Menipu dengan Foto

Pertengahan Januari 2001, tiga kantor berita foto asing kebobolan hampir bersamaan, karena menyiarkan sebuah foto hasil jepretan seorang fotografer freelance di Yogyakarta. Lima tahun berselang, giliran The Jakarta Post kecolongan. Yang aneh, subyeknya fotonya sama: Gunung Merapi! Modusnya hampir serupa, foto dikirim ke berbagai media itu saat kebanyakan jurnalis foto tak memilikinya. Seolah-olah, sang fotografer itu memperoleh foto eksklusif karena peka melihat tanda-tanda dan gejala.

Semua orang tahu, Gunung Merapi sedang menjadi pusat perhatian dunia –setidaknya yang tampak melalui pemberitaan media massa dalam beberapa pekan terakhir. Sebabnya, ia tidak sekadar ‘batuk-batuk’ yang membuat gelap langit akibat abunya bertebaran menyaingi awan. Lebih dari itu, isi perut bumi sudah merangkak hingga hampir menjelang Puncak Garuda, sebutan titik tertinggi ‘gundukan tanah’ raksasa itu. Sejumlah pemerintah daerah di sekitarnya, bahkan sudah menggelar simulasi evakuasi pengungsi.


Foto Gunung Merapi ini dibuat oleh Patmawitana dan disiarkan oleh AFP pada 12 Januari 2001. Foto di-download dari http://news.yahoo.com/

Muntahannya, diperkirakan bakal memiliki kadar petaka berlebih. Tentu bila dibandingkan dengan fakta-fakta yang sudah ditunjukkan gunung berapi teraktif sedunia itu sejak beberapa tahun terakhir. Merapi seperti sedang mangayubagyo, mengucapkan selamat datang kepada ratusan ahli dan pemerhati kegunungapian sedunia yang akan berbondong-bondong ke Yogyakarta pada kwartal ketiga tahun ini. Ya, mereka akan memperingati 1.000 tahun letusan Gunung Merapi dengan serangkaian diskusi, seminar, simposium dan entah apa lagi sebutannya.

Entah darimana idenya, sang fotografer freelance itu kembali menunjukkan kelebihannya dalam merekayasa foto berita, yang kebetulan dipajang sebagai foto headlines harian The Jakarta Post edisi 17 April 2006. Ia menuliskan dalam keterangan fotonya, bahwa foto Gunung Merapi yang lelehan apinya nyaris mencapai lembah itu dibuat pada Minggu, 16 April 2006 pukul 03.00 WIB.


Foto Gunung Merapi ini juga dibuat oleh Patmawitana dan disiarkan oleh The Jakarta Post edisi 17 April 2006. Foto di-scan dari The Jakarta Post

Entah berapa ribu nyawa sudah melayang andai kejadian seperti dilukiskan dalam foto itu benar adanya. Orang-orang yang tinggal di lereng barat gunung itu pasti hangus tak bersisa, saat dingin pagi melelapkan tidur mereka yang sudah nyenyak.

Saya, kebetulan menjadi salah satu orang yang dibuat panik. Tiba-tiba banyak orang bertanya –dengan menelpon atau berkirim pesan pendek, siapa sesungguhnya sosok fotografer ‘kreatif’ itu. Bibir kelu, hati terasa mendidih. Dan yang terucap hanya ungkapan kemarahan dan kutukan.

Seperti tiada akhir, banyak teman ikut bergunjing, meski saya tahu, sebagian dari mereka belum melihat foto itu di The Jakarta Post. Apalagi, beberapa koresponden televisi tiba-tiba ditelepon oleh staf redaksinya dan dimarahi karena tak berhasil memiliki rekaman peristiwa itu. Para koresponden itu dituduh kecolongan, bahkan dianggap tak becus bekerja.

Sementara, di Yogyakarta, para pejabat dan staf kantor BPPTK yang memiliki otoritas pemantauan aktivitas Gunung Merapi ‘kebakaran jenggot’, karena bahkan ada yang ditegur atasannya dari Jakarta. Entah, suasana seperti apa yang terjadi di redaksi The Jakarta Post manakala protes datang bertubi-tubi.

Padahal, di mana-mana, alur kerja redaksi media sudah jelas dan baku. Kepercayaan juga menjadi satu-satunya unsur terpenting dalam proses produksi sebuah pemberitaan. Meski staf redaksi juga bisa berbuat salah, mutu pemberitaan sangat ditentukan oleh moralitas pengisi hirarki ‘terendah’ dalam hirarki redaksional, yakni reporter atau pewarta foto dalam konteks media cetak. Akurasi dan validitas data ditentukan oleh pekerja lapangan ini.

Dalam kasus foto Gunung Merapi yang ditampilkan di The Jakarta Post edisi 17 April 2006 dan pernah dilansir tiga kantor berita asing pada awal 2001, itu sudah jelas dilakukan oleh orang yang menyebut diri dengan nama Patmawitana, sesuai kredit foto yang menyertainya.

Yang lebih aneh lagi (entah, apa sesungguhnya nama penyakit bagi orang semacam itu), hanya menjawab enteng ketika saya memprotes pelanggaran etika yang sudah dilakukannya, kali ini dan lima tahun sebelumnya. Tak terlihat sama sekali perasaan bersalahnya, apalagi penyesalan. Bahwa akibat perbuatannya, jutaan orang telah tertipu secara terang-terangan, bahkan dengan cara yang kelewat tolol.

Lewat pesan pendek, ia menuliskannya secara singkat:

Terima kasih, maaf saya salah kirim fot,tadinya hanya utk referensi aja motret merapi.

Yang pasti, pelanggaran etika semacam itu merupakan dosa paling besar dalam jurnalisme. Tak ada alasan untuk memaafkan, apalagi kesalahan yang sama telah dilakukan berulang-ulang. Pantas saja kalau seorang teman, fotografer kantor berita asing berujar tegas: “Kami telah kompak, (menyebut tiga nama kantor berita) akan menolak semua kiriman foto dari dia!

Update: Menurut kesaksian Mbak Sri Wahyuni, sesaat setelah pemuatan foto itu, Patmawitana ditanya mengenai otentisitas foto. Patma bersikeras menyatakan bahwa foto itu diambil sehari sebelum pemuatan dan menyebut beberapa nama orang yang bisa diminta kesaksiannya untuk menguatkan pernyataan dia, bahwa foto tersebut benar adanya, tidak ada manipulasi waktu kejadian dan sebagainya.

Leave a Reply