Kuburan itu……………….

Kuburan, bagi saya, bukan semata tempat jasad dipendam, tempat ruh menanti proses penimbangan dosa dan amal baik. Kuburan juga merupakan cermin maya bagi mereka yang masih berpijak pada tanah. Bagi pendosa seperti saya, melintas di dekat kuburan bisa menggelorakan rasa takut, meski bagi kaum sufi seperti Jalaludin Rumi, kematian justru merupakan peristiwa yang sangat dinanti.

Pernah pada suatu masa, saya menyukai rumah sakit dan kuburan sebagai tempat pelarian. Ketika kalut mendera atau sedih sedang singgah, saya selalu segera memacu sepeda motor ke dua tempat itu. Melihat orang berduka di lorong rumah sakit, sudah cukup menawarkan hati yang risau. Begitu pula saat mengunjungi kuburan –apalagi pada malam hari, rasa takut segera menyergap sehingga ketenangan kembali datang.

Tapi itu hanyalah cerita masa lalu. Kini, ketika menjumpai kuburan, ingatan yang melintas hampir selalu didominasi oleh tangisan pilu ditingkah deru buldozer. Kuburan segera berubah jadi gedung pencakar langit atau pusat perbelanjaan. Kadang, hati terusik pada cekcok tak perlu karena berziarah dicurigai sebagai perilaku syirik, menyekutukan Tuhan. Berkunjung ke kuburan dianggap meminta sesuatu dari yang mati.

Kuburan, dengan kacamata apapun kita melihatnya, bagi saya tetap sesuatu yang menarik. Mungkin sama tertariknya dengan Arbain Rambey, meski wartawan KOMPAS itu lebih menyukai kuburan tua sebagai subyek fotonya.

Di Jawa pedalaman seperti Surakarta dan sekitarnya, misalnya, sebagian besar masyarakatnya masih mengagungkan hubungan dengan leluhurnya, bahkan hingga sekian generasi di atasnya. Ritual nyadran adalah salah satunya. Dalam tradisi ini, orang berduyun-duyun ke pusara leluhur dan kerabat untuk mendoakan arwahnya. Ada yang dengan membaca surat Yasin dan tahlil bagi sebagian umat Islam, ada pula yang mendoakan dengan keyakinan agamanya sendiri-sendiri.

Kuburan memang hanya sebuah nisan atau gundukan tanah yang diberi tanda. Tapi derajad penghormatannya bisa beraneka rupa. Ada yang dibuat rumah-rumahan sederhana, ada yang dikelilingi tirai putih seperti makam para wali, ada pula yang dikitari lantai marmer yang mewah dengan bangunan mewah berbahan kayu jati tebal berukir seperti makam keluarga Soeharto di Giribangun.

Namun, ada pula pemakaman yang sederhana seperti yang saya jumpai di sebuah desa di Jepara. Di atas sebidang tanah tak seberapa luas, saya hanya menjumpai sedikit makam bernisan. Selebihnya, hanya kayu-kayu penanda yang ‘ditanam’ pada tanah yang nyaris datar. Pada setiap Kamis menjelang senja, bergiliran orang datang membaca doa. Di tepian kuburan, terdapat puluhan dingklik, semacam bangku kecil untuk duduk seraya berdoa, yang memakan waktu rata-rata 30 menit pada setiap makam yang dikunjungi.

Saya hanya bisa menebak-nebak, jangan-jangan bentuk kuburan itu merupakan kompromi kaum muslim di sana. Ada puritanisme yang harus diperjuangkan, yakni untuk tidak mengotori makam leluhur dengan nisan yang dipersepsikan sebagai peninggalan kebudayaan animisme-dinamisme, namun tetap datang berziarah dengan membacakan surat Yasin dan mengumandangkan tahlil sebagai pengamalan ajaran Islam tradisional sebagaimana dibawa Wali Songo.

One thought on “Kuburan itu……………….

  1. ra komentar sik… gambare dho ra ketok kang!

    iki ya nganyelake. impor saka blogsome, ora katutan gambar. piye carane, ya? komentar-komentar neng posting lawas juga ora katut je…
    /blt/

Leave a Reply