeliaran.

Di dalam terminal, pengasong dan pengamen terus ditertibkan sejak beberapa tahun terakhir. Turun dari bus malam pada tengah malam, pun kian nyaman. Tak perlu takut atau cemas diganggu orang-orang berniat merampas. 

tirtonadi 

Ijinkan, saya mengajak Anda memberikan apresiasi yang sepadan kepada Walikota Joko Widodo. Cita-citanya mewujudkan Sala sebagai kota dagang dan pelesiran yang nyaman, terus diupayakan. Taman kota terus bermunculan. Tak hanya di jalan-jalan protokol, di daerah pinggiran dan perkampungan pun, kini banyak ruang-ruang hijau. 

Simak saja bagaimana ia menata terminal sejak setahunan silam. Di seberang terminal, sebuah taman kota sudah selesai ditata. Tinggal menunggu pohon-pohon palem menghijau, juga rumput dan taman bunga. Pada sore dan malam, kini ramai dikunjungi warga. 

Penerangan ditata sedemikian rupa, sehingga bangku-bangku beton nyaris terisi manusia menikmati pemandangan. Bantaran yang dulu kumuh oleh bedeng-bedeng liar, kini bersih total. Taksi resmi, taksi gelap dan ojek dipindahkan lokasi mangkalnya. 

Rencananya, sungai di samping taman juga akan ditata. ‘Pulau-pulau’ yang kini rimbun oleh rerumputan liar akan dibersihkan. Kabarnya pula, akan segera didatangkan sejumlah perahu untuk wisata air. Sungai dengan dam kecil yang pada masa kolonial Belanda dulu pernah populer dengan sebutan Praon, rupanya akan dihidupkan kembali.

Praon, yakni tempat bersampan, kini hanya dikenali generasi kelahiran tujuhpuluhan pada jejaknya semata: menjadi nama kampung di utara kali. Bila obyek wisata air terwujud kelak, orang-orang tak akan lagi kesulitan mengingat asal-usul nama kampung di sana. Warga sekitar (juga para pelancong) bisa menikmati bersampan atau naik perahu kecil berputar-putar di kali selebar 50-an meter itu. 

Karena terobsesi menjadikan Sala sebagai kota tujuan pelesiran dan belanja seperti kota-kota di Singapura, ijinkan saya menyebut kawasan kali itu seperti River Point di Singapura. Bedanya, di Tirtonadi tak ada perahu-perahu pesiar yang bisa mengantar penumpangnya dari dermaga-dermaga yang menyatu dengan hotel. 

Asal tahu saja, di Sala, belum ada hotel berbintang yang sengaja didirikan di pinggir kali.

7 thoughts on “Suasana Baru Tirtonadi

Leave a Reply