Amerika Kita Setrika…..

Amerika kita setrika, Inggris kita linggis! Meski terdengar anarkistis, tak ada salahnya kita renungkan kembali makna dan semangat di balik kemunculan jargon yang populer pada masa-masa awal kemerdekaan itu. Tentu, kita harus lebih arif memaknainya. Bukankah kita masih ingin disebut sebagai golongan manusia beradab?

Penafsiran ulang atas gairah untuk ‘menyetrika’ Amerika, yang pasti bukan dengan cara menghalang-halangi kedatangan George Walker Bush ke Indonesia. Bahwa Bush yunior itu brengsek dan suka pamer kekuasaan dimana-mana –termasuk invasi militer ke Irak atau menuduh sebagian orang Islam sebagai teroris, itu hanyalah potret sebagian wajah Amerika.

Baasyir, simbol teroris Islam versi Bush ==>

Kebijakan politik (ekonomi dan militer) luar negeri Amerika, yang selalu memposisikan diri sebagai juru selamat sekaligus penjaga keberlangsungan peradaban manusia di seluruh muka bumi, pasti harus dikritisi. Namun, energi kita akan terbuang sia-sia manakala kita lupa mengingatkan aparatur pemerintah kita sendiri. Dalam konteks hubungan Indonesia-Amerika, sudah selayaknya protes keras justru diarahkan kepada mereka.

Berpijak pada semangat mulia memerdekakan diri dari segala bentuk penjajahan yang telah dicanangkan para pendiri negara, maka negara dan pemerintahan yang berdaulat tak boleh dilecehkan oleh siapapun. Susilo Bambang Yudhoyono dan George W. Bush memiliki posisi setara, sama-sama presiden dari sebuah negara. Keduanya juga menjadi simbol sebuah bangsa, yang memiliki hak dan kedudukan setara menurut piagam PBB.

Oleh karena itu, sungguh aneh kalau pemerintah harus menunjukkan inferioritasnya terhadap Amerika kepada masyarakat internasional. Mematikan jaringan telepon seluler selama 10 jam hanya demi kenyamanan seorang Bush adalah sebuah bukti nyata, bahwa para pemimpin negeri ini masih memiliki mental inlander. Bahwa IMF, Bank Dunia, WTO dan lembaga-lembaga keuangan internasional –yang telah memiskinkan rakyat Indonesia, sepenuhnya dikontrol Amerika, sama sekali tak pernah disikapi secara kritis oleh para pemegang mandat menjalankan pemerintahan yang seharusnya betujuan mensejahterakan rakyatnya.

Tak terbayang, berapa nilai kerugian sosial dan ekonomi yang ditanggung ribuang pengguna saluran komunikasi bergerak itu. Belum lagi nasib ribuan anak-anak dan anggota keluarga sopir angkutan umum dan pedagang kakilima yang terpaksa tak beroperasi selama beberapa hari, gara-gara seorang Bush harus merasa nyaman dan aman duduk-duduk di kompleks Istana Bogor. Jalan raya di pusat kota Bogor harus dikosongkan, meski kita tahu, Bush sama sekali tidak menggunakan jalur darat selama berada di kota hujan itu.

Semoga, pembicaraan antara SBY dan Bush tak hanya berisi seputar komitmen negara itu untuk membiayai pelatihan dan kerjasama memerangi terorisme, atau janji pemberian utang baru dengan bunga lunak dan rentang waktu pengembalian yang cukup panjang. Terorisme, bukan hanya musuh Amerika, melainkan musuh seluruh umat manusia. Kalaupun Amerika lantang menyatakan diri sebagai ‘pemimpin’ masyarakat dunia dalam melawan terorisme, hal itu tak lain hanyalah ilusi belaka.

Mereka terlalu paranoid. Manusia di seluruh dunia sudah kian cerdas dan semakin berani mengkritik kebijakan luar negeri Amerika dan sekutunya. Karena itu, mereka menempuh berbagai cara sebagai upaya mengalihkan perhatian agar masyarakat dunia tidak menuntut pertanggungjawaban Amerika sebagai panglima lintah darat dunia, yang telah menghisap kekayaan dan daya hidup bangsa-bangsa di negara miskin selama bertahun-tahun.

Meski terkesan berlebihan, tak ada salahnya kalau pemerintah kita meminta kepada pemerintah Amerika agar memberikan (minimal) kompensasi atas potensi kerugian ekonomis yang diderita ribuan warga Bogor akibat kedatangan Bush. Di luar itu, tak ada salahnya kalau Presiden SBY memberanikan diri meminta Bush untuk memelopori penghapusan utang terhadap Indonesia.

Utang luar negeri sebesar Rp 1.300 triliun lebih bukan angka yang kecil. Apalagi bila dibandingkan pendapatan sopir angkutan dan pedagang kakilima yang hanya Rp 50 ribu sehari. Padahal, pendapatan segitu pasti ludes untuk makan empat orang dalam satu keluarga.

Leave a Reply