Pelangi-pelangi, Alangkah…..

Senin (26/2) menyajikan sore yang indah di hadapan saya. Sebuah lengkungan warna-warni menghiasi langit Kota Surakarta. Pelangi sore itu, merupakan pelangi kedua yang menyapaku selama bulan Pebruari. Oh, alangkah indahnya kumpulan tujuh warna yang dibiaskan oleh ‘prisma-prisma air’ ketika cahaya putih matahari menubruknya.

Sudah dua puluh tahun lebih saya tak pernah bersua dengan pelangi. Terakhir, saya melihat pelangi di atas hamparan padi di belakang dusunku, di pedalaman Klaten sana. Kemunculan pelangi pada sore itu menjadi penghiburan buat saya, setelah dipaksa oleh bapak agar saya menyiangi rumput di sela-sela tanaman padi yang belum genap sebulan ditanam. Selama tiga hari, saya harus melakukan kegiatan rutin itu sejak sepulang sekolah, seusai makan siang. Tak boleh tidur siang, begitu pula bermain.

Akan halnya pelangi, yang merupakan spektrum cahaya, bukan saja menghibur pekerja di sawah seperti saya. Guru taman kanak-kanak, bahkan harus melatih dan merangsang imajinasi anak sekaligus menciptakan suasana riang dengan menjadikannya sebagai lagi wajib di sekolah. Para pasangan muda hingga orang tua, pun tidak boleh tidak hafal lagu itu, demi mengungkapkan kecintaannya pada bocah, si buah hati.

Usia beringsut, jatah hidup menyusut. Saya kembali berkenalan dengan pelangi yang diciptakan tokoh musik Ngak-Ngik-Ngok di tanah, Koes Bersaudara. Bila semasa kanak-kanak, syair lagu Pelangi bisa bermanfaat untuk mengenalkan eksistensi Tuhan, Tony Koeswoyo menjadikan pelangi bagai Pak Pos, yakni pengantar pesan (untuk kekasih). Kenapa demikian, sudah jelas karena basis pendukung Koes Bersaudara adalah para remaja dan yang berusia selebihnya, yang naluri seksualnya sudah tumbuh dan berkembang.

Kian menua, pelangi yang saya kenal kian bias, bahkan kelewat ekstrem. Ada istilah Koalisi Pelangi, juga Kabinet Pelangi. Tentu saja, kata bentukan ini sulit dimengerti oleh anak-anak, sebab pelangi yang melekat pada kata koalisi dan kabinet, bukan lagi ciptaan Tuhan. Ia juga bukan lagi penyampai pesan untuk kekasih yang dicintai, melainkan ‘kekasih’ temporer.

Pelangi dalam khazanah politik ini lebih banyak dilatari oleh tujuan-tujuan praktis dan superpragmatis, bahkan hanya oleh segelintir politisi dan partai politik. Meski pada dasarnya merupakan spektrum ‘warna’ yang berasal dari pantulan cahaya putih, tapi mereka bukan lagi sosok putih dan baik. Tentu, ini bukan berarti saya tak percaya kepada janji-janji dan citra putih yang mereka tampilkan. Meski sangat sedikit, saya percaya masih ada sisa ’sinar putih’ dari sekumpulan politisi yang kerap menggelar ’sidang para setan’ itu.

Di tengah bangsa yang majemuk dan berpopulasi besar, pada negeri yang tak lagi bergigi secara ekonomi dan di tengah arus persaingan politik yang mengedepankan perut ini, tentu orang seperti saya hanya bisa berharap pada para pelangiwan/pelangiwati untuk kembali menata diri. Berperilaku dan tampil seperti pelangi yang saya kenal semasa bocah dulu: pelangi yang indah, yang benar-benar ciptaan Tuhan. Bukan pelangi yang suka ngutil uang rakyat dan menggemukkan pundi-pundi keluarga dan kekasih-kekasih gelap mereka.

2 thoughts on “Pelangi-pelangi, Alangkah…..

Leave a Reply