Sitok Srengenge

Aku mendengar rumor yang menyatakan bahwa aku akan memperoleh penghargaan sastra dari Pusat Bahasa Depdiknas (Departemen Pendidikan Nasional, Pen.). Tapi sampai kini, aku belum tahu kepastiannya. Mungkin ini memang rumor.

Kalimat itu meluncur begitu dari mulut Sitok Srengenge, ketika kami sama-sama menunggu saat boarding di Bandar Udara Adi Sutjipto, Yogyakarta, Rabu (8/11) pagi. Selanjutnya, perbincangan kami lantas terfokus pada sistem protokoler di departemen itu. Sitok misalnya, mengkritik proses administrasi, sebab menurut informasi yang dia dengar, pengumuman sekaligus penyerahan sertifikat penghargaan akan dilakukan keesokan harinya, 9 November, bertepatan dengan puncak resepsi perayaan Bulan Bahasa.

Sitok sendiri mendengar rumor penghargaan itu dari sang anak, Laire Siwi Mentari. Kebetulan, Laire sedang diminta Pusat Bahasa untuk berceramah tentang pegalaman proses kreatifnya sebagai penulis novel (dan belakangan mulai menulis skenario sinetron) di hadapan ratusan siswa-siswi sekolah lanjutan yang berasal dari seluruh Indonesia. Siswa-siswi itu sengaja dikumpulkan di Jakarta oleh Pusat Bahasa, dalam rangka mencari bibit-bibit muda penulis Indonesia. “Laire diminta datang menemani saya saat peyerahan penghargaan itu,” tutur Sitok.

Yang membuat Sitok tidak habis mengerti adalah, mengapa pemberitahuan langsung -baik melalui surat maupun telepon, belum diterimanya hingga sehari menjelang pengumuman. “Bagaimana kalau ternyata pada hari yang dijadwalkan, saya atau penerima hadiah lainnya sedang berhalangan karena memiliki kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan?” ujar Sitok.

Lazimnya, pemberitahuan semacam itu sudah dilakukan beberapa hari sebelumnya, minimal memperhitungkan waktu yang harus dialokasikan oleh pihak penerima penghargaan, seandainya yang bersangkutan memang diharapkan kehadirannya.

Mungkin, Pusat Bahasa ingin memberi kejutan kepada Sitok, atas dedikasi dan komitmennya memajukan sastra di Indonesia, serta kontribusi lelaki kelahiran Desa Dorolegi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah memperkenalkan dunia sastra di berbagai forum, baik nasional maupun internasional. Karena itu, Pusat Bahasa memberikan anugerah sastra 2006 untuk kumpulan kumpulan puisinya berjudul Kelenjar Bekisar Jantan.

Selepas dari Bengkel Teater, alumnus IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta) mendirikan komunitas Gorong-gorong Budaya yang bergerak dalam bidang sastra dan penulisan. Ia juga aktif menjadi kurator sastra di Teater Utan Kayu serta menjadi salah satu redaktur Jurnal Kalam, sambil mengelola penerbitan KataKita. Beberapa karyanya telah dibukukan, di antaranya antologi puisi Persetubuhan Liar (1992, 1994), Kelenjar Bekisar Jantan (2000), Anak Jadah (2000), Nonsens (2000), Ambrosia (2005) dan On Nothing, Selected Poems (2005). Karya prosanya juga terbit dalam antologi Para Pembohong (1996), novel Menggarami Burung Terbang (2004), dan trilogi Kutil yang dimuat bersambung di harian Suara Merdeka (2005).

Sebagai penyair, Sitok sudah sering tampil pada forum-forum internasional, seperti Indische Festival (diselenggarakan oleh Rotterdam International Poetry Reading, 1995), Winternachten Festival (sebanyak tiga kali, tahun 1995, 1997, dan 2000), ,em>Sydney International Arts Festival dan Adelaide Festival (2002), Crossing the Sea di Kepulauan Karibia (2003), International Literary Festival Suriname (2004), WordStorm Festival di Northen Teritory (2005), dan lain-lain.

Pada 2001, Sitok mengikuti International Writing Program di University of Iowa, USA, dan setahun berikutnya, ia menjadi Artist in Residence di Australia atas sponsor Asialink. Pada November-Desember 2005, ia diundang sebagai Visiting Writer di Hong Kong Baptist University, Hongkong dan di sana, Sitok memberikan workshop bagi para peserta International Creative Writing Workshop.

Beberapa penghargaan internasional yang telah diperolehnya antara lain Sih Award pada 2003, menyusul penobatan dirinya sebagai salah satu dari 20 Exepcional People in Asia pada 2000 oleh majalah Asiaweek sebagai leader for the millenium in sociaty and culture.

Leave a Reply