Agama Bukan Buldozer

Melalui pengeras suara yang sengaja dikeras-keraskan, seorang orator menyebut tayub, lengger dan tarian sejenisnya sebagai produk manusia tak beradab. Ratusan massa –mayoritas teenagers, lainnya menyahut dengan menyeru kebesaran nama dan kekuasaan Allah SWT. Seolah-olah, profesi penari tayub dan lengger adalah jenis pekerjaan yang dilaknat Tuhan, karena semata-mata hanya bertujuan untuk merangsang nafsu lawan jenisnya.


Penari tayub sedang mendatangi penonton. Tawaran menari diwujudkan melalui penyerahan sampur (selendang) kepada penonton. Kesempatan pertama, biasanya diberikan kepada tokoh masyarakat atau tuan rumah yang mengundang sebagai simbol penghormatan

Dengan logika paling sederhana (meski terkesan agak sufistik): andaikan mereka disimbolkan sebagai yang buruk dan penggoda iman, seseorang justru akan dimudahkan dalam memperoleh pahala ‘hanya’ dengan menahan diri agar tak larut ke dalam suasana yang ditawarkan sang penggoda. Andai setuju cara berpikir demikian, berarti Anda toleran, dan mengakui prinsip pluralisme yang diajarkan pula dalam Islam melalui sebuah ayat yang berbunyi “…bagimu agamamu, bagiku agamaku.”

Tentu saja, hal demikian bukan berarti menyederhanakan persoalan dengan menggunakan analogi asal-asalan, melainkan sekadar meniru kecerdikan Abu Nawas ketika berhadapan dengan orang-orang yang terlalu percaya diri dan merasa dirinya paling benar dan paling baik dibanding yang lain.

Tayub, lengger dan tarian sejenisnya, tetap harus diakui sebagai sebuah produk kebudayaan. Soal baik-buruk, cocok-tak cocok, tergantung ukuran yang dipakai oleh sang penilai, yang tak lain adalah komunitas di luar pelaku itu sendiri. Bisa jadi, penari lengger masa kini tidak ‘sereligius’ Srinthil yang dilukiskan oleh Ahmad Tohari melalui trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang kini sudah disatukan dalam satu novel tebal (memasukkan kembali bagian-bagian yang dulu dianggap berpotensi mengundang amarah Orde Baru). Namun, menempatkan Srinthil dan para ronggeng sejajar dengan pelacur juga terlalu berlebihan.


Seperti halnya tayub dan jaipong, lengger termasuk jenis tari pergaulan. Ia tidak dipertunjukkan secara berjarak seperti pada tarian-tarian produk kerajaan, namun berbaur dengan publiknya. Tarian demikian lebih egaliter, satu dengan yang lain sama-sama menjadi bagian.

Soal pemilihan kostum, gerakan erotis dan bahasa tubuh (seperti lirikan mata penari) yang dianggap mengundang birahi, misalnya, tentu tak bisa sepenuhnya ditimpakan kepada para penari. Dalam tata krama pergaulan, tak dibenarkan seseorang untuk merusak suasana gembira banyak orang. Apalagi, tarian semacam itu semula sengaja digelar atau diadakan sebagai wujud rasa syukur seusai panen raya, atau hiburan pelengkap pesta pernikahan dan sejenisnya.

Namun, yang namanya piktor atau pikiran kotor, selalu saja dicari alasan untuk menelanjangi lawan jenisnya, bahkan hanya berdasar pada tatapan mata atau suara. Dalam diri seorang piktor, imajinasi dan fantasi akan dibebaskan bahkan dimanjakan seliar-liarnya, betapapun subyeknya tidak merasa atau mengetahui dirinya sedang di-obok-obok Si Piktor.


Srimpi Ludira Madu. Produk kebudayaan Kraton Surakarta yang konon harus dilakukan oleh penari lajang, tidak sedang haid dan masih virgin.

Tahukah Anda, ada sebagian kritikus tari menyebut syarat keperawanan dan tidak haid bagi penari srimpi dan bedaya hanya semata-mata merupakan alasan bagi penguasa kerajaan untuk memanipulasi ketaatan abdi dalem untuk kepentingan hasrat seksualnya secara sewenang-wenang?

Bagi saya, membiarkan orang lain berkreasi adalah bagian dari proses tawar-menawar kebudayaan itu sendiri. Selama kita tidak menempatkan mereka sebagai penggoda dan pengganggu, kita juga akan tetap memiliki hak untuk tidak digoda. Tergantung bagaimana kita menempatkan diri, termasuk ketika berada di tengah-tengah mereka. Biarkan semua proses berjalan alamiah, tanpa pemaksaan dan penindasan.

Tak ada salahnya kita berkaca pada teladan Sunan Kudus, yang melarang santri-santrinya menyembelih sapi lantaran di sekitar tempatnya bermukim terdapat masyarakat Hindu, yang menempatkan sapi sebagai makhluk suci utusan di bumi para dewa. Bahkan, Sang Sunan mengabadikan arsitektur Hindu sebagai ciri masjid yang didirikannya.

Sebuah perbedaan yang indah, bukan?

2 thoughts on “Agama Bukan Buldozer

  1. keren ini mas, tulisanmu.. salam kenal ya..
    oia, bicara tentang blogger, sebagai Blogger Pemalas yang kini senang menjadi Buzzer, saya pinjam ini unt disebarluaskan yaa. hueheheh..
    bagus tuh, “Sebuah perbedaan yang indah, bukan” 🙂

Leave a Reply