Iklan Promortalitas?

Beli kijing (nisan) dapat bonus kijing (bukan Kijang)

Kiat sebuah toko marmer di Surakarta, Jawa Tengah dalam menpromosikan produknya melalui spanduk ini bisa dibilang cerdik . Unik dan menggelitik, meski sedikit norak. Yang jelas, pilihan warna dan tipografinya eye catching. Apalagi, penempatannya agak strategis di proliman Banjarsari yang padat, dan bisa dilihat dari tiga arah utama.

Kata Kijing -yang padanan katanya adalah nisan- ditulis dengan ejaan lama, seolah menyiratkan pesan bahwa iklan itu ditujukan untuk kalangan usia di atas 40 tahun. Sementara kata ‘Ruwah’ yang berarti bulan Sya’ban dalam penanggalan Islam merujuk pada tradisi nyadran, yakni tradisi ziarah kubur ke makam leluhur dan keluarga, yang hingga kini masih dipegang teguh oleh kebanyakan masyarakat di sekitar Surakarta yang sinkretis.

Nyadran, kemungkinan adalah ‘modifikasi’ para wali ketika memperkenalkan agama Islam di tanah Jawa. Langkah itu ditempuh para wali, karena untuk melakukan persuasi yang efektif terhadap orang Jawa (agar mau mengenali dan masuk Islam) harus menggunakan strategi yang tepat dan mesti hati-hati. Maka, ketemulah formulanya. Karena kebanyakan orang Jawa masih menganut animisme yang mengagungkan arwah leluhurnya, maka simbol-simbol kematian harus diadaptasi sedemikian rupa. Hasilnya, adalah kompromi berupa penempatan nisan di atas mayat yang dikuburkan, sekaligus untuk penanda jatidiri si mayat agar generasi penerus sang mayat bisa mendatangi untuk mendoakan sang arwah sewaktu-waktu.

Kenapa Ruwah? Mungkin saja karena bulan itu mendekati Ramadhan, saat orang Islam harus bersuci dengan cara berpuasa, berpantang makan-minum dan mengendalikan hawa nafsu, baik dalam pengertian sekadar ritual makan-minum, ‘manajemen’ emosi dan amarah hingga perilaku seksual.

Maka, bukan hal aneh kalau tradisi nyadran sengaja dikaitkan dengan kewajiban berpuasa yang berpuncak pada hari kemenangan, yakni hari raya Idul Fitri.

Asal tahu saja, bagi sebagian masyarakat Jawa di perantauan, nyadran kerap diposisikan lebih tinggi dibanding hari lebaran. Apalagi, ketika kemudian tradisi mudik lebaran juga berarti masa perjuangan penuh risiko untuk bertemu dengan sanak-saudara, sebagian memilih pulang kampung saat nyadran. Pada saat-saat demikian, biasanya pula orang-orang Jawa di perantauan akan berusaha mengalokasikan anggaran untuk perbaikan batu nisan atau kompleks makam keluarga, terutama para leluhur yang dihormati.

Jadi, iklan Beli Kidjing Dapat Hadiah Kidjing bisa disebut sebagai strategi jitu pula dalam upaya menggaet konsumen. Si pemilik toko, rupanya mengerti betul tradisi dan psikologi kaum perantau Jawa yang hingga kini, pun masih banyak yang mewarisi tradisi sinkretis animisme-Islam itu…..

Leave a Reply