Kidung Centhini dan Potret Tari Indonesia


Spanduk dan poster bertebaran di sekitar Taman Budaya Surakarta (TBS) dan kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, sepanjang Maret lalu. Tulisannya mencolok, memancing rasa ingin tahu. Reklame itu mengabarkan, akan ada pementasan tari bertajuk Kidung|40||Centhini pada 30 Maret di TBS. Itulah obat, penawar rindu setelah hampir enam bulan tak menonton pertunjukan tari.

Pertunjukan memang bisa dinikmati, setidaknya hingga 10 menit. Adegan percintaan antara Amongraga (diperankan oleh Ronnarong Khampha, dari Thailand) dan Tambangraras (Ni Kadek Yulia, sekaligus koreografer) lumayan bagus. Tak ada sensualitas yang mencolok namun cukup mengena. Apalagi, pelajaran seks yang mistis-agamis a la Serat Centhini –yang dijadikan rujukan ide garapan– memang tak menghendaki kemunculan ekspresi yang serba saru.

Selepas adegan 10 menit itu, barulah kekacauan mendominasi karya. Hampir 80 menit lamanya, seratusan penonton seperti dibuat bingung. Bukan saja karena visualisasi gagasan yang kian tak jelas, alur cerita pun serasa melompat-lompat. Kadek terkesan terlalu bernafsu untuk menghasilkan karya baru setelah pada 2006 ia absen menghadirkan karya komposisi. Kadek, misalnya, teledor dalam meriset inti pesan yang terkandung dalam Serat Centhini. Siapa, bagaimana dan peran apa sosok Tambangraras dan Amongraga dalam Serat Centhini, lupa dicermatinya. Ia lebih terpesona pada Centhini, sosok abdi setia yang sesungguhnya merupakan representasi penutur dalam kisah hidup Tambangraras-Amongraga.

Bahwa Kadek ingin menghadirkan Centhini sebagai sosok penting dalam kisah itu, memang tak bisa lagi dibantah. Tapi, lagi-lagi, Centhini tak berarti apa-apa tanpa kehadiran kedua majikannya itu. Maka sempurnalah Kadek terperangkap dalam jebakan imajinasinya sendiri. Ia lalu terjebak dalam keasyikan bermain-main dengan efek-efek bayangan yang diperankan oleh sejumlah penari, yang entah mereka sedang memerankan siapa. Anehnya, adegan ini terus berulang, berlangsung lamban, bahkan hampir mendominasi seluruh pertunjukan. Dua kain putih yang terbentang sebagai medium melekatnya bayangan, yang sesungguhnya sangat mengganggu. Pada beberapa adegan (penting), kehadiran kain putih itu malah mematikan ekspresi gagasannya sendiri.

Singkat ceritera, pertunjukan itu boleh dibilang gagal. Bagi Kadek sendiri, karya terbarunya itu justru akan ‘mematikan’ namanya sebagai koreografer. Rencana mementaskan karya itu di Teater Utan Kayu, Jakarta, pada 4-5 Mei mendatang, bisa membalikkan persepsi publik Jakarta, terutama yang pada 2004 lalu pernah menyaksikan pertunjukan Rene-Indahku di Taman Ismail Marzuki. Karya Kadek itu –yang memang bagus, berhasil menyabet koreografi terbaik versi Dewan Kesenian Jakarta.

Tentu saja, saya ingin mengingatkan Anda, untuk tak terjebak visualisasi gerak yang telah saya bekukan lewat beberapa foto di halaman ini.

Sesungguhnya, saya hanya mengkuatirkan talenta yang dimiliki oleh anak-anak muda seperti Kadek. Dalam lima tahun terakhir ini, frekwensi pertunjukan tari bisa dibilang teramat tinggi. Di Jakarta, Bandung dan Surakarta (untuk menyebut beberapa kota yang saya kenal), nyaris setiap dua bulan ada petunjukan karya-karya baru oleh koreografer muda kita. Namun, yang saya rasakan, terlalu banyak karya-karya prematur yang ‘dijajakan’. Tak ada kedalaman gagasan, begitu pula visualisasinya yang nyaris miskin eksplorasi.

Ada kecenderungan kekeliruan memaknai ‘kemudahan’ memperoleh funding yang mendukung pembiayaan proses-proses kreatif bagi seniman seni pertunjukan, terutama tari. Meski memberi kontribusi yang lumayan, khususnya meningkatkan frekwensi pertunjukan, sesungguhnya kehadiran lembaga penyedia dana menjadi buah simalakama. Manisnya duit telah mendorong kompetisi yang kurang sehat, sebab banyak seniman terbius oleh kemudahan berpentas alias unjuk kebolehan. Sedang pada sisi yang lain, para kurator lembaga pendana masih ‘kurang gaul’. Mereka masih enggan keliling daerah untuk mengamati dinamika berkesenian di berbagai daerah. Kurator yang sebenarnya bisa berperan sebagai ‘pencari bakat’ lebih asyik memotret ‘dinamika’ kesenian lewat media massa. (Celakanya, banyak reporter di berbagai daerah tak memiliki kecakapan dan kecukupan referensi seni, sehingga kerja jurnalis lebih tepat disebut sebagai pelapor sekaligus perekam peristiwa semata!)

Pada situasi semacam ini, apa yang bisa diharapkan dari tingginya frekwensi pertunjukan? Sebagai ruang apresiasi? Sulit rasanya menyebut peristiwa kesenian (khususnya tari) kini sebagai ruang apresiasi. Bagi orang yang ‘gemar’ menonton pementasan tari, mungkin cukup setahun saja untuk bisa menyimpulkan, bahwa ada kecenderungan kemandegan eksplorasi gagasan dan visualisasi gerak. Kebanyakan koreografer kita miskin vokabuler gerak. Yang ada hanyalah sistem cut and glue, mengambil dari sana lalu dijahit di sini dengan bumbu stilisasi dan modifikasi seperlunya.

One thought on “Kidung Centhini dan Potret Tari Indonesia

Leave a Reply