Si Pongo, Petinju asal Kalimantan

Tori, orangutan penghuni Kebon Binatang Satwa Taru, Jurug, Solo itu mengalami stres sejak ditinggal mati induknya, pada usia 3 tahun. Foto diambil empat tahun silam.Ibu negara Ani Yudhoyono gembira. Di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, 22 November lalu, menerima secara simbolis pengembalian 48 ekor orangutan (pongo pygmaeus) dari pemerintah Thailand yang diwakili oleh duta besar negara itu untuk Indonesia, Atchara Seriputra. Tuntas? Rupanya belum. Pemerintah Indonesia, mestinya segera menelusuri keberadaan puluhan orangutan lainnya, yang diduga hingga kini masih menjalani ‘profesi’ sebagai petinju di sana.

Ya, puluhan orangutan asal Indonesia diduga masih menjalani profesi gila itu di sana, termasuk di Safari World, kebun binatang tersohor di Thailand. Tapi, Anda pasti mafhum, karena orangutan tak mengenal ekonomi uang, maka perputaran baht tak bisa mereka nikmati seluruhnya, apalagi dikirim ke Indonesia sebagai devisa.

Upaya pengembalian satwa dilindungi (bahkan oleh organisasi PBB) itu ke Indonesia, rupanya bukan perkara gampang. Kebetulan, dalam kasus orangutan di Thailand itu terbentur pada tembok kekuasaan yang dibangun Thaksin. Di luar itu, keberpihakan negara –tepatnya para birokrat kita, ternyata masih lemah.

Wajah unik sang pongo

Seorang teman yang kebetulan aktivis perlindungan satwa liar dan satwa langka, bercerita bahwa belum lama ini ketemu dengan orang Belanda yang ingin mengembalikan belasan ekor Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) yang ada di negaranya. Kata orang Belanda itu, ia bahkan punya data lengkap pemilik burung langka itu di seantero Eropa. Jumlahnya tak tanggung-tanggung, ada 300 ekor lebih! Padahal, di Indonesia tinggal enam pasang yang hidup di habitatnya, sementara tujuh ekor lainnya dipiara perseorangan di Pulau Bali.

“Upaya pengembalian sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Namun, surat-surat yang dikirim ke kementrian terkait tak pernah dibalas hingga kini. Padahal, orang itu ingin mengembalikan secara sukarela, bahkan atas biaya mereka sendiri. Mereka cuma butuh jaminan pemerintah, bahwa burung-burung itu akan dikembalikan ke habitatnya,” ujar sang teman. Itulah Indonesia!

Sang teman masih ingat betul pengalamannya beberapa waktu lalu, ketika melakukan investigasi penjualan satwa liar di Jakarta. Rupanya, mata rantai sindikat penjualan satwa liar sudah sangat ruwet. Bukan hanya oknum di kantor Badan Konservasi Sumberdaya Alam DKI Jakarta, tapi pat-gulipat juga melibatkan aparat bea cukai dan petugas Bandara Soekarno-Hatta. Sejumlah satwa langka yang sudah tertangkap saat hendak diselundupkan, ternyata dijual kembali oleh para oknum tadi.

Kembali pada keberadaan Si Pongo di Thailand, ternyata jumlahnya masih banyak. Pada September 2002 saja, terdeteksi ada 140 ekor orangutan di sana, 120 di antaranya menghuni Safari World, kebun binatang seluas 100 hektar di Bangkok. Investigasi selama setahun sejak Oktober 2002 menunjukkan hasil yang membuat miris. Setidaknya, 5-10 ekor orangutan masih diselundupkan ke Thailand setiap bulan. Diduga, populasi orangutan di habitat aslinya (karena Pongo tidak ditemukan di belahan bumi manapun) di Kalimantan Tengah dan Kaimantan Timur tak lebih dari 7.000 ekor.

"Hai, jangan melototin kemaluan, dong... Norak, tauk!"

Asal tahu saja, penyelundupan kera ke Thailand itu merupakan praktek kotor terbesar di seluruh dunia dalam 50 tahun terakhir! Padahal, menyelundupkan kera jenis ini bukan pekerjaan mudah. Yang paling mungkin adalah menirim bayi-bayi orangutan, sementara untuk bisa memperoleh bayi-bayi itu, mau tidak mau harus dilakukan dengan jalan kekerasan dan sangat tidak bermoral: membunuh induk si bayi! (Sebab Pongo dewasa sangat kuat dan sangat melindungi bagi-bayinya, sehingga tak ada manusia yang sanggup memenangkan perkelahian dengannya tanpa senjata modern dan mematikan).

2 thoughts on “Si Pongo, Petinju asal Kalimantan

Leave a Reply