Musim Tak Lagi Berjanji

Pemanasan global membuat kemiskinan kian menjamur. Di Juwangi, Boyolali, mayoritas petani ladang memperoleh penghasilan kurang dari Rp 100 ribu dalam satu musim tanam jagung. Sebuah penghasilan yang sangat tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan minimal empat jiwa dalam satu sekeluarga. Jauh dari indikator kemiskinan versi World Bank yang besarnya US$ 1 perhari. Berikut potret sekilas kehidupan mereka.

Jerukan, Pilangrejo dan Kayen hanyalah noktah kecil dalam sebuah peta besar bernama Indonesia. Sangat tak tampak, namun cukup memberi gambaran betapa kerakusan orang-orang kaya di kota –bahkan di luar Indonesia- memberi kontribusi pada keabadian kemiskinan mereka.

Mereka tak tahu apa itu global warming. Kalaupun pernah mendengar climate change, paling juga tak paham maksudnya. Bukan meremehkan mereka, tapi begitulah realitasnya, karena rata-rata pendidikan di sana hanya sampai setingkat SMP. “Bagaimana mungkin kami menyekolahkan anak-anak kami sampai SLTA kalau biaya transportasinya saja sudah Rp 10 ribu?” tutur Purwadi, seorang warga Kayen.

Satu hal yang mereka tahu dan rasakan hanyalah musim tak pernah lagi mau berjanji. Pranotomongso tak lagi bisa dijadikan patokan bercocok tanam. Warisan leluhur itu hanya relevan hingga sepuluh tahun silam, ketika kertas tisu sudah menjadi produk murahan yang selalu ada di setiap ruang kehidupan kaum kaya: di toilet, ruang makan, ruang tamu, tas hingga mobil, hingga warung tegal di sudut-sudut jalan perkotaan.

Teriakan para aktivis lingkungan agar pembabatan hutan dihentikan, tak pernah digubris. Yang terjadi justru sebaliknya, kongkalikong penguasa-pengusaha mencukur hutan secara semena-mena, tanpa mau tahu tindakan itu merusak lapisan ozon, filter alami yang menyelamatkan penghuni bumi.

Sejujurnya, saya curiga. Program bersama ratusan negara di bawah PBB seperti tertuang dalam Millenium Development Goals hanyalah akal-akalan pemimpin negara-negara kaya di Utara. Pengurangan jumlah penduduk miskin, perhatian pada perluasan akses air bersih bagi penduduk miskin dan sebagainya hanyalah lips service semata.

Kehidupan penduduk Juwangi hanyalah potret kecil kegagalan negara dan badan-badan kemanusiaan dunia mengurangi ketimpangan Utara-Selatan. Mana mungkin seseorang bisa hidup sehat bila saat tidur saja harus bersanding dengan kambing-kambing mereka? Bagaimana pertumbuhan anak-anak di sana bisa maksimal ketika untuk makan dan minum saja harus menyaring air sungai yang hanya tersedia seusai musim hujan yang tak seberapa lama?

Konon, 60 tahun mendatang, permukaan laut di utara Jakarta bakal naik 10 meter sehingga sebagian Jakarta sudah tertelan samudera. Kuningan sudah tak lagi ada. Pada kurun waktu yang sama, kabarnya London juga sudah tenggelam akibat perubahan iklim dan mencairnya es di kutub utara. Jangan-jangan, Konferensi Perubahan Iklim di Bali, Desember mendatang, juga tak terselenggara manakala London tak terancam hilang dari peta dunia. Wallahu a’lam

2 thoughts on “Musim Tak Lagi Berjanji

  1. Memang sudah Global worry, dan konferensi perubahan iklim di bali adalah ceremonial belaka bagi indonesia… jangan2 indonesia di konferensi itu juga gak mudeng??? mbuhlah!

Leave a Reply