Make Up Lukisan dan Gorengan Saham

Teman saya seorang senirupawan terapan. Berlatar belakang pendidikan seni grafis, sempat menjadi desainer, namun kini ’terdampar’ sebagai ahli air brush, khususnya untuk produk-produk media luar ruang. Untuk pekerjaan yang satu ini, bisa dibilang ia sebagai salah satu jagoan di Surakarta.

Sayang, ia terkungkung dalam ketidaktahuannya. Ia polos, tidak neka-neka. Mungkin karena hampir seluruh hidupnya dihabiskan di lingkungan komunitas seniman ’underdeveloped culture’, sehingga tidak paham perkembangan praktek jual-beli benda-benda seni.

Contoh paling nyata adalah ketia ia berusaha mewujudkan niat baiknya dengan cara yang keliru. Ia, misalnya, berupaya memperbaiki lukisan Raden Sajid (kalau tak salah buatan tahun 1893. Lihat: Foto A) yang sudah robek. Ia lalu menjahitnya dan menambal kerusakannya dengan cat baru (Foto B). Hal itu ’harus’ dilakukannya sebab ia ingin menjual lukisan itu.

Teman itu sama sekali tak menyadari, niat baiknya justru merusak ’nilai’ lukisan itu sendiri. Membiarkannya tetap rusak akan membuat lukisan itu tetap bernilai dibanding ia sendiri yang memperbaikinya. Apalagi, secara keseluruhan, lukisan itu masih bagus. Warna cat, kualitas kanvas, begitu pula dengan goresan-goresan Raden Sajid, masih utuh. Detilnya pun masih terjaga otentisitasnya walau lukisan itu sudah melintasi waktu tak tak bisa dibilang pendek.

Kini, sang teman hanya bisa menyesali perbuatannya. Apalagi ketika ia menyadari, dunia perdagangan benda-benda seni (di belahan bumi manapun juga) menuntut sejumlah syarat yang tak ringan, yang tak cuma menyangkut keaslian barang dagangan. Profil dan sejarah hidup pelukis, usia lukisan, jelas menjadi faktor penentu nilai jual lukisan, walaupun praktek goreng-menggoreng lukisan bisa saja dilakukan, tergantung kepiawaian sang dealer, atau populer dengan sebutan kolekdol, koleksi sementara lalu adol alias menjualnya.

Memang, nilai jual lukisan, dalam banyak kasus masih lebih obyektif dibanding benda-benda tosan aji, seperti benda-benda pusaka atau praktek perdagangan ikan Louhan, hingga jual-beli saham perusahaan. Walaupun, praktek goreng-menggoreng juga sama dahsyatnya, tergantung kepiawaian dan kelicinan silat lidah sang dealer, benda seperti lukisan memiliki parameter yang lebih jelas.

Pernahkah Anda bertemu dengan dealer tosan aji atau broker Louhan atau saham? Hati-hati, jangan mudah percaya kepada bumbu-bumbu manis mereka. Tiga jenis barang dagangan itu, sering dijajakan dengan cara seperti penjual mebel antik. Disebut barang tua, pernah dipakai keluarga raja ini atau pangeran itu, namun sesungguhnya barang baru namun dibuat seolah-olah berusia ratusan tahun dengan cara merendamnya di sungai selama berbulan-bulan lantas menjemurnya berhari-hari. Begitu terus berulang kali sampai muncul efek visual sebagaimana dikehendaki, misalnya cat akan tampak mengelupas dan sebagainya.

Anda pasti akrab dengan cerita harga Louhan bisa berpuluh-puluh juta hanya karena pada tubuh sang ikan muncul simbol-simbol tertentu? Cobalah sesekali Anda membelinya lalu menjualnya kembali. Saya berani bertaruh, uang Anda tak pernah kembali seperti sedia kala, apalagi memperoleh untung darinya. Sebab, nilai penjualan besar hanya diembuskan oleh para anggota sebuah jaringan semata-mata untuk mengail keuntungan.

Leave a Reply