Karya Foto, Jenang dan Jeneng

Seorang teman menawarkan kepada saya untuk menulis sekaligus membuat foto untuk tabloid dimana dia menjadi salah satu editornya. Dia menyebut besaran honor tapi saya tak menggubrisnya. Saya hanya ingin ada credit tittle, nama saya di samping foto. Itu yang utama sebagai penghargaan atas sebuah karya cipta. Property right, bahasa kerennya.

Bukan hanya setuju, rupanya usulan saya itu mengubah kebijakan medianya. Pada terbitan edisi setelah kami berbincang lewat telepon itu, usulan saya sudah berbuah kenyataan. Kredit foto tidak lagi dicantumkan inisial si pemotret, lebih dari itu, sudah berupa nama lengkap. Terkesan radikal, namun begitulah yang seharusnya. Saya salut. Juga bangga.

Kepada teman itu, saya menggunakan argumen sederhana yang saya ambil dari idiom Jawa. Kalau seseorang bekerja, sudah semestinya ia memperoleh jeneng (nama) dan jenang (makanan) sekaligus. Namun, kalau tak dapat memberi jenang, jeneng-lah yang minimal bisa diperoleh si pekerja. Dalam bahasa manajemen modern, hal ini dinamai reward. Dan reward, tak harus berwujud materi.

Beberapa pekan berselang, saya mengalami celaka kecil. Sebuah foto yang saya kirim untuk sebuah majalah, dimuat dengan kredit yang salah. Nama saya digantikan sebuah nama kantor berita. Tapi tak apa, mungkin itu kesalahan orang di bagian pracetak.

Permintaan maaf sudah saya terima melalui sebuah pesan singkat, meski sang pengirim tidak dalam kapasitas meminta maaf. Ini semua, murni karena perkawanan. Saya bisa menerima dan menghargai itikad baik berupa pengakuan kesalahan itu. Di luar itu, saya merasa memiliki hubungan personal yang baik dengan banyak orang di majalah itu. Secara subyektif, saya bisa mengerti kekhilafan bisa terjadi pada siapapun dalam sebuah mata rantai produksi yang memang sangat rumit itu.

Yang mengenaskan, saya pernah bersengketa dengan redaksi media massa. Selama sekitar tiga tahun (mungkin lebih), foto karya saya dipakai untuk ‘menghias’ salah satu halaman media itu. Hampir pasti, sepekan sekali, kejadian berulang: foto dimuat tanpa mencantumkan nama saya. Saya sempat memboikot selama setahun, dan tidak pernah mengijinkan karya foto saya diminta.

Boikot itu saya lakukan karena berulangkali saya protes secara lisan kepada beberapa reporter yang biasa meminta foto kepada saya untuk melengkapi tulisannya. Setiap meminta, saya kembali bertanya. Jawabnya selalu nyaris sama. Intinya, memang begitulah kebijakan redaksi media itu. Tak menuliskan nama kreatornya untuk kredit foto.

Beruntung, ketika itu Indonesia meratifikasi konvensi mengenai hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Somasi saya dijawab dengan keputusan radikal media itu. Caranya, media itu mencatumkan nama lengkap sang fotografer di samping foto-foto yang dimuatnya.

Mengingat tiga peristiwa yang saya alami itu, sungguh senang di hati. Ternyata, meski secara tidak langsung, apa yang saya kemukakan masih ada yang mendengar dan dijadikan bahan untuk mencoba memperbaiki kesalahan. Saya yakin, soal karya cipta (termasuk fotografi) memang bukan semata-mata urusan jenang dan jeneng.

Leave a Reply