Problematika Penciptaan Tari

Kalau Anda penikmat seni pertunjukan –khususnya seni tari, mungkin Anda akan memiliki kerisauan seperti yang saya rasakan. Baru mau menonton, kita sudah disuguhi sinopsis yang menggelikan. Sebagian akan memaklumi dan memaafkan karena terlalu biasa membaca ‘pengantar’ pada katalog.

Pertunjukan Membaca Ruang Batu karya Eko Supendi, Surakarta.

Tapi, bagi penonton ‘pemula’ alias orang awam, tak jarang sinopsis justru akan menyesatkan. Setidaknya, mereka bakal dibuat berkerut kening karena imajinasi yang terbangun seusai membaca sinopsis pada buklet bisa jauh meleset dengan kenyataan. Artinya, pertunjukan bisa saja lebih bagus atau sebaliknya.

Meski demikian, ketidaksesuaian sinopsis dengan bentuk garapan merupakan hal yang akan mudah terlupakan. Bahkan dengan amat segera. Kerisauan justru meningkat pada stadium lebih tinggi seiring meningkatnya kuantitas menonton dan kualitas ‘penghayatan’. Bila kebetulan berada pada tataran ini, percayalah, Anda akan dibuat semakin cemas. (Tentu saja, asal tak terlalu berharap banyak, Anda tak akan mengalami kecemasan yang kronis)

Saya berani menyebut demikian lantaran sering menjumpai ‘penyakit’ yang diderita sebagian (besar?) koreografer kita: kecenderungan pamer teknik dan penggunaan vokabuler gerak yang hanpir sama.

Saya tidak menafikan bahwa pergaulan bisa saja menimbulkan keterpengaruhan. Namun, akan menjadi tidak wajar manakala keterpengaruhan semacam itu hanya dicomot begitu saja, sehingga sebuah karya koreografi lantas menjadi ajang pamer kepiawaian merangkai seperti halnya teknik kolase dalam pengertian paling sederhana.

Dulu, pada kurun 1990-an, saya sering terlibat (secara tidak langsung) dalam proses penyusunan komposisi tari sejumlah mahasiswa. Akibat intensitas pergaulan yang demikian tinggi saat itu, saya sering digiring pada sikap menyederhanakan persoalan alias nggebyah uyah. Anehnya, tebakan saya jarang meleset: jenis vokabuler gerak dan gaya (karya) mahasiswa itu pasti akan begitu-begitu saja, tergantung selera dosen pembimbingnya.

Alhasil, mahasiswa seperti menjadi obyek alias alat eksperimen sang dosen. Sebagian mahasiswa mengakui hal itu, sehingga tak jarang mereka memilih ‘kompromi’ selera garapan. Kreatifitas menjadi tumpul lantaran dihadapkan pada pilihan sulit. Kebetulan, hanya terdapat dua opsi untuk mencapai gelar sarjana tari (juga cabang seni lainnya): jalur penciptaan dan jalur karya tulis atau skripsi yang berbasis penelitian.

Ironisnya, jalur penciptaan menjadi pilihan favorit. Selain ‘mudah’, prosesnya tak serumit skripsi yang idealnya berbasis penelitian dan riset pustaka. Dan, asal tahu saja, tak banyak mahasiswa seni (tari) yang suka membaca, apalagi riset pustaka dan melakukan penelitian lapangan.

Jalur penciptaan disebut ‘mudah’ lantaran mereka bisa ‘mencipta’ apa saja, termasuk hanya dengan memodifikasi karya-karya yang sudah ada, entah itu dari wayang orang, tari-tari klasik kraton, atau cabang-cabang seni tradisi etnis dari penjuru Nusantara.

Sesungguhnya, tak ada salahnya memilih jalur penciptaan sepanjang memiliki dasar konsep yang kuat dan mendalam, seperti merekonstruksi jenis-jenis tari yang sudah hampir punah, atau menafsir ulang sebuah karya dengan pendekatan kritis, misalnya menguji kesesuaian karya dengan masa atau produk-produk intelektual yang terkait dengan properti karya itu sendiri.

Pertunjukan Rahwana Wirudha karya Samsuri, Surakarta.

Tentu akan sangat menyedihkan bila kelak, khazanah tari yang diwariskan para seniman kita hanya itu-itu saja, yang hanya bisa diwariskan lewat model pengajaran praktis dari guru ke murid. Sudah saatnya, seniman-seniman yang kebetulan menempati posisi sebagai ‘guru’ mulai membangun tradisi baru lewat sinergi model penciptaan dan penelitian. Saya percaya, sejarah, sosiologi, antropologi, bahkan ekonomi dan politik menjadi faktor yang saling mempengaruhi atas lahirnya produk-produk seni pada suatu masa.

Peradaban, menurut hemat saya, tak pernah hadir serta-merta. Ia merupakan penanda atas sebuah kreatifitas sekumpulan manusia yang selalu bersinggungan dengan alam dan makhluk hidup lainnya.

Leave a Reply