Bersikap Tegas terhadap Agressor

Protes Anti Perang di depan Kedutaan Israel di Seoul, Korea Selatan, 10 Agustus 2006. Foto: JUNG YEON-JE/AFP (Sumber: website Australian Associated Press)

Israel bagai raksasa tak terkalahkan. Kebiadabannya nyaris sempurna karena didukung habis-habisan oleh pemerintah Amerika. Bukan hanya Palestina, Libanon sudah terkena getah murka tentara Yahudi. Suriah dan Iran sudah digertaknya, tinggal menunggu kejutan baru (yang sesungguhnya tak sudah bisa diduga sebelumnya, sebab markas Perserikatan Bangsa-bangsa saja tak luput dari serangan bom mereka). Hampir seluruh penduduk bumi miris, marah dan mengutuk kebiadaban Israel.

Keluarga pengungsi Libanon di sebuah pantai di Libanon bagian selatan, 9 Agustus 2006. Foto: MOHAMED MESSARA/EPA (Sumber: website Australian Associated Press)

Di Indonesia, wacana jihad sudah berseliweran. Gemanya, bahkan mengalahkan rencana pemerintah yang ingin terlibat dalam pengiriman tentara -bersama Malaysia dan Brunei, untuk misi perdamaian di Timur Tengah. Simaklah berita televisi dan koran-koran kita, yang tak henti menyiarkan rencana kelompok ini, laskar itu dan front tertentu ke Palestina/Libanon. Apa yang akan terjadi di tanah seberang bukan lagi jadi pertimbangan. Mati syahid lebih mulia daripada mengutuk dan meratap sepanjang hari. Begitu argumentasi para mujahid.

Banyak orang bisa memahami kegelisahan sebagian masyarakat kita yang ingin berjihad di sana. Tapi, banyak pula pihak yang mulai kuatir dengan besarnya semangat perang sebagian lainnya. Invasi Irak atas Kuwait yang kemudian melibatkan Amerika telah memicu sentimen agama di Indonesia pada awal 1990-an. Seolah-olah, peristiwa itu menjadi kelanjutan Perang Salib.

Tentara Israel menangkap anggota Hisbullah di Libanon Selatan yang berbatasan dengan Israel. Foto: AFP (Sumber: http://news.yahoo.com)

Beberapa tokoh lintas-agama di Surakarta, pun berembug, sekaligus mengantisipasi bila gairah jihad sebagian masyarakat di sekitar Surakarta tak terbendung, baik dalam pengertian kwalitatif maupun potensi jumlah calon mujahid.

Maklum, label bahwa Surakarta merupakan ’sarang teroris’ telanjur mendunia. Dan, anehnya orang percaya pada labelling semacam itu, terlebih setelah pemerintah Amerika Serikat, Australia dan Perserikatan Bangsa-bangsa menyebut Ustad Abu Bakar Ba’asyir bersama sejumlah nama seperti Dulmatin, Umar Patek dan sebagainya sebagai anggota satu jaringan teroris yang harus diburu dan dipenjarakan. (Laporan Sidney Jones tentang Ngruki Network jelas turut memperkeruh suasana dan memunculkan efek baru, yakni lahirnya gerakan radikalisme baru)

Foto: David Furst/AFP (Sumber: http://news.yahoo.com)

Beberapa gagasan antisipasi itu, antara lain adalah membuat sebuah kampanye untuk menegaskan bahwa konflik Israel-Palestina yang kini melebar ke Libanon, bukanlah konflik agama.

Jadi, tak perlu lagi ada pihak-pihak yang ikut-ikutan ‘latihan perang’ atau berekesperimen di dalam negeri, hanya lantaran niatnya berjihad di Paletina-Libanon tak kesampaian karena terkendala dana dan masalah-masalah teknis lainnya.

Secara pribadi, sebenarnya saya merindukan adanya aksi bersama –entah berupa demonstrasi atau bentuk-bentuk kegiatan lainnya– yang diikuti umat Islam dan umat Kristiani di Surakarta untuk mengutuk agresi militer Israel dan menuntut penghentian perang. Juga, mendesak Perserikatan Bangsa-bangsa untuk bertindak tegas dan adil dalam menyikapi konflik di Timur Tengah, meski harus bersikap keras terhadap Israel dan Amerika.

Leave a Reply