Surat dari Libanon


Dua pemuda di Surakarta sedang mengisi formulir pendaftaran pasukan jihad Libanon/Palestina, Jumat (11/2) pagi

Seorang sahabat, sebut saja namanya Adjat. Hampir sepekan ia berada di Libanon, tepatnya di perbatasan negara itu dengan Israel. Kami sering bertukar kabar, bahkan frekwensinya jadi lebih tinggi dibanding ketika Adjat berada di Surakarta atau di Jakarta. Mungkin, dia bukan siapa-siapa bagi kita, terlebih bila kita mendudukkan posisinya sebagai pekerja. Tapi, semua kesaksian darinya bisa kita lihat di layar kaca televisi kita, sambil asyik mengunyah kacang atau menyeruput teh panas

Kita tegang menyaksikan kekerasan demi kekerasan yang dilakukan pasukan Israel di Libanon, termasuk serangan membabi buta yang tak hanya mengenai tentara musuhnya, namun termasuk menewaskan anak-anak dan perempuan sipil tak bersalah. Tapi, sang kawan -yang kutahu sudah kehilangan saraf takut itu sejak bertahun-tahun lalu, justru minta bercanda meminta kiriman makanan dari Indonesia.

Begini bunyi pesan yang dikirim Rabu, 9 Agustus pukul 22.19 WIB (sekitar pukul 7 malam waktu Beirut):

mungkin serangan israel akan lebih dahsyat malam ini, roket yg diluncurkan hisbullah hari ini menghajar kota kfar giladi di israel dan membunuh 12 orang. skrg aku lg istirahat dan berfikir….lho, aku kan blom kemasukan makanan dr tadi pagi…..kirim soto gading bisa?

Saya bingung menjawabnya. Mau kujawab serius, takut dianggap tak tahu diri atau tidak mau ‘menemani’, tapi kalau kujawab cengengesan, takutnya dituduh menganggap persoalan di sana tak serius. Repot memang. Akhirnya, aku berlagak bijak tapi memilih kalimat standar untuk membalasnya dengan menyatakan selalu berdoa untuk keselamatannya.

Adjat, memang akrab dengan perang -bahkan mungkin seperti kedekatan kita dengan keyboard komputer. Tapi, kadang-kadang saya merenung, mikir jero. Kenapa orang suka berperang, seperti halnya yang baru saja saya saksikan Jumat (11/8) pagi, ketika ratusan pemuda dan orang-orang berusia mendekati separuh baya, bersemangat ingin turut berperang di Libanon atau Palestina.

Saya tahu, keinginan mereka berperang tak lebih sekadar dilatari alasan emosional semata (entah karena dendam terhadap Israel), kendati beberapa dari mereka saya yakini didorong oleh panggilan jiwa dan semangat solidaritas seiman-seagama. Tapi, kenapa harus terlibat perang? Bukankah lebih baik melakukan ‘jihad’ kemanusiaan, misalnya menggalang dana untuk mensuplai obat-obatan, makanan dan pakaian bagi para korban perang?

Mungkin, mereka sudah imun dengan kekerasan. Atau, sebaliknya justru karena belum pernah mengalami perasaan tertekan yang mendalam seperti pengalaman Adjat di medan perang.

aku br pulang..(disortir)……penguburan. suasananya emosional banget. satu keluarga, ibu dan 4 anaknya meninggal. salah satunya hancur lan gosong segede fino(nama anak bontot Adjat, baru masuk Sekolah Dasar, bulan lalu), aku hampir nangis shootingnya….. moga2 kegilaan ini cepet selesai ya…. [Rabu, 9 Agustus pukul 22.19 WIB (sekitar pukul 7 malam waktu Beirut)]

Semoga, mereka mengurungkan niatnya untuk ikut berperang dan memilih jihad dalam bentuk yang lebih konkret dan bermanfaat, termasuk mencarikan solusi damai demi tata kehidupan lebih bermartabat pada masa yang akan datang.

STOP PERANG, HENTIKAN KEKERASAN!

Leave a Reply