Opera Jawa Garin

Film terbaru Garin Nugroho –Opera Jawa, baru saja diputar dalam rangka pembukaan semacam Festival Film tingkat Asia (yang dimotori Garin dan NETPAC) di Yogyakarta, Senin (7/8) malam. Banyak yang berdecak kagum, terutama karena film itu dianggap puitis dan gambarnya yang memang sungguh indah (harap maklum, urusan gambar pada film ini ditangani oleh ‘orang bersih’ dari Malaysia, yang selama ini dikenal lewat garapan iklan-iklannya yang mayoritas merupakan produk toiletris dan kosmetik). Namun, tak sedikit pula yang nyeletuk, bahwa film Garin kali ini terlalu nyeni.

Tapi, yang namanya sudah watak saya, film itu tetap saja ‘layak’ diusilin. Soal bahasa, misalnya, telah menerbitkan kecurigaan saya terhadap seorang Garin, keturunan Jawa yang juga cukup lama hidup di Yogyakarta dan Semarang. Jangan-jangan, Garin seperti umumnya generasi Jawa kelahiran 1970-an hingga 1990-an, yang mengenal Bahasa Jawa hanya ‘hanya’ lewat bahasa tutur dalam pergaulan sehari-hari, yang sebagian kosa katanya justru merupakan serapan (kalau tak ingin disebut gado-gado) dari Bahasa Indonesia?!?

Dalam dialog yang berupa tembang (mengadopsi langendriyan), Opera Jawa menggunakan bahasa gado-gado. Bukan Bahasa Jawa halus (inggil) dan tengahan madya, namun bahasa campur aduk antara Jawa dengan kosa kata serapan dari Bahasa Melayu/Indonesia. Akibatnya, watak kata seperti yang seharusnya dikehendaki dan menguatkan suasana menjadi kurang terasa bobotnya. Kurang nges, kata orang Jawa.

Atas keraguan ini, Garin sudah menyatakan secara lisan kepada saya, bahwa pilihan bahasa gado-gado itu memang disengaja. Alasannya, kultur dan pola pikir masyarakat Jawa memang sudah berubah. Ya sudah, tak apalah. Namanya juga teman sendiri…. mosok mau berantem! :p Aku cuma mengingatkan pada dia, bahwa subtitel Bahasa Indonesianya juga banyak yang mengganggu. Untuk orang non-Jawa, mungkin tak ada persoalan. Namun, kalau yang membaca subtitel itu orang Jawa yang masih (sok) nJawani seperti saya, pasti akan misuh-misuh. Beberapa terjemahan dialognya dadi orang muni!

Soal gambar, pasti oke. Kita mafhum dengan selera gambar GN –inisial sutradara yang sempat lama tinggal di Karang Tengah Permai itu. Tapi, kehadiran Theo (eh, Teoh Eng Gian, Director of Photography Opera Jawa) yang hanya beberapa hari menjelang pengambilan gambar, menurut saya menjadi kelemahan atas produk film yang dibuat khusus dalam rangka peringatan 250 tahun komponis besar WA Mozart itu. Teoh seperti fotografer atau kamera person asing yang terjebak pada eksotika kultur, alam dan segala macam yang dijumpainya di Indonesia (seperti juga kecenderungan kita saat berada di tempat yang sama sekali baru dijumpai). Akibatnya, hal yang biasa menurut kita menjadi sangat luar biasa di mata Teoh, sehingga ketika menyaksikan gambar-gambarnya, akan terasa sangat ekstrem. Opera Jawa seperti menyodorkan lukisan surealis, meski subyeknya sudah lama kita kenal sebagai yang realis.

Tapi, ya itulah Garin. Seorang sutradara yang memiliki kemampuan luar biasa, terutama dalam menggabungkan beragam potensi (manusia, alam, produk budaya) yang dijumpainya. GN sangat jitu memilih Rahayu Supanggah, etnomusikolog yang piawai memainkan alat musik rebab (alat ini sangat cocok untuk mengungkapkan perasaan sedih, ngangut, dan ungkapan batin yang mendalam) sebagai penata musik untuk filmnya. Juga pelibatan Eko Supriyanto yang kental keterpengaruhan vokabuler gerak American Dance-nya, atau Martinus Miroto yang cenderung fanatik pada tari tradisi alusan gaya Yogyakarta. Bahkan, keterlibatan sejumlah perupa dan seniman instalasi seperti Sunaryo, Nindityo, Agus Suwage, Tita Rubi, S. Teddy dan almarhum Hendro Suseno, juga turut menghidupkan cerita lewat setting ciptaan mereka.

Andai tak bertemu Rahayu Supanggah, saya yakin Opera Jawa tak bakal seberhasil ini. Bukan semata karena kemampuannya membangun suasana percintaan yang getir melalui suara rebab, namun juga ditopang oleh sosok Mas Panggah yang kaya referensi barat sehingga ia tak sulit menangkap apa yang diinginkan Garin selaku sutradara. [Maklum, kebanyakan (maaf) tukang ngrebab kita adalah seniman-seniman ndesit, yang hanya paham roman agraris, atau roman di balik panggung tobong ketoprak atau wayang orang. Kalaupun agak ‘agung’, paling ya saat ngamen ngiringi karonsih dalam resepsi pernikahan]

Tapi sudahlah, mau apalagi. Wong maunya Opera Jawa memang seperti itu. Apapun, film itu tetap menyisihkan sedikit optimisme pada saya. Bahwa suatu ketika, penonton film itu (terutama yang tidak tinggal di Yogyakarta atau Surakarta), pasti akan terpesona. Kalau sudah begitu, mereka akan segera menghubungi travel agent dan piknik ke Jawa. Berarti, Opera Jawa akan menyemarakkan kembali dunia pariwisata kita, yang terpuruk sejak ada Bom Bali.

Selamat datang devisa!!!

RALAT:
– Nama lengkap Theo sudah dicantumkan
– Komponis Rahayu Supanggah yang semula disebut terlibat dalam film
Bulan Tertusuk Ilalang ternyata keliru. Sebab yang menyusun ilustrasi musik dimaksud adalah almarhum Ki Sutarman
(Ralat dibuat pada Kamis, 10 Agustus 2006 pukul 14.47 WIB. Mohon maaf atas kekeliruan tersebut, terima kasih untuk Gunawan Rahardja)

Leave a Reply