SMP 24 JAM

Kewajiban belajar memang tak mengenal batas waktu. Begitu pun dengan sumber belajar yang tak pula terbatas. Sejak pagi hingga datang pagi pada esok hari, kita boleh terus belajar –asal kuat fisik dan mental. Cuma, jangan sekali pun Anda bernafsu menyekolahkan anak, keponakan, cucu, adik, atau apapun Anda menyebutnya, ke SMP yang satu ini. Walau buka 24 jam, ‘sekolah alam’ ini sama sekali tak cocok untuk keluarga Anda.

‘Sekolah alam’ yang menurut papan penunjuk disebut SMP 24 JAM tak lain adalah sekolah yang sesungguhnya, yang cocok dan hanya cocok untuk pemerhati lingkungan, peneliti sosial, aktivis lembaga swadaya masyarakat atau pejabat pemerintahan.

Di SMP 24 JAM ini, seorang pejabat pemerintah bisa menguji kecakapannya dalam berhitung. Misalnya, total pemasukan bulanan atas pungutan retribusi sebesar Rp 2.000 setiap truk berisi pasir atau batu kali yang melewati pos penjagaan, yang frekwensinya bahkan dua truk per menit! Dari angka rupiah tadi, bisa pula dijadikan dasar untuk mengutak-utik anggaran, misalnya berapa biaya yang harus dialokasikan untuk perbaikan aspal dan sebagainya. (Tentu saja, ukuran kemahiran berhitung tetap akan ditentukan oleh kepandaian menyulap angka dalam pembukuan dan menyelipkan sebagian angka ke dalam buku tabungan, dan lolos dari penelusuran petugas PPATK)

Bagi pemerhati lingkungan, peneliti atau NGO-wan/NGO-wati, menghitung jumlah pasir yang diangkut sekian ratus atau ribuan truk per hari bisa melahirkan banyak gagasan baru nan kreatif. Misalnya, bisa dijadikan bahan untuk menggertak pemerintah agar mengalokasikan sebagian dana untuk perbaikan tingkat kesehatan masyarakat di sepanjang jalan yang dilalui truk-truk pengangkut pasir, sebab debu tebal terus beterbangan menyelusup melalui mulut, hidung lalu ke paru-paru dari pagi hingga pagi kembali. (Saya yakin, banyak pejabat lebih suka mencari keuntungan pribadi daripada berbuat baik untuk rakyatnya, meski tak perlu mengeluarkan dana dari saku pribadi)

Namun, kerusakan lingkungan yang berdampak pada ketidakseimbangan ekologis bisa pula dimanfaatkan sebagai senjata bagi banyak pihak (tak peduli aparat negara, peneliti maupun aktivis Lembaga Sedot Money, atau kolaborasi antarmereka) untuk memupuk keuntungan pribadi (dan kelompok). Tentu, banyak cara bisa dipilih, termasuk menggedor para cukong pemilik alat-alat berat di lokasi penambangan untuk sekadar ‘berbagi keuntungan’.

Tanpa mengurangi rasa hormat penulis kepada banyak pihak dalam kategori yang sudah saya sebut di atas, ada baiknya kalau ‘geliat’ Gunung Merapi kali ini dijadikan sebagai momentum untuk menebar kebajikan. Pasir dan bebatuan yang disediakan alam sebanyak 1,2 juta meter kubik per tahun, tentu sudah mendatangkan banyak keuntungan (tak usah jauh-jauh membandingkan pendapatan dan manfaat yang diperoleh para sopir truk, kernet, tukang bongkar-muat beserta keluarganya, sebab mereka benar-benar memeras keringat untuk memperolehnya).

Tapi, bagaimana nasib anak-anak di sekitar lokasi penambangan dan di sepanjang jalan yang telah menjadi korban debu beterbangan? Ketika berangkat sekolah, mereka sudah dipaksa menghirup debu dengan beragam partikel yang dikandungnya. Begitu pula saat mereka pulang sekolah. Adakah yang peduli dengan kondisi kesehatan ibu-ibu yang sedang menyusui, sementara bagi di gendongan pun turut menghisap udara yang penuh kotoran?

Gunung Merapi dan penambangan pasir Kali Woro adalah guru, yang selama 24 jam penuh mengajarkan kepada kita agar selalu berkaca, berpikir dan berbuat, untuk orang lain dan untuk masa depan peradaban. Sekali-kali, jangan salah membaca! Penambangan yang beroperasi selama 24 jam nonstop berarti pelajaran yang tak pernah jemu menggedor nurani dan akal sehat kita.

Leave a Reply