Pelabuhan Sibuk dan Kapal yang Terbakar

Kamis (29/9) pagi, ini adalah pengalaman pertama melihat betapa sibuknya lalu lintas air di Selat Malaka. Sebelumnya, saya mengira kabar semacam itu hanyalah sebuah dongeng belaka, sementara kehadiran perompak hanyalah bumbu penyedap seperti pada umumnya cerita tutur. Dari kapal ferry Penguin yang membawa saya dari Harbour Front di Singapura menuju pelabuhan Batam Center di Kepulauan Riau.

Puluhan kapal, baik yang berukuran besar maupun kecil, diam mengapung di samudera luas, yang dari kejauhan terlihat bagai bangunan yang menyembul dari kedalaman. Ada kapal tanker dan kontainer yang gagah, ada pula kapal-kapal berukuran lebih kecil yang terkesan hanya menjadi penghias –pernik-pernik alam- di antara kapal-kapal raksasa yang antri bersandar, mendekati pelabuhan dengan gedung-gedung pencakar langit di latar belakang pelabuhan.


Rupanya, nahas sedang menimpa APL Dubai sebuah kapal kontainer yang mengangkut ratusan (entah, mungkin malah ribuan) kontainer. Kebakaran, rupanya menimpa sebagian peti kemas di atas kapal itu. Dari kejauhan, yang terlihat hanyalah sebuah kapal pemadam kebakaran dan sebuah lagi (entah apa jenis kapal itu) berusaha memadamkan apinya dari samping kapal.
Memang, kebakaran itu (tampaknya) tak terlalu mengganggu lalu lintas laut, apalagi bagi kapal-kapal dagang yang hendak bersandar di pelabuhan yang sibuk itu. Sebab, posisi dan jarak masing-masing kapal pasti sudah menyesuaikan aturan main menyangkut lokasi parkirnya sendiri-sendiri.

Andai kabut tak menutup langit di atas perairan itu, pasti gambarnya akan menjadi lebih bagus dibanding yang terpampang sekarang. Apa boleh buat, Singapura, Batam dan sebagian langit di atas Pulau Sumatra memang sedang tak ada unsur birunya dalam sepekan terakhir. Awan (mungkin plus asap), bahkan tampak sangat berkuasa menahan sinar matahari agar tak mencapai bumi…..

Leave a Reply