The King’s Witch dan Prasangka Itu…

Konser opera kontemporer The King’s Witch (Calon Arang) bisa disebut sebagai peristiwa kesenian paling wah di Indonesia, tahun ini. Bukan hanya nama-nama besar –seperti komponis Tony Prabowo, penyair Goenawan Mohamad, konduktor Joel Sachs, dan Teater Garasi bergabung untuk proyek itu. Konon, pertunjukan selama tiga hari dan berlangsung di dua lokasi berbeda di Jakarta itu menelan biaya hingga Rp 2 miliar!

Kalaupun benar pementasan tersebut menelan dana sebesar itu, sesungguhnya bukan sebuah masalah. Tak ada salahnya, seorang seniman mencari dana untuk membiayai proses kreatifnya. Apalagi, lebih dari 50 orang artis (musik, teater dan tari) terlibat dalam The King’s Witch (Calon Arang) tersebut, dengan hampir setengahnya didatangkan dari Amerika Serikat. Itu belum termasuk belasan orang yang terlibat dalam manajemen produksi.

Apa yang dilakukan seorang (banyak) seniman dan tim produksi pada sebuah proses kreatif, pada hakekatnya adalah sedang bekerja pula. Karena itu, tak ada salahnya bila dari pekerjaannya, seseorang memperoleh imbalan (dalam dunia kesenian sering disebut dengan honor), karena (sama dengan manusia lainnya) seniman juga butuh makan dan memenuhi kebutuhan hidup lainnya.

Namun, namanya memang sudah tidak suka dengan salah satu artisnya (yang kebetulan merupakan figur publik), seorang teman yang sempat melihat booklet pertunjukan itu, tetap saja berupaya mencari celah untuk memojokkannya. Ia misalnya, menuduh sang artis telah menjalin hubungan yang disebutnya ‘tak baik’ dengan Sukanto Tanoto, bos konglomerasi Grup Raja Garuda Mas, hanya karena ia mendapati nama Tanoto Foundation tercantum sebagai salah satu sponsor. Begitu pula dengan logo Medco Energi, perusahaan milik Arifin Panigoro yang juga menjadi sponsor pertunjukan tersebut.

Tentu, sulit bagi saya untuk menjelaskan kepada sang teman tadi. Di kepalanya, prasangka sudah sedemikian dalam terpatri, sehingga keterlibatan Medco Energi dan Tanoto Foundation dalam pendanaan pertunjukan tersebut seolah-olah telah menunjukkan sebuah ‘persekutuan terkutuk’. Seolah-olah kesenian merupakan sesuatu yang agung dan suci, sementara kedua lembaga tersebut dicap sebagai racun atau polutan, hanya karena menghubungkannya dengan kinerja dan profil seorang Sukanto Tanoto dan Arifin Panigoro.

Celakanya, saya sengaja datang jauh-jauh dari Surakarta untuk menyaksikan acara tersebut atas undangan Tony Prabowo. Meski dengan biaya sendiri, argumentasi yang bisa dinilai ‘membela’ Tony dan kawan-kawan itu bisa ‘menjerumuskan’ saya sebagai advokat yang bias nan subyektif!

Mungkin teman saya itu lupa, bahwa produk kesenian bisa menjadi jembatan persahabatan antarbangsa, sementara senimannya sesungguhnya layak menyandang julukan sebagai diplomat pula. Tarian Cak dan Legong, misalnya, telah menjadi sihir mahakuat bagi orang-orang dari berbagai negara nun jauh di seberang lautan untuk datang ke Bali, kendati pada masa lampau menenggelamkan nama Indonesia (lantaran Bali dianggap sebagai bukan dari bagian Indonesia).

Semoga, prasangka teman saya itu hanya sebatas potret atas ketidaktahuannya semata. Sebab, banyak dari masyarakat kita masih lebih parah dalam hal prasangka dan penghakiman terhadap hasil-hasil kerja kesenian dan seniman. Bahwa ada sebagian orang yang berperilaku dan berpenampilan sesuka hati hanya semata-mata karena ingin dicap sebagai seniman, harus diakui hal itu masih banyak terjadi. Tapi, sebaiknya tak perlu pula terburu-buru mengatakan “Dasar seniman!” hanya karena seseorang tampil atau berkerja secara tak sama dengan lingkungannya.

Pertunjukan Pastoral, kuartet gesek dan dua soprano yang dimainkan oleh Momenta String Quartet dengan Nyak Ina Raseuki (Ubiet) dan Binu D. Sukaman. Pastoral diilhami oleh sajak 12-bagian karya Goenawan Mohamad

Lazim tak lazim sangat ditentukan oleh sudut pandang dan referensi seseorang. Tak ada yang perlu dianggap aneh………………..

Leave a Reply