Birokrasi Melahirkan Pengemis

Sahrul Fuad Nurrohman masih berusia enam bulan. Wajahnya penuh bintik merah, karena dua malam terakhir selalu dikeroyok nyamuk. Jumlah serangga jenis ini mulai berbiak pesat sejak hujan mengguyur Dusun Teluk, Desa Kragilan di Gantiwarno, jauh di selatan Kabupaten Klaten, Sabtu (27/5) malam atau belasan jam setelah gempa berkekuatan 5,9 skala Richter meluluhlantakkan desa berpenghuni 1.000 orang lebih itu. Kotoran hewan, sisa makanan yang tumpah berbaur dengan puing rumah dan perabotan. Sebuah media pembiakan yang tepat bagi tumbuhnya nyamuk-nyamuk yunior.

Jalan utama yang menghubungkan dusun itu dengan dunia luar merekah. Satu-satunya jembatan di desa itu juga hancur, meski masih bisa dilalui kendaraan roda dua. Namun, persoalan yang muncul kemudian bisa ditebak: desa itu tak bisa diakses para relawan untuk sekadar membagi bahan makanan atau obat-obatan. Tragis! Satu-satunya warung yang menyediakan sembako dan kebutuhan sejenis obat nyamuk, pun roboh. Namun, dagangannya habis dijarah pencuri yang datang dari luar desa itu, pada malam pertama, ketika penduduk panik mencari sanak saudara dan mengurus keluarga, khususnya para balita dan orang tua.

Penderitaan mereka -juga ribuan kaum ‘tunawisma’ dadakan di berbagai desa, tak kunjung sirna. Bahkan hingga tiga hari usai gempa, tak kunjung datang bantuan. Jangankan makanan dan obat-obatan. Tenda untuk pengungsi pun belum tersedia. Mereka pun tidur beratap langit, dengan alas tikar seadanya, yang berhasil dikais dari puing-puing bangunan mereka.

Rakyat mulai cemas. Lapar tak bisa ditahan, dahaga tak terbendung. Para orang tua yang memang tak sanggup berbuat apa-apa, lantas membiarkan anak-anak mereka menadahkan tangan setiap ada mobil melintas. Mengemis. Mobil telah ditegaskan sebagai simbol status sosial, sehingga yang papa ‘wajib’ meminta belas kasih kaum kaya. Tak semua dermawan memang. Sebab, kemacetan jalan-jalan menuju lokasi bencana telah dipenuhi wisatawan dadakan. Di balik kaca mobil berpendingin udara, mereka berjalan pelan, melihat kiri-kanan, sesekali mengeluarkan handphone untuk sekadar membantu ingatan, atau dijadikan sekadar kenang-kenangan.

Minimnya bantuan pemerintah menjadi bukti mandulnya kepekaan sosial mereka. Seorang relawan bantuan komunikasi bertutur, sejak gempa terjadi, Bupati Klaten memilih keliling kota. Di Kecamatan Tulung, Selasa (30/5) lalu, ia dijadwalkan menyerahkan bantuan bagi murid-murid SMP di sana, sehingga kedatangan Presiden Yudhoyono hanya disambut Wakil Bupati. Yang tak kalah menyedihkan dan membuat banyak orang geram dan para korban gempa marah adalah keputusan Bupati yang mengatur mekanisme distribusi bantuan: setiap warga diminta membuat proposal permohonan bantuan, lengkap dengan data jumlah korban. Tentu, proposal harus dikuatkan dengan stempel Kantor Desa dan Kantor Kecamatan.

Entah apa yang bakal terjadi kemudian. Ketika para korban membuat rumah-rumahan ala kadarnya, bahkan di lahan persawahan, sementara pejabat pemerintah bersama staf lebih asyik menghitung dan mencatat jumlah bantuan. Semoga, rakyat yang kian lapar tidak marah sehingga meluapkan penderitaannya dengan protes sosial…. Semoga.

Leave a Reply