Cerita Pengungsi Merapi

Hari-hari menjelang bahaya Gunung Merapi adalah hari-hari pusing pagi aparat pemerintah daerah dan relawan di sekitar gunung yang sedang menggeliat itu. Sementara, dibanding Magelang, Sleman dan Boyolali, Klaten termasuk yang sukses mengurus warganya. Meski semua sama-sama percaya klenik — tahayul bahwa letusan Merapi tak akan terjadi tanpa wangsit sebelumnya, namun warga sekitar Deles, Kecamatan Kemalang lebih siap dan rela mengungsi barang beberapa hari.

Tapi, yang namanya masalah tetap saja menjadi problem (upfff!, ya sudah jelas!). Orang-orang gunung, yang memang akrab dengan alam berikut tanda-tanda alam, selalu diliputi kecemasan ketika dipaksa harus menganggur -dalam pengertian hanya disuruh duduk, makan, tidur dan seterusnya selama berhari-hari- hanya menunggu kabar yang belum pasti, kapan Merapi nakal memuntahkan amarah.

Mereka bukan semata bete lantaran tak lagi bisa pergi merumput hingga jauh ke arah lereng gunung, lebih dari itu, mereka diliputi rasa cemas, kalau-kalau harta benda miliknya (termasuk ternak lembu kesayangannya) dijarah orang-orang jahil. Pengalaman petaka Merapi pada 1994, misalnya, membuat warga Dusun Belang, desa terakhir di sekitar Tlogolele, Selo, Boyolali, yang hanya berjarak ’sepelemparan batu’ dengan punggung Merapi, harus berhati-hati sebelum memutuskan mengungsi.

Pasalnya, mengiringi amuk Merapi tahun itu, mereka hanya menjumpai puluhan kepala sapi berikut kaki-kaki yang berserakan sepulang dari pengungsian. Sedang bagian tubuh yang berdaging sudah dibawa lari entah kemana, oleh ‘maling tiban’, gerombolan pencuri sapi yang merangkap profesi sebagai jagal dan pedagang daging.

Namun, satu hal yang hampir luput dari perhatian banyak pihak adalah soal nasib pendidikan anak-anak di pengungsian. Di Klaten, ratusan murid dari tiga sekolah yang daerahnya rawan harus digabung dengan murid di lokasi penampungan. Padahal, ruang kelas SD di lokasi pengungsian justru berubah fungsi menjadi barak. Alhasil, mereka pun sama-sama mengungsi ke rumah-rumah penduduk, belajar secara lesehan dan para guru pun bergantian mengajar.

Leave a Reply