Kenangan Tragedi Mei

Hari-hari ini, sembilan tahun silam, merupakan hari-hari aneh bagi saya. Belasan, mungkin puluhan anak-anak berusia belasan tahun, rajin mendatangi warung internet. Dari pagi hingga malam, bahkan hingga sepekan lebih, silih berganti tiada henti. Tak banyak yang mereka kerjakan kecuali membaca dan menulis surat. Selain buru-buru, kebanyakan mereka tak terlalu melek teknologi, sehingga semua rekaman surat-menyurat mereka tinggalkan di program Eudora atau Telnet (Outlook belum populer saat itu). Kalaupun Inbox sudah kosong, saya bisa membacanya di Sent Items atau folder lain yang tak sempat dihapusnya.

Tema pembicaraan mereka seragam. Semua menanyakan prosedur dan cara memperoleh status permanent resident. Singapura, Australia, Hongkong dan Amerika merupakan negara favorit dalam diskusi mereka. Soal biaya, bukan persoalan lagi bagi mereka. Dan, bukan lantaran mereka berkulit putih dan bermata sipit yang sering diposisikan dengan stereotyping kaya, lantas tidak sensitif akan biaya. Bukan. Sama sekali bukan, meski kebanyakan berasal dari keluarga pengusaha.

Permanent resident yang mereka diskusikan adalah sebuah harapan, sebuah masa depan. Dan, harapan atau masa adalah hak. Hak untuk hidup layak, hak atas keamanan, pendidikan dan semua hak asasi manusia, yang bukan hanya dijamin melalui Deklarasi HAM Perserikatan Bangsa-bangsa dan Undang-undang Dasar 1945. Lebih dari itu, hak yang sudah dijanjikan oleh Allah, pemilik hidup dan kehidupan dan pencipta alam raya.

Karena hak dan keinginan untuk tetap survive itulah mereka membaca dan menulis. Beruntung, di Surakarta sudah ada warnet yang menyatu dengan kantor Indo.Net, satu-satunya internet provider saat itu. Saya tidak membayangkan berapa biaya yang harus mereka keluarkan jika harus menelpon teman-temannya yang berada di luar negeri setiap saat, ‘hanya’untuk tahu seluk-beluk permanent resident.

Harapan hidup sudah nyaris hilang, bahkan di tanah kelahiran mereka sendiri. Ratusan rumah dan tempat usaha keluarga mereka luluh lantak dibakar massa. Kalaupun tak dibakar oleh amarah, harta merekalah yang dijarah. Dan kita tahu, peristiwa pembakaran dan penjarahan seperti sudah terjadwal. Hanya dua hari saja, pada 14-15 Mei 1998, massa mengamuk bagai kesetanan. Warga keturunan China (tapi mereka lebih suka menyebut diri sebagai keturunan Tionghoa, karena kata China identik dengan komunis akibat stigma Orde Baru) dijadikan sasaran bulan-bulanan.

***

Yang tak kalah anehnya, bagi saya, adalah cepatnya suasana berubah. Warga keturunan itu sudah banyak yang keluar rumah tanpa ada yang mengganggu. Seolah-olah, membakar dan menjarah hanyalah ritual sesaat pada hari keramat. Tak ada lagi ‘kejahatan’ yang dipertontonkan kaum ‘pribumi’ kepada saudaranya sendiri, yang oleh jaringan birokrasi dan kekuasaan ketika itu disebut sebagai ‘non-pribumi’.

Nalar saya menuntun pada sebuah pemahaman awam: kalau kemarin mengganggu mereka karena dendam, kenapa sekarang tidak? Belakangan, setelah hampir sepekan, saya baru memperoleh jawaban. Kasak-kusuk yang berseliweran menyebutkan, pembakaran dan penjarahan terjadi karena ada yang memberi komando, ada yang melakukan provokasi. Ibarat preman sewaan, mereka akan berhenti bekerja kalau jangka kontraknya sudah habis. Bisa jadi, sebab hanya disewa dua hari, ya mereka tak lagi mengajak orang untuk marah dan mengamuk pada hari ketiga dan seterusnya……

Seperti mengesankan paham akan prinsip ‘keadilan’, sang desainer kerusuhan melebarkan wilayah kecemasan. Isu demi isu diembuskan, bahwa ada segerombolan warga (entah dari mana) akan kembali menyerang. Lalu, seperti dikomando, warga ‘pribumi’ yang mulai merasakan kesulitan memperoleh sembako, membuat barikade di mulut-mulut gang. Mereka berjaga bergiliran sambil pelan-pelan membangun portal permanen. Tak mudah lewat jalan-jalan kampung, karena di luar warga mereka, setiap pelintas adalah ‘orang asing’ yang harus ditelisik identitas dan tujuan kepergiannya.

Impas?

Begitulah kesan yang hendak dibangun kemudian. Seolah-olah, bukan ‘non-pribumi’ saja yang menderita.

Kini, keadaan kian membaik. Anak-anak yang dulunya lari ke luar negeri karena fasilitas permanent resident, kini sudah kembali. Ada yang meneruskan usaha keluarga, ada pula yang masih membersihkan puing-puing masa lalu. Manekin (yang dulu dijarah) dari toko-toko pakaian sudah tak lagi berserakan di kampung para pemulung. Tak tampak dendam mereka kepada kaum ‘pribumi’ yang pernah membuatnya sengsara.

Namun, masih ada satu monumen yang tersisa, yang selalu mengingatkan saya akan masa-masa pahit, kenangan akan kebiadaban bangsa yang dipertontonkan secara kasat mata ke seluruh penjuru dunia. Saya ingin, tak ada lagi portal dipasang di mulut-mulut gang perkampungan. Sebab portal, bagi saya sama saja dengan ‘Litsus’ dan ‘Screening’, dua instrumen kekuasaan masa lalu yang seperti hantu.

One thought on “Kenangan Tragedi Mei

  1. Sekarang di mana-mana mainannya portal, Pak. Di tempat saya, di sebuah gang kecil di perumnas, pada akhirnya dibuat portal yang berfungsi saat hujan deras dan banjir. Karena jika tidak ada portal, banyak orang melintasi gang tempat saya tinggal sebagai jalan pintas, dengan kecepatan kendaraan yang nggak kira-kira, membuat air banjir yang seharusnya hanya di jalan jadi masuk ke rumah.

Leave a Reply