Menikmati Hari-hari Balet Dedu


Saya belum mengenal Dedu. Setidaknya sampai aku menyaksikan pertunjukan balet Kemarin, hari ini….. dan esok? di Taman Budaya Surakarta, Kamis (10/5) malam. Asyik. Juga segar. Koreografi Dedu juga menghadirkan banyak kejutan. Setidaknya, itulah pengalaman yang saya rasakan. Barangkali tertarik menyaksikan, Anda masih punya kesempatan. Malam nanti merupakan malam terakhir untuk pergelaran dua malam itu.

Bahwa visualisasi karyanya terasa sangat dipengaruhi gaya Wied Sendjayani, sangat bisa dimengerti. Dedu termasuk murid (dari segelintir orang) pada angkatan pertama Mbak Wied di Sanggar Maniratari. Karena itu, saat seorang teman mengomentari pertunjukan itu dengan menyebut ‘sangat Mbak Wied’, saya memilih membela Dedu.

 Saya menyampaikan apologi permisif: karena pertama kali mengenal balet saat nyantrik pada Mbak Wied, maka wajar saja kalau keterpengaruhan itu terasa mewarnai. Apalagi, Kemarin, hari ini….. dan esok? merupakan karya perdana Dedu, sehingga tidak menutup kemungkinan perubahan baru akan tampak pada karya-karya selanjutnya.

Kalaupun ada ‘sisa-sisa’gaya pada karya mendatang pun, bisa saja dikategorikan pada batas kewajaran. Keterpengaruhan itu wajar. Pengidolaan terhadap seseorang yang ditokohkan (biasanya karena kekaguman) tak terasa mengendap sehingga akan menjadi potensi laten yang akan muncul pada suatu ketika. Mugiyono, Bambang ‘Besur’ Suryono dan Fajar Satriadi adalah contoh koreografer Surakarta yang banyak dipengaruhi oleh Sardono W Kusumo. Di Jakarta, Boi G Sakti juga cukup mempengaruhi garapan beberapa koreografer muda.

Sebagai murid Mbak Wied, Dedu termasuk terlambat berkarya. Siko Setyanto, generasi kedua di Sanggar Maniratari bisa disebut lebih berani berkarya dibanding seniornya itu. Bahkan penampilan solo Siko dalam forum emerging choreographers dalam forum Indonesian Dance Festival, memperoleh apresiasi yang bagus dari penonton.

Meski tak terlalu bagus, Kemarin, hari ini….. dan esok? juga tak bisa dibilang jelek. Garapannya bersih (boleh jadi) lantaran didukung materi penari yang cakap dan menguasai teknik, dari teman-temannya satu sanggar. Pertunjukannya jenaka, enak dinikmati, namun tak kehilangan esensi.

Kejutan, misalnya, muncul ketika para penari yang berlarian kesana-kemari, dan meluncur di lantai panggung dengan speed tinggi. Banyak penonton di barisan terdepan kaget, kuatir tertabrak.

Rupanya, semua gerakan sudah terukur. Selamat berkarya untuk Dedu. Jangan ragu dalam mencari jatidiri, meski tak perlu meninggalkan Mbak Wied Sendjayani.

Leave a Reply