Nilai Air di Negeri Kambing

Ini kisah kehidupan di Negeri Kambing, dimana antara kambing dan manusia tiada beda. Di negeri itu, tak ada istilah perikemanusiaan. Juga tak dijumpai kata perikehewanan (mungkin karena peri tidak masuk dalam kategori benda, dalam pengertian yang mewujud). Egaliter. Semua makhluk sama derajadnya!

Karena sederajad itulah, maka kambing dan manusia yang mendiami Desa Jerukan, nun di pedalaman Kadipaten Bajulkesupen, Jawi Madya, bisa bekerjasama, meski tidak bahu-membahu. (Sebab kata bahu-membahu di desa itu masih terpengaruh kebudayaan Jawa yang adiluhung nan hegemonik. Sebab kata bahu akan bermakna konotatif dan menunjuk pada strata sosial rendahan, yakni semacam budak atau minimal sebagai pihak yang dijadikan obyek untuk disuruh-suruh).

Kambing dan manusia, misalnya, sama-sama menggunakan air yang sama untuk keperluan masing-masing. Dan, kambing-kambing di sana cukup tahu diri, tak pernah menceburkan diri demi membersihkan tubuh. Karena itu, bau tubuh kambing tak jadi polusi. Sebab air hujan yang membentuk genangan di dasar kali, dengan luas tak lebih dari setengah lapangan badminton (yang biasa dipakai untuk sarana olahraga manusia beradab), itu menjadi andalan sekitar 200-an manusia yang tinggal di sekitar dusun itu.


Bukan saja untuk mandi (yang hanya sekali dalam sehari), namun juga untuk minum dan memasak, meski harus mengendapkan minimal semalam suntuk agar kembali jernih. Tanpa proses pengendapan, air jelas berasa. Minimal pahit! Sebab pada setiap sore, pasti ada puluhan perempuan (dari anak-anak hingga lanjut usia) yang silih berganti mencuci pakaan dan perkakas dapur, lengkap dengan deterjen yang diyakini sebagai pembersih (asal tahu saja, beraneka merek dan jenis deterjen sudah diperdagangkan orang-orang kota di pedusunan itu).

Aneh, memang. Setahun lalu, sejumlah manusia yang ‘lebih beradab’ pernah mengunjungi dusun itu, dan memberitakan secara gencar tentang nasib manusia di situ. Ada yang lewat televisi, ada pula melalui surat kabar tercetak. Sementara, orang-orang kota (yang pasti lebih beradab) sama sekali tak terpengaruh pemberitaan yang lumayan gencar waktu itu. Padahal, penduduk Negeri Kambing sudah yakin, manusia kota yang diharapkan bisa mengubah nasib mereka (sesuai sabda Tuhan yang menjanjikan perubahan nasib manusia hanya bisa dilakukan melalui ikhtiar dan usaha), ternyata lebih dungu dan bebal dibanding kambing-kambing di desanya.

Tapi, boleh jadi ketiadaan perubahan itu juga merupakan akibat dari kesalahan manusia-manusia di sana. Terlalu percaya pada berita yang dibuat wartawan (baca: manusia kota) akan mengubah kedunguan manusia kota penentu kebijakan semesta raya, membuat mereka lupa diri untuk menuntut secara langsung. Atau sebaliknya, mereka sudah menjadi makhluk berfilosofi narima ing pandum lan pepesthi (orang Betawi menyebutnya dengan menerima jatah dan takdir), sehingga mereka tak sudi lagi menuntut paksa perbaikan hidup mereka.

Mungkin, mereka lebih asyik berkaca pada tabiat kambing. Yakni, menerima apa adanya, berbagi makanan secara adil –sama rasa (walau hanya bisa) agak rata, meski rumput nyaris enggan tumbuh di dasar kali dengan bebatuan putih berkapur campur cadas. Kalau kambing saja bisa tabah, kenapa manusia tidak?!?. Begitu kira-kira mereka menggumam.

Apalagi, kambing yang bagi manusia kota hanya dianggap hewan tak berguna (meski lahap menyantap dagingnya), adalah sosok penyelamat kelangsungan hidup mereka. Saat ladang tak membuahkan bahan makanan, mereka bisa menuntunnya hingga ke pinggir kota. Kambing bisa ditukar menjadi beras, garam dan deterjen (walau mereka tahu, saat kaki belum lagi menginjak halaman rumah, Sang Kambing sudah dibantai, dan serpihan tubuh Sang Kambing sudah sampai pankreas orang kota, bahkan sudah berubah wujud menjadi gumpalan pekat –MAAF- berwarna kuning kecoklatan).

Sayang, hanya gara-gara air, manusia menjadi jauh kurang berharga dibanding seekor kambing (sementara orang kota, telah menjadikan air sebagai komoditas yang bisa diperjualbelikan secara semena-mena).

One thought on “Nilai Air di Negeri Kambing

  1. di desaku mata air yang dulu saat kecil biasa tempat mandi warga desa sebagai pancuran mata air murni sekarang sudah di sedot orang-orang kota.dan warga desaku mengambil air dari hutan.

Leave a Reply