Lucunya Sinetron Kita

Siapa yang menguasai media (massa), maka dialah yang akan memainkan peran besar dalam berbagai sisi kehidupan publik. Tak aneh, kalau kekuasaan $oeharto yang langgeng tiga dekade karena ditopang kepiawaiannya menguasai media massa lewat produk-produk kebijakan yang mengekang kebebasan pers.

Kini, jaman sudah berubah. Euforia kebebasan menjangkiti semua kalangan, terlebih setelah regulasi media massa dibuka sedemikian longgar sejak era Habibie yang lantas diteruskan oleh pembubaran Departemen Penerangan oleh Presiden Abdurrahman Wahid. Banyak orang berlomba-lomba membuat perusahaan pers, dari yang konvensional lewat media cetak, internet dan penyiaran.

Sayangnya, kekuasaan pemilik industri media massa masih kalah dibanding yang dimiliki para pedagang, para content provider dan content developer. Lihatlah saluran seluruh stasiun televisi kita. Kebanyakan jam tayang (slot) sudah dimiliki para pedagang karena alasan yang sangat beragam kendati sesungguhnya bermuara pada dalih yang seragam: keterbatasan sumberdaya manusia!

Maka, tak mengherankan kalau jenis tayangan yang mendominasi televisi kita hanya berupa hiburan, utamanya gosip selebritis [yang baru saja diharamkan oleh para kiai Nahdlatul Ulama karena alasan bergunjing (ghibah) itu merupakan perbuatan dosa]. Selebihnya, berupa sinetron-sinetron murahan yang diproduksi secara massal dengan tema-tema seragam. Tak kurang sinetron kita dibuat oleh tangan-tangan ceroboh, berselera rendah dan tak paham semiotika.


Kekurangan itu, rupanya masih belum cukup, meski kritik sering datang bertubi-tubi. Alhasil, sinetron kita menjadi tambah lucu dan menjengkelkan. Lihat saja sinetron-sinetron ‘Islami’ produksi MD Entertainment dan production house lain di saluran televisi kesayangan Anda. Ada yang seragam namun kerap dilupakan, ‘hanya’ karena dianggap remeh. Penyebutan Pak Ustad hampir selalu hadir. Meski tampak sepele, hal itu sesungguhnya menunjukkan betapa penulis skenario, sutradara dan para artisnya sesungguhnya lemah dalam berbahasa (kendati kalau mau dikuliti lagi, sesungguhnya hal itu menunjukkan keringnya kadar keberagamaan mereka).

Hal-hal lucu lainnya yang sering dilewatkan adalah yang menyangkut detil-detil artistik. Seorang tukang becak yang maunya mewakili kemiskinan misalnya, ditampilkan dengan pakaian bersih dan tampak baru dibuat untuk keperluan shooting. Seorang anak dari keluarga miskin juga diperankan oleh pemain ganteng, berkulit bersih mulus, dan gigi berkawat. (Padahal, sinetron itu ingin menggambarkan keluarga miskin, yang bahkan untuk makan saja susah namun ’sanggup’ membeli kawat gigi berharga jutaan untuk sang anak) .

Ah, mungkin saya terlalu usil dan cerewet………

Leave a Reply