SIEM, Murtidjono dan Saya

Beberapa posting saya mengenai SIEM menuai tanggapan beragam. Ada yang mengancam saya, ada pula yang mendiskreditkan saya seperti dilakukan orang yang mengaku bernama Wahyu Indrawan, juga mengaku bernama Murtidjono. Tak apa. Itu bagian dari beda pendapat, juga kritik kepada saya.

Tapi, saya adalah saya. Sikap saya tak akan terpengaruh oleh hal-hal demikian. Berani membuat pernyataan terbuka melalui blog pribadi jelas mengandung konsekwensi keberanian pula menghadapi tanggapan, kritik, juga reaksi berlebihan. Yang saya sayangkan justru ketidakjujuran penanggap di beberapa tulisan saya, termasuk yang mengatasnamakan diri bernama Murtidjono. Itu sama saja dengan sikap tukang fitnah, yang tak berani menunjukkan jati diri, namun hanya kasak-kusuk di belakang.

Saya tahu persis siapa Pak Murti. Karena itu, tak mungkin seorang Murtidjono akan membuat tanggapan semacam itu atas sikap saya terhadap SIEM . Kalaupun tidak setuju dengan pernyataan saya, saya juga sudah paham bagaimana cara Pak Murti merespon, termasuk kalimat seperti apa yang akan digunakannya untuk menegur saya. Orang yang mengaku bernama Murtidjono dan Wahyu Indrawan, saya yakin merupakan orang yang sama, yakni si kerdil yang tak berani menunjukkan jati dirinya secara terbuka.

Saudara Wahyu, perlu Anda tahu bahwa saya menyaksikan acara itu dari awal hingga akhir, tidak seperti Anda yang mengaku melihat pada hari ke-4 dan kelima, namun sanggup menghitung total penonton sejak hari pertama. Anda telah bertindak inkonsisten. Sebaliknya saya, yang sudah tidak percaya pada materi penampil SIEM, justru menonton terus dari awal hingga akhir. Sebab, saya merasa tidak fair kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, namun membuat penilaian.

Tuduhan Anda bahwa saya sok-sokan dan sebagainya, biarlah itu jadi catatan saya. Mungkin selama ini saya tidak bisa berperilaku seperti layaknya ‘wartawan’ lain yang lebih suka mundhuk-mundhuk terhadap siapa saja, terutama narasumber. Soal bagaimana membawa diri saat menjalankan tugas jurnalistik, biarlah narasumber sendiri yang menilai saya. Toh, kalau memang saya tak sopan, pasti sang narasuber akan menggunakan haknya untuk menolak kehadiran saya, bahkan mengusirnya sejak awal kedatangan bila perlu….. Emang gue pikirin?!? Hehehehe…..

Saya jadi curiga, jangan-jangan Anda bersikap seperti itu karena kepentingan Anda sedang terganggu? Siapa tahu, Anda termasuk anggota barisan pencari proyek ke Balaikota dengan dalih kerja kesenian/kebudayaan?!? Percayalah, kalau demikian adanya, selama kegiatan itu bermanfaat untuk orang banyak, pasti akan saya dukung. Biarkan saya menggunakan hak saya untuk menyampaikan kritik secara terbuka melalui blog pribadi ini.

OK?

Untuk Murtidjono palsu dan Wahyu Indrawan (yang saya yakin orangnya sama), mari kita renungkan dengan kepala dingin dan hati tenang… Semoga pada tahun-tahun mendatang, bisa muncul event yang lebih tertata dan memiliki manfaat bagi banyak pihak, tidak hanya untuk seniman semata-mata, namun juga publik dan masa depan kebudayaan serta dunia pariwisata Kota Surakarta.

Maaf kalau tulisan-tulisan saya telah mengganggu pikiran dan emosi Anda. Semoga kemarahan Anda tidak berlebihan sehingga penyakit gula dan hipertensi tidak lekas hinggap pada tubuh Anda. Amin.

Untuk melihat tanggapan-tanggapan Wahyu Indrawan dan Murtidjono Palsu, silakan buka link-link berikut:
SIEM

SIEM, Festival Musik nonKomponis
SIEM, Festival Musik Asal-asalan
Keunikan (Seniman) Surakarta

Leave a Reply