Pesta Bangsawan

Tingkah laku kaum bangsawan dan kalangan the have selalu menarik perhatian orang kebanyakan –termasuk penulis. Peristiwa yang sesungguhnya (mungkin saja) wajar bagi kelompok mereka, bisa menjadi lucu atau aneh bagi kelompok yang lain. Yang sudah pasti dan banyak bukti, perilaku kaum the have memiliki kontribusi besar secara psikologis, terhadap mayoritas manusia penghuni planet bumi.

Ada banyak contoh di sekitar kita. Gosip skandal asmara seorang artis yang dibeber melalui tabloid hiburan atau program entertainment di semua saluran televisi, misalnya, membuat banyak orang bisa melepas penat akibat sulitnya mengais rejeki untuk menyambung hidup. Orang jadi terhibur, sehingga kulit wajah tak mudah berkerut. Penuaan dini kaum jelata bisa dihambat oleh tontonan perilaku selebritis –entah itu artis sinetron, penyanyi dangdut atau pejabat (re-)publik.

Peran menghibur yang tak kalah dahsyatnya dibanding skandal asmara para artis, juga sudah ditunjukkan dengan sempurna oleh Krisnina Maharani, istri mantan Ketua DPR Akbar Tandjung. Tak kurang dari 100 ibu-ibu –termasuk Ibu Megawati, didatangkannya dari Jakarta. Mereka (terdiri atas para istri pejabat, pengusaha dan istri diplomat) menyesaki restoran Roemahkoe, miliknya di Surakarta, Rabu (5/4) malam. Dalam keterangan pers sehari sebelumnya, Nina menyebut mereka ingin berwisata ke Laweyan, pusat kerajinan batik yang pernah menjadi simbol kejayaan pengusaha pribumi pada awal abad XX.

Untung, Menteri Pariwisata Jero Wacik buka kartu. Rupanya, acara pesta malam itu dalam rangka ulang tahun Nina, yang kelahiran Surakarta, 46 tahun lalu. Makanya, sebelum acara pelesiran dimulai, mereka dijamu dengan pesta meriah dengan aneka menu tradisional, khas Surakarta. Untuk melengkapi pelesiran, karena para ibu-ibu itu mau mengunjungi sejumlah rumah usaha batik, Nina membagikan buku sejarah yang diterbitkan yayasannya (dan di-launching malam itu pula), yang berjudul Mbok Mase: Pengusaha Batik di Laweyan Solo Awal Abad 20.

Dalam sambutannya yang sangat datar, Nina menunjukkan rasa bangganya bisa menerbitkan buku karangan Soedarmono, sejarawan Universitas Sebelas Maret Surakarta itu. Dengan buku itu, ia mengaku ingin memberi kontribusi pengetahuan yang bermanfaat bagi generasi mendatang. Tentu, cita-cita mulia semacam itu harus diberi apresiasi. Setidaknya, turut membesarkan hatinya karena menandai ulang tahunnya secara lebih bermutu.

Namun sayang, Ibu Nina lupa kalau penerbitan buku itu terkesan ‘keburu nafsu’ sehingga kontribusi kepada generasi mendatang bisa berarti mengajarkan keteledoran. Salah cetaknya terlalu banyak, penggalan katanya serampangan, bahkan untuk penulisan abad pada judul buku pun menjadi sangat kelihatan ngawurnya, padahal buku itu diangkat dari tesis program master Soedarmono di Universitas Gadjah Mada.

Jangan-jangan, anggaran alokasi dana pesta lebih besar dari alokasi biaya penerbitan buku, sehingga Ibu Nina telanjur kehabisan dana untuk membayar penyunting dan ahli bahasa untuk menyempurnakan ‘kontribusi’-nya.

Coba tanyakan contoh pertanyaan berikut kepada anak Ibu Nina (yang dulu , kata koran-koran, ngaku pernah malu karena nama ayahnya ditulis dalam buku karangan Nurlaila):

Anakku, lingkari huruf di depan jawaban yang benar (boleh lebih dari satu):
a.Abad 20
b.Abad XX
c.Abad ke-20
d.Abad ke-XX
e.Semua benar
f.Semua salah

Selamat mengerjakan pekerjaan rumah!

One thought on “Pesta Bangsawan

Leave a Reply