“Turuti Semua Keinginannya Selagi Bisa”

Judul di atas saya kutip dari pernyataan dr. Adi Kurniawan Sp.RM, seorang dokter ahli tulang di Surakarta. Kepadanya saya tanyakan tentang perlu tidaknya berpantang pada jenis makanan tertentu bagi penderita osteosarcoma, tumor tulang yang ganas dan mematikan seperti Risma Anggraini.

Menurut Adi, populasi penderita penyakit ini masih sangat sedikit, bahkan di seluruh dunia. Teknologi dan pengetahuan kedokteran juga belum sampai pada penemuan obat yang manjur untuk menghentikan keganasan ‘sarcom’, sebutan popular tumor jenis itu. Karena itu, nyaris tak ada harapan hidup lebih panjang bagi penderitanya.

Ihwal penyakitnya itu dituturkan Risma sendiri. Gadis cilik berusia 13 tahun yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP negeri Cibarusah, Bekasi, itu pertama kali merasakan ada benjolan sebesar biji salak di paha kirinya pada 1 Nopember 2005. “Tak terlihat, tapi sangat terasa kalau diraba,” ujar Risma.

Hingga lima bulan pertam, Risma merasakan nyeri bukan kepalang. Memasuki bulan keenam, ia tak sanggup lagi berjalan. Ia hanya bisa berbaring di rumahnya yang sederhana di kompleks Perumahan Mutiara Blok A-4 nomor 6, Cibarusah. “Belum genap setahun, benjolan itu membesar hingga seberat 27 kilo” tutur Anrias, ayah Risma.

Sebagai karyawan bagian security di perusahaan swasta, Anrias tak memiliki cukup biaya untuk pengobatan anak sulungnya dari dua bersaudara itu. Apalagi, istrinya hanyalah seorang ibu rumah tangga. Akibatnya, penyakit Risma hanya ditangani oleh dokter Puskesmas, tak jauh dari rumahnya.

Harapan kembali hidup normal nyaris hilang dari Risma dan keluarganya. Apalagi, sejak kaki kirinya harus ‘dilepas’ (istilah medisnya hip disarticulation) hingga pada pangkal sendi pinggulnya. “Saya takut tak bisa sekolah lagi,” ujar Risma yang terpaksa cuti setahun lebih.

Adalah Yayasan Maria Monique yang menggalang donatur bagi Risma. Singkat kata, RS Dharmais, Jakarta sanggup melakukan perawatan gratis, termasuk untuk operasi amputasi total itu. Sementara, lastwish, harapan terakhir Risma tentang keinginannya memiliki kaki palsu sebagai pengganti kaki kirinya diwujudkan oleh manajemen RS Orthopaedi dr Soeharso, Surakarta. Sementara untuk keperluan perjalanan dokter, paramedis, dan keluarga Risma ditanggung oleh Garuda Indonesia.

Kini, Risma sudah memperoleh kaki palsu sesuai impiannya. Jumat (26/1) siang, ia datang dari Jakarta untuk melakukan pengepasan (fitting) kaki palsu di RS Orthopaedi. Wajahnya ceria sejak di pesawat yang membawanya dari Jakarta. Ia menyalami pilot dan seluruh petugas rumah sakit dengan senyum optimistis. “Enak. Pertama kali bisa merasakan naik pesawat, saya dikasih kue taart,” ujar Risma.

Seperti nasihat dokter Adi, bahwa orang seperti Risma harus ‘dituruti semua kemauannya selagi bisa” karena tingkat harapan hidupnya yang ‘tak akan lama lagi’, tak ada salahnya saya mengajak teman-teman pembaca tulisan ini untuk membantu meringankan beban orang tua dan keluarganya. Silakan Anda mengirimkan bantuan ke rekening BCA Cabang Jababeka, Cikarang nomor 876 034 6871 atas nama Anrias. Untuk konfirmasi, silakan hubungi ayah Risma di nomor 0852 1652 5067.

Jujur, saya terharu ketika sedang menanti proses fitting di salah satu ruangan rumah sakit itu, Risma mengeluh ketika kepadanya disodorkan nasi kotak untuk makan siangnya. “Gua nggak nafsu, ah,” ujarnya. Rupanya, ia tak suka dengan jenis lauk-pauk kering di kotak kertas warna putih di pangkuannya.

Saya yakin, pernyataan Risma itu bukan semata-mata tak suka akan hidangan ala kadarnya itu. Melainkan, karena ia sadar harus hati-hati mengkonsumsi setiap jenis makanan. Apalagi, sejak ia menjalani kemoterapi rutin, mulutnya harus selalu ditutup dengan masker untuk menghindarkan dari berbagai jenis virus yang bertebaran.

2 thoughts on ““Turuti Semua Keinginannya Selagi Bisa”

Leave a Reply