Satu Paket Beda Sifat

Ada asap, pasti ada api –entah yang berkobar menjilat-jilat atau yang berlindung di balik sekam. Awam pun hanya bisa menebak-nebak, mereka-reka sosok si pembuat api. Seperti ketika tiba-tiba muncul bantahan dari seorang politisi di Koran Tempo, pekan lalu, bahwa Partai Demokrat tidak pernah menyatakan sedang mencari figur selain Jusuf Kalla untuk mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono dalam Pemilu 2009.

Memang itu bukan berita besar. Apalagi, menurut isi berita tersebut, sang politisi menyatakan ada kekeliruan sebab ia merasa tidak menyatakan ihwal rencana pergantian pasangan ‘pengantin republik’ itu kepada wartawan sebuah koran berbahasa Inggris yang dijadikan rujukan pemberitaan Koran Tempo. Bukan mustahil, kekeliruan dilakukan oleh sang wartawan. Namun, bukan tidak mungkin pula, pernyataan seperti itu benar adanya. Dan sudah lazim di negeri ini, seorang narasumber membantahnya pernyataannya sendiri dengan menyalahkan wartawan dan medianya, manakala pernyataannya ternyata terbukti kontraproduktif atas kepentingannya sendiri.

Baik. Tak usah menguras energi untuk menerka-nerka. Mendingan kita melihat gaya pasangan pemimpin puncak Indonesia itu. Meski Presiden Republik Indonesia masih Susilo Bambang Yudhoyono, namun pernyataan-pernyataan yang mengisyaratkan adanya kebijakan baru, hampir selalu datang dari Wakilnya, Jusuf Kalla. Isyarat kekalahan Pertamina melawan Aburizal Bakrie.

Uniknya, seperti yang sudah-sudah, Presiden de jure seperti kekeuh memegang prinsip ‘diam itu emas’, seperti pendahulunya. Kontroversi tak kunjung ditengahi, diredam atau dicarikan penyelesaiannya. Padahal, meski tak harus disejajarkan dengan hak veto, sikap dan keputusannya dinantikan banyak pihak.

Lebih dari itu, Susilo Bambang Yudhoyono juga perlu segera mengakhiri kebiasaan rakyat mengisi hari-harinya dengan teka-teki, setidaknya ketika harus menjawab pertanyaan siapa Presiden yang sesungguhnya. Membiarkan rakyat dalam kebingungan, jelas bukan merupakan sikap yang bijak. Apalagi, isu pencarian calon pendamping untuknya pada Pemilu 2009 terlanjur terlontar, meski kemudian diralat kembali.

Leave a Reply