Merapi Tak Jadi Makan Korban

Terhadap Gunung Merapi, siapapun harus awas. Meskipun ia ‘hanya’ berwujud gundukan tanah, namun geliatnya siap memakan korban. Salah satu calon ‘korban’ yang selamat adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Stasiun Metro TV, selama dua hari melansir rencana Wakil Presiden mengumumkan status Gunung Merapi dari status ‘waspada’ menjadi ‘awas’ lewat running text. Masih menurut stasiun televisi milik Surya Paloh itu, disebutkan bahwa Kalla akan mengumumkan status baru itu pada Kamis (11/5) saat dirinya mengunjungi sejumlah pos pengungsian ‘calon korban potensial’ letusan Merapi di Sleman dan Magelang.

Foto diambil dari Deles, Klaten, Sabtu (13/5) pukul 18.34 WIB


Entah kenapa, Daeng Kalla tak jadi mengumumkan status baru itu, yang rencananya dilakukan di Pendopo Kabupaten Magelang. Sebab, kalau hal itu dilakukan, maka kewibawaan Jusuf Kalla beserta lembaga yang diwakilinya -Istana wakil Presiden, akan terkena getahnya. Sebab, keputusan status Merapi bukanlah keputusan politik, melainkan keputusan ilmiah yang mendasarkan pada situasi terakhir keadaan perut Merapi dengan rujukan fakta dan data akurat menyangkut isi ‘gundukan raksasa’ itu.

Untung, Daeng Kalla awas terhadap dampak keputusannya atas perubahan status Merapi. Jadi, dia tak jadi kecolongan. Sebab, ratusan ilmuwan (bahkan ribuan kaum intelektual di seluruh dunia) sedang memantau setiap gerak-gerik Merapi, apalagi sebagian dari mereka akan berkumpul di Yogyakarta untuk menggelar hajatan besar, memperingati 1.000 tahun letusan dahsyat Merapi, yang ketika itu, 1006, telah menelan korban sedikitnya 3.000 nyawa melayang sia-sia. Bukan tak mungkin, majalah National Geographic akan mengangkat isu Gunung Merapi sebagai laporan utamanya pada bulan-bulan itu.

Foto diambil dari Deles, Klaten, Sabtu (13/5) pukul 19.18 WIB


Saya geli ketika membaca running text di Metro TV itu dan berharap kesalahan semata-mata ‘berada pada pihak redaksi Metro TV‘ dibanding Istana Wakil Presiden. Sebab, kesan yang muncul, status bahaya Gunung Merapi bisa disejajarkan dengan kasus politik kenegaraan sehingga memerlukan keputusan politik untuk mengubah statusnya, bahkan melalui pernyataan resmi seorang wakil presiden. [Kadar geli itu hampir sejajar dengan peristiwa beberapa waktu silam, ketika Presiden Megawati Soekarnoputri diberitakan oleh banyak media massa akan menggelar sujud syukur (maaf, saya lupa peristiwa persisnya). Sebab, sepanjang yang saya tahum sujud syukur adalah ungkapan spontanitas atas rahmat Tuhan, bukan sesuatu yang direncanakan, apalagi diatur oleh sebuah aturan protokoler].

Daeng, selamat ya….. Kali kemarin, Anda tak kebablasan. Sebab kini Anda tahu, status AWAS untuk Merapi baru diumumkan pemilik otoritas ilmiah/akademisnya, pada Sabtu (13/5) pukul 8.30 WIB atau dua hari setelah kunjungan Anda ke lokasi pengungsian.

Leave a Reply