Jurnalisme Amburadul

Rabu (27/9) menjelang subuh, saya menyaksikan film Mad City di HBO. Kelopak mata yang sudah menggelayut sejak malam, mendadak terbelalak. Bukan karena terpesona oleh akting John Travolta dan Dustin Hoffman yang memang ciamik, melainkan cerita film itu yang sesungguhnya telah menggelisahkan saya sejak lima tahun terakhir.

Dikisahkan, Samuel Baily (diperankan John Travolta) sedang berencana ‘membuat perhitungan’ dengan pimpinan sebuah museum. Ia membawa senapan laras panjang dan satu tas berisi dinamit. Rupanya, Sam tak terima diberhentikan dari pekerjaannya sebagai petugas keamanan di musem itu. Ia berusaha meminta penjelasan namun selalu ditolak oleh manajemen museum. Di tengah proses memaksa bicara, senapan yang dibawanya menyalak tanpa disengaja dan mengenai rekannya sesama anggota satpam yang berada di luar gedung.

Kejadian itu dilihat oleh Max Brackett (Dustin Hoffman), seorang reporter stasiun televisi yang gila sensasi. Max -yang sembunyi di balik pintu toilet, dipergoki oleh Sam yang sedang ketakutan. Singkat cerita, Max berhasil membalik dari posisi terancam (karena potensinya menjadi saksi persitiwa penembakan itu) menjadi di atas angin. Ia berjanji membantu meringankan hukuman Sam dengan imbalan menjadikan peristiwa itu sebagai bahas reportase eksklusif di stasiun tempat Max bekerja sebagai reporter freelance. Akur!

Lalu, dimulailah skenario versi Max. Ia menjadikan dirinya sebagai satu-satunya reporter yang berhasil siaran langsung dari lokasi kejadian. Ia mengatur seluruh permainan. Mulai pelepasan sandera (dari belasan anak-anak yang sedang study tour di museum) hingga mengatur kerja polisi. Kepada Sam dan kepala polisi, Max menawarkan iming-iming popularitas, sementara cerita di dalam museum merupakan karangan dia sepenuhnya (yang di dunia jurnalisme dikenal dengan istilah populer di-setting).

Istri Sam dan keluarga korban penembakan tanpa sengaja, pun diarahkan agar menolak seluruh wawancara atau reportase oleh tim dari media lain. Pokoknya, semua harus menurut skenario dan setting-an Max. Apalagi, Max sangat terobsesi menjadi host sebuah acara besar ber-rating tinggi.

Cerita itu, rupanya ada dimana-mana. Semula, saya pikir hal semacam itu tak ada dan tak pernah terjadi di Amerika, seperti dikisahkan melalui film itu (maklum, dalam menilai Amerika, kadang-kadang sering naif. Saya sering menganggap bangsa Amerika itu maju, demokratis, toleran dan sebagainya, meski kini saya menjadi paham, bahwa kebaikan Amerika hanyalah fatamorgana).

Di Indonesia, saya pun kerap menjumpai hal serupa, meski kadarnya agak berbeda. Dan, dunia jurnalisme televisi (terutama di daerah) kita, kadang lebih buruk dibanding yang saya tonton lewat Mad City. Saya masih sering menjumpai jurnalis televisi sering memanipulasi fakta. Sepetak sawah kering diambil secara close up lalu diberitakan kekeringan melanda sekian ribu hektar sawah. Ketika saya komentari bahwa hal semacam itu menyesatkan, sang teman berujar enteng: Ini kan fakta lapangan juga. Silakan saja dihitung dan dijumlahkan dalam satu kabupaten, pasti akan ada sekian ribu hektar yang kekeringan? Simpel dan ngawur, bukan? Anehnya, hasil reportase demikian tetap tayang……

Yang tak kurang parahnya adalah reportase kasus-kasus kriminal. Di sini, simbiosis-mutualisme terjadi antara polisi dan jurnalis (baik televisi, cetak maupun media elektronik lainnya). Sering terjadi, polisi melakukan reka ulang proses interogasi demi permintaan jurnalis atau sebaliknya. Peliput untung dapat materi berita, polisi juga untung karena selain bisa mejeng di layar kaca, juga ada harapan prestasinya terlihat oleh sang atasan. Harapannya, ‘prestasi’ akan mengubah ‘posisi’. Dan, sudah tentu: kenaikan pangkat!

Saking kacaunya, polisi bahkan pernah mengajak jurnalis televisi untuk bersama-sama menggerebek pelaku kriminal dengan menjanjikan akan ada penembakan. (Hasilnya, tentu akan kelihatan dramatis walau sadistis).

Tentu, itu bukan monopoli jurnalis televisi. Beberapa jurnalis foto pun terlalu sering mereka-reka adegan. Si subyek diminta berpose begini atau begitu untuk memberi efek ‘hidup’ dan dramatis menurut imajinasi sang fotografer. Sementara jurnalis media cetak pun tak luput dari kebiasaan bermain-main dengan narasumber. Bentuknya pun beragam.

Tapi, jurnalis Indonesia tak perlu berkecil hati (meski seharusnya tetap malu dan berpantang kalau harus mengabaikan etika jurnalisme dan kode etik jurnalistik). Sebab, menurut pengalaman penulis, banyak jurnalis dari media-media internasional pun kerap menabrak tabu-tabu jurnalisme. Dalam kasus reportase seputar terorisme di Indonesia, misalnya, mereka selalu menggunakan frame yang dibangunnya sendiri (meski biasanya mengacu pada arus utama yang diciptakan Amerika, Australia dan sekutunya). Islam di Indonesia diposisikan sebagai sumber ajaran terorisme, jihad dengan pedang dan sejenisnya.

Bahkan, ketika isu-isu yang sedang dikerjakannya menyangkut Majelis Mujahidin Indonesia, Pondok Ngruki maupun laskar-laskar Islam lainnya, mereka memiliki pola seragam: mengajukan pertanyaan dengan target jawaban antara ya dan tidak, atau mengutip pernyataan secara serampangan demi cerita yang sudah dibangun oleh imajinasinya sendiri.

Pembaca koran atau berita internet, pendengar radio dan penonton televisi sering dilecehkan. Hak-haknya untuk memperoleh informasi yang benar dan berimbang kerap dilanggar….. (Mestinya, seorang editor harus lebih kritis memperhatikan hasil reportase dan perilaku jurnalisnya, sementara perusahaan pers berkewajiban untuk memberikan pelatihan yang cukup untuk para pekerjanya, baik untuk meningkatkan skill jurnalistik maupun dalam rangka mengawal moralitas jurnalisnya).

Update:
Yang ini, saya tahu persis, dia seorang jurnalis beneran =>

Dalam sebuah percakapan ringan sambil main bola sodok, seorang jurnalis televisi bercerita kepada saya. Beberapa teman seprofesinya yang (sesungguhnya) berstatus stringer dari beberapa stasiun televisi mulai kreatif, yakni ‘mempekerjakan’ stringer lain untuk mereka. Selain hemat energi karena tak harus capek-capek liputan, mereka juga untung secara ekonomis dan ‘popularitas’.

Disebut untung secara ekonomis, sebab mereka menyandarkan pendapatan dari selisih harga beli dengan harga jual. (Asal tahu saja, rata-rata stasiun televisi di Jakarta membayar honor stringer antara Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu setiap satu item berita ditayangkan. Nah, stringer ‘kreatif’ yang sejatinya tak tahu-menahu prinsip di lantai bursa itu ‘membeli’ hasil liputan pada kisaran Rp 25 ribu hingga Rp 100 ribu per item. Tentu, mahal-murahnya harga beli itu tergantung tingkat kesalehan sosial sang stringer asli itu) Sementara keuntungan ‘popularitas’ hanyalah sebatas demi menjaga hubungan antara stringer asli terhadap dewan redaksi dimana ia bekerja. Semakin produktif, maka namanya akan berkibar di kantor pusat.

Jadi, believe it or not, itulah reality show yang barangkali selama ini Anda ‘nikmati’ melalui layar kaca, entah sebelum berangkat ngantor, di sela-sela lunch break, menjelang makan malam atau bahkan ketika Anda masih terjaga pada tengah malam. Cobalah perhatikan dengan cermat berita-berita televisi kita. Saya jamin, Anda akan menjumpai hasil reportase dari lokasi yang berjauhan, oleh stringer yang sama, namun bisa ditayangkan pada hari yang sama. (Anda pasti membayangkan kompetisi antas-stasiun televisi kita sudah sedemikian ketatnya, sehingga seorang reporter di daerah pun mesti ‘menyewa helikopter’ supaya tak ketinggalan dalam bersaksi dan melaporkan berbagai peristiwa yang terjadi hampir bersamaan di berbagai tempat berjauhan) Sebagai awam, Anda pasti bingung, kan?

Jangan kaget. Itulah realitas dapur redaksi televisi kita. Dan, sekali-sekali jangan merasa tertipu atas beragam tayangan di televisi hanya karena membaca posting ini. Kalau mau demokratis, gunakan saja hak Anda. Jangan menonton kalau tak percaya, sebab ‘pastisipasi’ kita sebagai penonton pasif juga sering dimanipulasi lembaga pemeringkat rating untuk mendongkrak harga slot iklan pada setiap rubrik di televisi.

Pssttt…. Saya mau ngasih tahu lagi. Banyak stringer di daerah tak pernah ‘dimanusiakan’ oleh perusahaan pers yang memanfaatkan ‘jasa’ mereka. Perusahaan pers lebih senang menerbitkan kartu pers lengkap dengan foto, nama dan logo perusahaan dibanding -misalnya- membekali stringer mereka dengan beragam pengetahuan dasar komunikasi massa, etika jurnalistik, kode etik jurnalistik, dan sebagainya. Kalaupun ingin lebih menegaskan bahwa stringer dimaksud adalah orang yang terakreditasi, maka kepada yang bersangkutan akan diberikan berbagai macam jenis merchandize (seperti kaos, jaket, topi, stiker, dll) yang bisa dijadikan atribut liputan, meski barang itu sesungguhnya cocok untuk gift bagi relasi perusahaan dan berbagai kegiatan promotif lainnya.

Jadi, jangan kaget kalau Anda mendengar satu rekaman panjang (populer dengan sebutan roll) dari seorang stringer jadi-jadian akan dikloning beramai-ramai oleh stringer sungguhan. Untuk mengenali produk beginian juga gampang:angle-nya pasti sama!
(Update dilakukan pada Minggu, 1 Oktober pukul 08.52 WIB)

3 thoughts on “Jurnalisme Amburadul

  1. widi

    setuju buanget bang…neh gw juga pernah di kibulin ma stringer. gw dijadiin stringer percobaan nya dia dengan upah 50rb per pic. tapi ga pernah dibayar. kuuuuuueeeesel benerr.dilihat dari jumlah uang nya sedikit banget seeh ga terlalu masalah tapi dia kahn kenal n kita temen koq tega boongin temen keq gitu

Leave a Reply