Bendera Usang, Berkibar Sayang

Suatu sore, dalam perjalanan pulang. Satu lagi, saya lihat sebuah bangunan rumah-toko (ruko) tengah dibangun, seperti ingin menambah daftar panjang ‘indikator perekonomian’ Kota Surakarta. Ya, sejak tiga tahun terakhir, pertumbuhan properti memang kian pesat meski rata-rata sepi penyewa. Bukan masalah perekonomian itu yang menarik perhatian saya. Tapi, itu loh, bendera merah-putih lusuh yang berkibar di puncak bangunan!

Mungkin, si kontraktor atau pemilik bangunan itu berniat menunjukkan nasionalismenya. Meski semua mafhum, motif ekonomi tak pernah bersangkut paut dengan hal-hal patriotis, kecuali kebutuhan si pelaku akan sebuah paspor atau alat-alat bukti bahwa ia memiliki kewarganegaraan (dalam rangka melakukan kegiatan-kegiatan ekonominya).

Yang pasti, sang pengibar bendera termasuk orang beruntung. Pada masa Soeharto berkuasa, tentu ia kelewat bodoh sehingga sudah pasti segera diambil paksa oleh aparat. Nasionalismenya bakal diselidik, begitu pula dengan motif tindakannya. Ia bahkan bakal dirunut latar belakang keluarga, sanak saudara hingga pergaulannya. Lebih dari itu, ia mesti bisa membuktikan diri bebas dari G30S/PKI atau memiliki keterlibatan pada kelompok ekstrem kanan, dan sebagainya dan seterusnya. Semua hal bisa menjadi alasan bagi sang interogator untuk menyiksa, sebelum akhirnya menjebloskannya sebagai tahanan subversif (entah lewat proses peradilan atau tanpanya).

Tapi, sebagai warga negara Indonesia (yang baik dan konsekwen), risih juga rasanya melihat bendera lusuh dan compang-camping itu masih berkibar. Kalaupun tak tahu dimana bisa memperoleh bendera, lebih baik tidak perlu memasangnya. Begitu saya pikir. Toh, dengan sedikit repot, bisa menanyakan pada anak, saudara atau tetangga yang masih bersekolah. Mereka pasti tahu dimana letak toko penjual perlengkapan Pramuka!

Bagi orang seperti saya –yang pernah memperoleh dasar-dasar kepramukaan sejak SD hingga SMP serta pernah ikut penataran P4 hingga 100 jam ditambah mata pelajaran kewarganegaraan dan kewiraan, pasti tak akan tega memasang bendera begitu rupa (betapapun saya jengkel dan pernah muak dengan sebagian materi pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa/PSPB)!

Aneh! Mungkin, lagi-lagi mungkin, si pemasang bendera itu terbiasa menyepelekan hal-hal yang dikiranya sebagai perkara remeh, sehingga salah satu simbol negara itu pun diposisikannya lebih rendah dibanding umbul-umbul iklan sebuah produk.

Padahal, menurut keyakinan saya, orang itu pasti pernah mengalami masa, dimana TVRI masih menjadi satu-satunya media siaran audiovisual, yang (meski kadang berlebihan) tapi paling rajin menayangkan secara live acara-acara semacam Asian Games atau berita kunjungan presiden kita ke luar negeri atau sebaiknya ketika kedatangan tamu negara, dimana bendera merah-putih menjadi penanda sekaligus identitas sebuah bangsa dan negara berdaulat.

Semoga bukan karena euforia reformasi yang dijadikan dasar penafsiran akan makna ‘kebebasan’, sehingga bisa bersikap dan bertindak semau gue. Sebab sebuah kehidupan selalu memiliki aturan dan tatanan. Minimal, kita bisa mengukur sendiri, mana yang pantas atau tidak layak dilakukan. Bukankah kita tak mau lagi hidup kita diatur dan dikontrol ala Orde Baru?

Tak ada salahnya kita mengapresiasi sikap dan meneladani tindakan anak-anak muda yang tergabung dalam kelompok musik Cokelat. Mereka lantang menyanyikan lagu (kalau tak salah) Bendera, bahkan dalam rangka perayaan tujuh belasan tahun ini, membuat rekaman khusus dan aransemen baru atas sejumlah ‘lagu-lagu wajib’ yang hingga kini masih banyak beredar dengan edisi sederhana: dicetak di atas kertas buram!

Leave a Reply