Nonton Pesilat Main Bola

Baru tahu, ternyata nonton pertandingan sepakbola memang mengasyikkan. Padahal, semula saya sudah ogah-ogahan menyaksikan putaran delapan besar Liga Djarum Indonesia. Andai bukan karena tuntutan perut (maklum, jongos! :p), mungkin saya sudah melewatkan pengalaman akan peristiwa yang ternyata bisa menjadi medium katarsis itu. Bebas berteriak, boleh pula memaki –asal tak terlalu keras dan menusuk hati. Pokoknya happy!

Seperti halnya para supporter, saya memanfaatkan hari-hari pertandingan untuk sekadar melepas penat pikir, mengalihkan (sejenak) kemarahan akan kebiadaban Amerika dan Israel terhadap rakyat tak berdosa di Palestina dan Libanon. Lebih dari itu, saya bisa memanfaatkannya untuk nyapih hawa karena setiap saat rasanya pingin nesu atas sikap para pemimpin republik yang memiliki hobi berkelahi hingga kewajibannya mengatasi bencana yang dialami banyak rakyatnya menjadi keteteran.

Oh…. Lihatlah kembang api itu! Yang dibakar dan diarahkan ke tengah-tengah lapangan saat dua kesebelasan berlaga adu kuat dan kebolehan di Stadion Manahan, Surakarta, 27 Juli lalu. Andai kembang api itu jatuh tepat pada saat para pemain sedang berdesakan berebut bola, mungkin akan muncul sejarah baru: pemain sepakbola terpaksa harus keluar lapangan karena menderita luka bakar!

 Seperti saya, mungkin para supporter yang jauh-jauh datang dari Semarang dan Pasuruan itu juga punya masalah pribadi, meski penyebabnya bisa pula berbeda-beda (ingat, ada pula fans berat klub sepakbola yang hobi berkelahi sehingga bisa disewa pemimpin klub untuk bikin ribut saat kekalahan menghampiri). Karena itu, di stadion, dalam suasana seperti itu, mereka bisa menumpahkan semua ekspresi perasaannya, tanpa perlu ragu, apalagi malu.

Apakah memang begitu potret psikologi sebagian masyarakat Indonesia? Entahlah. Sebagian masyarakat kita, sepertinya masih mengidap penyakit kejiwaan yang telanjur kronis. Di lingkungan sosial terkecil seperti keluarga pun, sudah banyak masalah. Ada yang disebabkan oleh pengangguran, himpitan ekonomi, hingga persoalan sosial-politik lokal. Karena itu, berbagai peristiwa yang bisa mendatangkan kerumunan akan segera berubah fungsi menjadi medium katarsis. Pertandingan sepakbola dan pertunjukan musik (campursari, dangdut, tarling) adalah beberapa contoh peristiwa yang mudah dijumpai di sekitar kita.


Namun, ekspresi semacam itu rupanya bukan monopoli orang kebanyakan. Para pemain sepakbola kita, pun seperti kejangkitan penyakit serupa. Sportifitas yang memiliki makna mulia bila dijalankan dengan sungguh-sungguh pun, rupanya sudah dihindari oleh para olahragawan kita. Selama sepekan lebih pertandingan Liga Djarum Indonesia 2006 berlangsung, para penonton selalu disuguhi pertunjukan yang jauh dari semangat sportif itu. Sliding, tackling yang juga dibenarkan dalam hukum sepakbola lebih banyak dipelesetkan menjadi trik untuk mengulur waktu, psy war hingga mencederai musuh demi kemenangan.

Sekali lagi, saya benar-benar baru tahu, kalau ternyata dunia persepakbolaan kita memang lucu juga. Lebih menghibur dibanding Srimulat atau penampilan Aming. Apalagi kalau melihat kemampuan mereka bermain silat. Wah! Kaki bisa kemana-mana, bahkan ketika tak ada bola. Sebagian besar juga punya gaya seragam: mengangkat kedua tangan setelah sukses mengakibatkan lawannya berguling-guling (dan biasanya akan berlagak mengerang kesakitan). Seolah-olah, mereka melakukannya secara tak sengaja. Sebuah trik kuno dan kasar yang menggelikan.

Leave a Reply