Palsu tapi Benar

Bagi sebagian orang, Sala atau yang nama resminya Surakarta, merupakan kota kecil yang indah. Tak terlalu bising dan tidak memiliki tingkat kemacetan seperti Yogyakarta, Sala lantas menjadi tempat tetirah yang menyenangkan. Bila mampu mengumpulkan banyak teman, pasti akan kian dalam terpesona.

Secara politis, Sala memiliki sejarah panjang sebagai kota pergerakan. Konflik etnis Jawa dengan keturunan Cina sudah muncul berabad-abad silam. Kedekatan bangsawan kerajaan Surakarta dengan kolonialis Belanda juga telah melahirkan banyak tokoh nasionalis. Dampak perpecahan di dalam Sarekat Islam, bahkan pernah mewarnai sejarah Indonesia kontemporer yang berpuncak pada peristiwa 1965 berikut dampak ikutannya yang menelan ribuan jiwa melayang sia-sia.

Belakangan, kota ini bahkan go international lantaran ‘mampu’ menampilkan sosoknya yang penuh paradoks: kaum fundamentalisnya hidup berdampingan dengan kaum pemadat, pemabuk, meski jumlahnya sama-sama tak terlalu besar. Sudah puluhan jurnalis berkaliber internasional –seperti fotografer spesialis perang James Nachtwey dan jurnalis dari berbagai media (seperti ABC, CNN, El Mundo, Time, The Telegraph dan lain-lain) bolak-balik ke Sala.

Secara sosial-ekonomi, kota itu juga memiliki keunikan yang tak dimiliki kota-kota lain. Perputaran jumlah uang di Surakarta, konon bahkan lebih besar dibanding Semarang, meski terpautnya tak terlalu besar. Cukup beralasan rasanya, kalau status institusi kepolisian harus ditingkatkan, dari Kepolisian Resor Kota (Polresta) menjadi Kepolisian Kota Besar (Poltabes), sejak awal Maret lalu. Asal tahu saja, kota ini memiliki tingkat kriminalitas tinggi, seperti pembunuhan, peredaran narkotika, perampokan bersenjata api hingga kasus korupsi.


Foto diolah untuk menghindari trial by the press dan menegakkan prinsip prejudice of innocent , selain juga karena alasan kemanusian dan pertemanan :p

Ditilik dari perkembangan budaya, masyarakat kota ini juga memiliki daya pikat. Kaum tradisionalis –untuk menyebut pelaku seni tradisi, hidup berdampingan dengan mereka yang bermadzhab kontemporer. Ibarat toko, Sala adalah toko kelontong: menyediakan beraneka macam kebutuhan. Semua tersedia

Beragam keunikan itulah, barangkali yang telah memikat seorang teman, yang sejak empat tahun lalu mulai senang tetirah, walau cuma sehari dua, menjauhi Jakarta yang bising dan tak bersahabat. Apalagi, ia memiliki keterbatasan, sehingga aktivitasnya sebagai jurnalis kerap terganggu. Entah, sudah berapa banyak karya jurnalistik yang sudah dihasilkannya sejak hampir setahun meneguhkan niat, menetap dan memulai hidup baru di Sala. Saya berteman kian akrab dengannya sejak beberapa tahun terakhir, meski sudah saling kenal sejak belasan tahun silam.

Ia unik dan memiliki semangat hidup yang luar biasa. Bahkan, saya mengagumi kisah hidup dan prestasinya (termasuk sebagai koresponden media asing), meski aku mengenali lewat sosoknya yang pernah ditokohkan oleh MetroTV, sementara sisi lain hidupnya muncul beberapa saat di sebuah program tayangan populer Trans TV.

Tapi, potret hidupnya berubah dan membuat saya kecewa. Setengah percaya, selebihnya heran, ketika tiba-tiba saya mendengarnya sudah mendekam di balik jeruji besi Poltabes Surakarta sejak awal April. Polisi membawanya secara paksa karena ia membelanjakan uang palsu, pecahan Rp 100.000 untuk membeli sebuah tiket tanda masuk seharga Rp 7.500.

Kepala Poltabes sendiri menyatakan kalau teman saya itu baru masuk kategori ‘coba-coba’. Sebab, dari dua orang yang ditangkap sebelumnya untuk kasus serupa, tak memberi petunjuk adanya kerjasama di antara mereka. Tapi, barang bukti berupa scanner, printer dan beberapa lembaran uang palsu yang belum sempat digunting sudah cukup untuk menjatuhkan sanksi hukum berat kepadanya.

Aneh. Sebab saya tahu, seharusnya ia tak perlu melakukan hal tercela semacam itu. Ia bersahabat dengan orang baik dan kaya raya. Bahkan, andai mau, ia bisa meminta (dan pasti dituruti) bila hanya untuk sekadar hidup layak di kota perantauannya yang baru. Ingin rasanya saya menjenguknya. Tapi ketakutan gagal menyembunyikan rasa kecewa, selalu membuat saya mengurungkan niat itu.

Saya memang masih dan akan tetap menganggapnya sebagai teman. Karena itu, saya tak tega menampilkan sosoknya secara utuh, sebagaimana Tommy $oeharto yang jelas-jelas banyak memanfaatkan uang rakyat untuk kepentingan diri dan keluarganya.

Mas, maafkan karena saya belum bisa menyapamu… Saya masih berharap uang palsu itu memang hanya kabar bohong belaka, meski polisi menyebutnya sebagai fakta yang benar adanya.

One thought on “Palsu tapi Benar

Leave a Reply