Ceker itu Enak, Jenderal!

Ceker adalah cakar, sebutan untuk kaki unggas. Bagian tubuh unggas terbawah ini naik daun seiring popularitas Gudeg Margoyudan, tepatnya di Jl. Monginsidi, timur proliman (simpang lima) Banjarsari.

Meski jualan aslinya nasi gudeg dengan lauk telur rebus, tahu dan daging ayam dan bubur sambal goreng, namun publik luas memberi julukan Gudeg Ceker Margoyudan, milik Bu Kasno. Mungkin lantaran banyak orang memilih menyantap kaki ayam, yang laris manis di situ.

cekergudeg

Tenda warung baru dibentangkan setelah pukul 1 dinihari, pengunjung tetap saja mengantri. Pada jam-jam awal, kebanyakan diramaikan oleh kehadiran sekelompok orang, sekeluarga atau bersama rekan dan kenalan.

Namun, dua jam sejak dibuka hingga subuh, seiring dengan mulai tutupnya tempat-tempat hiburan malam, karakteristik pengunjung pun berganti. Kali ini, giliran pengelana malam mendominasi. Stamina harus dijaga, perut tak boleh berbunyi seperti suasana di rumah-rumah musik dan kamar-kamar karaoke.

Kelompok lain, yakni orang kebanyakan pun mulai berdatangan sekitar pukul 5. Ada yang sengaja membeli menu sarapan pagi, ada pula yang santap di tempat setelah lelah berolah raga. Yang jelas, semua lapisan masyarakat ada dalam daftar pelanggan.

Gus Dur, misalnya, termasuk orang yang selalu minta diantar jajan di warung itu setiap singgah di Solo. Sedang pada hari terang, mantan presiden itu memilih rumah makan Adem Ayem untuk makan bersama kolega dan komunitasnya.

Saya punya pengalaman khusus di warung itu. Belasan tahun silam, bersama teman main saya: Wisnu dan Rudi, kami sedang asyik makan ketika serombongan kecil tiba sesaat setelah kami. Rupanya, mereka pejabat Departemen Penerangan bersama sejumlah pejabat lokal dan propinsi.

Rudi, teman saya yang agak urakan langsung menyapa. “Lho, Pak, kok di sini. Kok tidak naik gajah?”

Orang yang disapa tersenyum. Lalu terjadilah dialog sambil cengengesan antara kami dengan lelaki paruh baya itu. Saya diam karena sudah masuk wilayah sepakbola, cabang olahraga yang tak kumengerti itu. Wisnu dan Rudilah yang banyak ngobrol dengan lelaki itu.

Sambil mengingat-ingat, sampailah pada memori lamaku. Dialah IGK Manila, pensiunan jenderal tentara yang ngurusi olahraga dan nyangkut di Departemen Penerangan. Di tengah perbincangan, Pak Manila menanyakan siapa kami. Rudi menyergah tangkas, “Mahasiswa Universitas Sebelas Maret, Pak!”

Saya tertawa kecil. Mestinya, kami sudah tak pantas mengaku mahasiswa. Status itu sudah kadaluwarsa setahun. Pak Manila lantas membayar semua makanan, termasuk yang kami santap.

Saat pamit pergi, ia menggamit Rudi. “Ini!” kata Pak Manila.

Kepada kami, Rudi pamer lembaran biru bergambar Soeharto. Lalu, masuklah babak berikutnya, yakni cara membagi duit lima puluh ribu itu untuk bertiga.

Pasare bubar, kerene gelut! (meminjam kalimat pelawak Junaedi, setelah pasarnya tutup, kerenya berantem)

6 thoughts on “Ceker itu Enak, Jenderal!

  1. wixxnu

    ono sing keri Thang.
    .. setelah selesai membagi uang 50 000an, Bonthank pergi ke warung Wignyo utk beli gula teh, persediaan kos kosan….. tepatnya nyang kempitik (nyucukake)

    nah kuwi lagi pepak

Leave a Reply