Australia Bikin Heboh

Tersungkurnya burung besi jenis Boeing 737-400 bernomor penerbangan GA-200 milik Garuda Indonesia di Yogyakarta, Rabu (7/3) pagi, menghebohkan dunia.
Soal penyebab jatuh dan dampak berupa terbakarnya puluhan penumpang, sudah pasti menjadi sorotan. Tapi, banyaknya penumpang kewarganegaraan Australia-lah yang kemudian membuat peristiwa itu menjadi luar biasa.

Karena itu, tak aneh kalau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera memerintahkan aparat, termasuk intelijen melakukan penyelidikan kemungkinan adanya faktor-faktor nonteknis terhadap peristiwa tersebut. Bisa jadi, itu merupakan langkah diplomatis yang tepat. Maklum, Australia merupakan sekutu Amerika yang selalu bawel akibat paranoid akan kata ‘terorisme’, sementara di pesawat nahas itu terdapat sejumlah orang penting dari Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Di antaranya adalah Brice Steele, Head of Australian Federal Police di Jakarta.

Soal kemungkinan sabotase, bisa saja dimunculkan pemerintah dan masyarakat Australia bila Pemerintah Indonesia dan otoritas penyelidik kecelakaan itu tak sigap bertindak. Apalagi, banyaknya Australian di dalam pesawat itu dalam rangka tugas khusus, yakni mengawal Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer yang akan melakukan penandatanganan semacam kontrak kerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Untung, negeri kita tak tambah runyam, karena tak satu pun pernyataan ‘provokatif’ muncul dari Menteri Downer yang sempat menjenguk para korban, para anggota penyelidik dari Komite Keselamatan Transportasi Australia maupun penyelidik dari Australian Federal Police.

Meski demikian, bukan berarti persoalan penyelidikan kecelakaan serta identifikasi korban menjadi urusan mudah. Tata krama politik mengharuskan penyelidik, khususnya KNKT, harus memberi kesempatan kepada tim khusus dari Australia. Baik untuk penelitian di lapangan maupun penentuan identitas korban.

Khusus mengenai identifikasi korban, seorang anggota tim forensik Indonesia bertutur, dia dan seluruh anggota tim yang tergabung dalam Disaster Victim Identivication (DVI) Indonesia harus nglegani tim negeri jiran. Para penyelidik Australia itu mengulang-ulang proses identifikasi, bahkan menggunakan temuan final tim Indonesia yang sudah bisa memastikan identitas lima korban terbakar asal Australia itu. “Ya mau gimana lagi. Asal mereka marem, kami juga senang,” ujar seorang dokter anggota tim kepada penulis.

Leave a Reply