Panji Sepuh

Menjadi raja (ideal) itu tidak mudah. Ada sejumlah prasyarat yang harus dipenuhi, karenanya banyak proses mesti dilalui. Seorang raja, tentu harus cakap, bisa membawa diri, berwibawa, dan bisa menjadi manajer yang baik, baik itu dalam lingkup urusan internal kerajaan maupun dalam kaitannya dengan pihak di luar kraton, seperti rakyat atau kerajaan (negara lain).

Untuk menjadi raja Surakarta, konon ada tahapan proses yang lebih unik lagi. Jauh sebelum prosesi penobatan dilakukan, ia mesti melakukan ritual yakni menari sendirian di kamar pusaka. Jenis gerakan apa yang harus dilakukan, cara berdiri hingga ke arah mana telapak kaki diarahkan, semua sudah ada aturannya. Singkat cerita, sebelum jadi raja, seorang pangeran mesti lelaku, supaya kelak bisa mengendalikan emosi dan perilaku.

Setidaknya, begitulah inti pesan tari Panji Sepuh yang bisa ditemukan dalam Wedhataya (wedha berarti kitab, taya merupakan padanan kata gerak/tari), yang diperkirakan dibuat pada masa Pakubuwono X (1866-1939). Adalah Tumenggung Kusuma Kesawa, empu tari Kraton Surakarta yang konon telah mempopulerkan tarian itu lewat metode pengajaran kepada para cantriknya, pada awal 1950-an hingga 1960-an.

Kini, Panji Sepuh sedang ditafsir kembali oleh penyair Goenawan Mohamad menjadi komposisi baru, yang akan dipentaskan di Museum Nasional Singapura, 8-9 Desember mendatang. Bila kitab asalnya menyebut Panji Sepuh sebagai tarian tunggal, Goenawan menambahkan unsur perempuan ke dalamnya. Mungkin, ia terinspirasi oleh perilaku pangeran dan para raja Jawa (khususnya dinasti Mataram), yang selalu memiliki ‘banyak’ istri, juga para perempuan ‘independen’ sebagai ‘lawan main’.

Panji Sepuh versi Goenawan adalah seorang pangeran yang akan naik tahta pada masa ketika kerajaan sudah di ambang keruntuhan, baik secara politis maupun budaya. Karena itu, menjadi raja hanyalah proses menuju kesia-siaan belaka. Predikat raja tak berbanding lurus dengan kekuasaan, sementara bila mengacu pada eksistensi kemanusiaan dalam pengertian hakiki, menjadi raja sama saja dengan menjadi ‘yang lain’, menjauhkan diri dari watak dan perilaku yang seharusnya.

Karena itu, tafsir Panji Sepuh diwakili melalui topeng-topeng aneka rupa, baik yang dikenakan tokoh Panji Sepuh maupun tujuh penari perempuan. Ya, para perempuan itulah yang dalam kehidupan nyata merupakan manusia-manusia terpenjara, yang nyaris tak boleh mewujudkan kehendak/keinginannya sendiri, bahkan untuk hal-hal paling pribadi sekalipun. Lalu, oleh Goenawan, perempuan yang senyatanya sosok yang mudah berganti peran dalam waktu sekejap (seperti dari pelayan menjadi istri dan sebaliknya) itu dibalikkan perannya.

Sisi manusiawi para perempuan dan Panji Sepuh lalu ditonjolkan. Perempuan yang terpenjara digambarkan melakukan hubungan seks sejenis dengan sesama selir (lantaran hanya kadang-kadang saja dipenuhi haknya oleh raja), sementara Panji Sepuh digambarkan sebagai sosok yang sesungguhnya ingin menggunakan haknya secara tak terbatas karena kedudukannya sebagai raja, namun terbentur pada beban-beban moralitas yang juga harus diwujudkannya.

Baik tafsir Goenawan atas Panji Sepuh maupun makna tarian itu sebagaimana tersurat dalam Wedhataya, tak ada salahnya kalau kita menoleh pada situasi kontemporer Kraton Surakarta. Dua pangeran berebut tahta, meski keduanya sama-sama tak memiliki watak, perilaku dan kearifan sebagaimana yang dikehendaki, baik oleh masyarakat atau rakyat yang telah berubah maupun oleh parameter moralitas itu sendiri.

Ibarat rebut balung tanpa isi, berebut tulang, kedua pangeran (yang lantas memiliki dua pusat pemerintahan berbeda), sama-sama ngotot, merasa paling baik dan benar, meski sesungguhnya publik sudah paham kapasitas dan kompetensi masing-masing pihak, termasuk para supporter-nya.

Leave a Reply