Atlet Yang Layu Saat Mekar

Namanya Arynxgo, panggilan akrabnya Ringgo. Dari segi angka, usianya terbilang muda, 14 tahun. Tapi, dilihat dari bakat dan prestasinya sebagai petenis, usia itu sudah di ambang senja. Sederet prestasi sudah pernah diraihnya, mulai juara pada event Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) maupun pada kejuaraan-kejuaraan terbuka. Kalau cuma juara dua, ia sudah terlalu sering. Juara pertama, juga sudah berulang kali.

Tapi, nasib sering tak berpihak kepadanya. Ia sering gagal mengikuti perlombaan bergengsi lantaran tak ada biaya. Apalagi bila jauh dari Klaten, kota kecil tempat dia lahir dan dibesarkan. Untuk ikut turnamen di Bandung, misalnya, ia harus berhitung. Dibela-belain merengek pun, kadang tak terwujud, sebab orangtuanya hanyalah seorang guru sekolah swasta dengan gaji pas-pasan. Apalagi, Ringgo masih punya dua adik.

Nahas terakhir dialaminya saat ingin mengikuti kompetisi ITF (International Tennis Federation?) di Surakarta, Jawa Tengah. Saat ayahnya mendaftarkan nama Arynxgo, Jumat (17/11) siang, dijawab panitia supaya datang kembali hari Minggu, tiga hari kemudian. Namun, saat kembali Minggu siang, seorang panitia menjawab: “Pendaftaran sudah ditutup hari Jumat. Sekarang sudah mulai penyisihan,” ujar sang ayah, menirukan jawaban panitia.

Selidik punya selidik, konon peminatnya turnamen itu terlalu banyak, sehingga harus dibatasi. Soal pembatasan jumlah pendaftar dengan cara menyembunyikan informasi, tentu itu soal lain. Konon, begitulah ‘budaya’ yang berkembang di Pelti, organisasi payung olah raga tenis lapangan Indonesia.

Yang lebih seru adalah penuturan seorang teman jurnalis yang biasa meliput peristiwa olahraga. Katanya, untuk bisa mendaftar event-event bergengsi, memang diperlukan kelenturan tersendiri, mulai mendekati panitia hingga pengurus Pelti. “Tanpa koneksi, jangan harap bisa ikut kejuaraan bergengsi,” ujar sang teman.

Rupanya, Ringgo sengaja digiring supaya ikut kelas lomba nasional untuk kategori Kelompok Umur 14 tahun atau KU-14. Sayang, pada giliran bermain kedua kalinya, ia harus menyerah melawan penyandang peringkat pertama KU-14, seorang pemain asal Bandung. Tangan kanannya terkilir saat ia berhasil membalas kekalahan dengan skor 6-4. Pada set pertama, ia dikalahkan dengan skor yang sama. Alhasil, Ringgo yang berhasil menekan permainan lawan dan optimis menang pada set penentuan, akhirnya harus menyerah meski ia sempat memimpin 4-1.

Namun, bukan kekalahan itu yang ingin saya kemukakan di sini. Lebih dari itu, Ringgo hanyalah potret seorang korban sistem pembinaan atlet yang tak jelas, kalau tak ingin menyebutnya dengan mafia pengurus organisasi olahraga. Untuk ikut event semacam itu, Ringgo tak pernah masuk daftar atlet yang difasilitasi Pelti cabang Klaten.

Kita jadi ingat kasus Angelique Wijaya, pesohor tenis asal Bandung. Semula, orang tak mengenal namanya. Bahkan, Pengurus Besat Pelti pun tak pernah meliriknya, bahkan saat ia sukses menyabet kemenangan prestisius dalam sebuah turnamen tenis profesional bergengsi tingkat dunia. Para pengurus Pelti baru merasa kebakaran jenggot, ketika (karena prestasinya yang mengharumkan bangsa) Anggie dipertemukan dengan Presiden Abdurrahman Wahid di Istana Negara.

Kapan ya, para pengurus organisasi-organisasi olahraga mulai memikirkan perkembangan para atlet binaannya? Tentu, supaya orang-orang seperti Ringgo tak patah arang gara-gara kekacauan sebuah sistem pembinaan, yang ujung-ujungnya hanya menguntungkan segelintir orang yang duduk sebagai pengurus. Maklum, secara kejiwaan, seorang anak yang masih belia, tentu tak memiliki mental sekukuh orang dewasa.

Leave a Reply