Orangtua Punya Selera

Menyaksikan kejuaraan nasional Motocross 2007 di Surakarta, 24-25 Pebruari kemarin, yang disponsori perusahaan rokok dan Pertamina, saya merinding. Bukan oleh serunya persaingan para crosser, tapi karena melihat banyaknya anak-anak –bahkan ada yang masih berusia 6 tahunan– ‘berpartisipasi’ dalam event semacam itu.

Yang terbayang di benak saya adalah anak-anak yang ingusnya kadang masih belepotan itu menangis meraung-raung karena patah tulang akibat terjatuh saat berusaha adu cepat melompati superbowl. Atau terjatuh saat gagal melewati tikungan tajam yang becek, yang bisa jadi akan membuatnya tertimpa motor yang semula dikendarainya sendiri. Bahwa sebagian besar dari mereka sudah cukup trampil mengemudikan motor, itu soal lain. Maksudnya, saya pancen sengaja mengesampingkannya.

Pemandangan yang menurut saya ganjil, adalah ketika ayah si bocah memegangi motor di garis START, sementara ibunya melihat dari kejauhan dengan mimik optimistis: menguarkan harapan sang anak bakal jadi pembalap hebat. Kelak. Saya mereka-reka, peristiwa demikian pastilah hanya merupakan obsesi orang tua yang dipaksakan kepada si bocah. Dalam hemat saya, anak seusia itu belumlah memiliki referensi memadai untuk berpikir muluk-muluk. Berbeda kalau sang bocah sudah menginjak remaja.

Bagi saya, sirkuit bukanlah arena permainan ketangkasan seperti terserak di mal-mal di hampir seluruh kota. Masih banyak pilihan olahraga prestasi, semisal tenis lapangan atau sepakbola, yang di samping menyehatkan, juga berguna untuk membentuk watak sportif sejak masa kanak-kanak.

Dunia balapan, bagi saya merupakan dunia anak muda dan orang dewasa. Pergaulan di arena semacam itu, justru melahirkan kompetisi negatif, sebab pembicaraan jenis spare-parts dan asesoris balapan yang dipakai akan selalu identik dengan belanja barang, yang tentu tak ada yang berharga murah. Belum lagi naluri kanak-kanak yang masih selalu ingin menonjolkan diri –tanpa tahu baik atau buruknya– sehingga bisa saja sekali waktu mereka mencuri-curi kesempatan mengendarai sepeda motor di jalan raya. Terbayangkah repotnya jadi orang tua kalau kecelakaan menimpa anak-anak mereka? Tak takutkah akan trauma yang bakal membekas dalam diri anak di kemudian hari?!?

Saya ingat cerita teman saya tentang kisah mantan crosser. Pembalap itu memiliki ketrampilan mumpuni, baik mengendarai motor atau mengemudikan mobil. Beberapa kali, kudengar ia pernah berlaga jadi stunt man partikelir: menabrakkan mobil atau menjatuhkannya di jurang demi menggerus pundi-pundi perusahaan asuransi. Sama takutnya saya pada cerita seorang bekas pembalap yang lihai menjadi joki sepeda motor, lalu menggunakan ketrampilannya untuk menjambret atau ’sekadar’ mangambil ‘cacing’ yang melingkar di leher perempuan yang dijumpainya di jalan.

Leave a Reply