Kisah Pahlawati Devisa dan Garuda

Namanya Sumiati, usianya belum separuh baya. Lahir di Pacitan, besar di Jakarta, dan melalui masa dewasanya di Hongkong. Hampir tujuh belas tahun, Mia -begitu sapaan akrabnya, menggeluti profesi sebagai kanca wingking, alias orang yang selalu berada di ‘belakang’. Berprofesi sebagai pembantu rumah tangga di Hongkong pada sebuah keluarga asal Kanada, Mia menjalani hidupnya penuh gairah. Hari-hari liburnya selalu ‘hidup’, jauh lebih intelek dibanding saat di rumah walau sang majikan seorang dosen Bahasa Inggris di Hongkong.

Mbak Sumiati

Ia dan kawan-kawan, biasa nongkrong di Shelter, semacam flat yang dijadikan sebagai pos pertemuan para buruh migran, atau kerap disebut sebagai TKI. Di sana, ia tak hanya melahap majalah Tempo yang dia beli (seharga HK$35) pada setiap Kamis, tapi sibuk mengurus teman seperantauan yang kebetulan bermasalah dengan majikan. “Saya selalu menganjurkan teman-teman untuk melarikan diri ke Shelter. Sambil dicarikan upaya penyelesaiannya, mereka kami tampung di sana,” ujar Mia kepada blontypix di sela-sela Intenational Peoples Forum di Batam, 17 September petang.

Mia, memang tampak cerdas. Bahasa Inggrisnya bagus, pronounciation-nya oke. Bahasa Kanton juga jago. Di perantauan, ia tampak sangat berdaya, tidak seperti ketika awal-awal hijrah, yang dibayar kurang dari separuh standar gaji pembantu rumah di sana. (Asal tahu saja, Hongkong termasuk sedikit dari banyak negara yang menghargai hak-hak pembantu rumah tangga setara dengan profesi lainnya. Bahkan, pemerintah di sana sudah menetapkan upah minimal untuk pembantu rumah tangga sebesar HK$ 3.620 per bulan, dengan hak cuti dua pekan per tahun plus off pada hari setiap libur)

Bukti betapa berdayanya Sumiati dan 7.000-an temannya sesama pembantu rumah tangga asal Indonesia di Hongkong, adalah ketika mereka mampu menunjukkan bargaining power dengan Garuda Indonesia. Rupanya, kawan-kawan Mia mulai ogah naik maskapai penerbangan nasional lantaran awak pesawat itu terlalu sering meremehkan mereka. “Mungkin para awak Garuda Indonesia terbiasa memperlakukan pembantu rumah mereka sebagai warga kelas bawah, sehingga mereka jengah melayani kami-kami,” tuturnya. Lalu, mereka pun ramai-ramai beralih ke Cathay Pacific atau China Airlines, bahkan Singapore Airlines setiap kali mudik atau hendak balik.

Aksi unjuk rasa perwakilan buruh migran di Batam

Akibat ‘boikot’ itu, manajemen Garuda Indonesia kelabakan, sebab semangat nasionalisme kaum pekerja migran itu tak beroleh respon sepadan. Lantas, kata Mia, dimulailah program ‘rekonsiliasi’ antara Garuda Indonesia dengan mereka. Para pengurus organisasi kaum migran (ada tujuh di Hongkong) mulai didekati, dan diundang ke beberapa acara yang diselenggarakan oleh Garuda Indonesia, plus bantuan sponsorship setiap kali organisasi mereka punya hajatan. Juga, pemberian diskon tiket penerbangan bagi para aktivis buruh migran yang memang kerap diundang pada pertemuan-pertemuan organisasi serupa di berbagai negara.

Hasilnya memuaskan. Sejak setahun terakhir, kaum pekerja migran sudah kembali menggunakan Garuda Indonesia. Apalagi, perusahaan milik negara yang sedang dibelit utang itu, mulai rajin memberi diskon hingga 50 persen untuk tamu-tamu buruh migran di Hongkong, termasuk ketika mengundang Sheila on 7 bersama rombongan untuk menghibur mereka. “Kami diberi satu tiket gratis setiap ada pembelian 10 tiket. Dan tiket itu bisa dipakai teman-teman ketika harus menghadiri pertemuan pekerja migran,” ujarnya.

Harapan Mia dan kawan-kawan terhadap Garuda Indonesia tinggal satu: yakni perusahaan itu mau membuka rute penerbangan langsung Hongkong -Surabaya. Sebab, provinsi Jawa Timur merupakan penyumbang devisa dolar Hongkong terbanyak kepada Indonesia.

Leave a Reply