Pegadaian Nyawa

Senin, 3 Mei 2004, pukul 07:11:22 WIB. Beberapa judul berita sebuah koran pagi baru kubaca, sembari menunggu posisi badan burung besi mendatar sepenuhnya. Tapi aku terpaksa menghentikan scanning judul berita dan mengalihkan pandangan pada satu titik dari lantai berkarpet biru. Setelah kuperhatikan secara saksama, ternyata ada kabel terkelupas. Mungkin akibat karet pelindung yang menutup kabel juga sudah hilang, entah oleh sebab apa.

Kabel terkelupas dalam pesawat Boeing 737-400 milik Garuda (Foto: Blontank Poer)

Hampir bisa dipastikan, kabel terkelupas akibat terlalu sering terinjak alas kaki, karena letaknya yang berada di antara bangku penumpang. Pikiran pun melayang, berandai-andai, lantas menerbitkan kekuatiran yang teramat dalam. Kuatir, andai kabel itu merupakan instalasi yang menghubungkan sumber daya (power) listrik dengan perangkat elektronik di cockpit. Tentu saja, nyawa akan tergadai sia-sia karena berada pada ketinggian di atas 30.000 kaki dengan kecepatan lebih dari 500 km/jam.

Sebuah pertanyaan beserta foto kabel sialan itu segera kukirimkan ke bagian hubungan masyarakat dan customer care Garuda . Sial, tak pernah ada jawaban, hingga sekarang. Jangan-jangan, Pak Pujobroto yang jadi manajer Humas dan staf-stafnya tak tahu cara melayani pelanggan, atau tak menghayati kerja public relations. Atau, lebih dari itu, ia tak tahu cara menggunakan surat elektronik?!?

Pesawat Garuda Indonesia sedang bersiap take off di landas pacu Bandara Adi Sumarmo (Foto: Blontank Poer)

Keselamatan penerbangan, rupanya belum sepenuhnya menjadi prioritas utama bagi pengelola maskapai penerbangan, termasuk Garuda Indonesia, perusahaan penerbangan komersial dan terbaik di negeri ‘adil makmoer’ ini. Mungkin, energi para petinggi perusahaan itu sedang terkuras untuk memikirkan cara mengembalikan utang sebesar US$ 800 juta!!!

Apapun alasannya, entah sedang bingung memikirkan utang atau sebab lainnya, pengelola usaha penerbangan tak boleh mengabaikan keselamatan penumpang dan awaknya. Apalagi, dengan dalih efisiensi, lantas menekan anggaran melalui jalan pintas seperti memakai ban vulkanisir atau membeli suku cadang kategori bogus untuk menjalankan armada pesawatnya.

Pesawat jenis MD-82 milik maskapai Lion Air memilih tempat ‘parkir’ yang lebih lapang dibanding jatah yang sudah disediakan oleh PT. Angkasa Pura, pengelola Bandara Adi Sumarmo, Solo, 30 November 2004 (Foto: Blontank Poer)

Ironis, karena pemerintah baru menerbitkan peraturan mengenai prosedur pemeriksaan pesawat sebelum terbang, larangan penggunaan ban vulkanisir untuk nose landing gear dan sebagainya, setelah banyak jatuh korban nyawa tak berdosa. Beberapa pesawat milik Lion Air, misalnya, terlalu sering mengalami kecelakaan ‘ringan’ justru setelah terjadi peristiwa nyungsep di kuburan tak juh dari Bandar Udara Adi Sumarmo, Solo, akhir November 2004. Mandala Airlines yang dulunya adem ayem, pun menggemparkan dunia akibat gagal terbang sehingga ratusan nyawa terpanggang sia-sia. Begitu pula Adam Air yang mendarat sesuka hati.

Sudah sebegitu o’on-kah para pengusaha ‘angkot udara’ beserta pemegang otoritas penerbangan kita, sehingga untuk menerjemahkan program menekan laju pertumuhan penduduk, pun mereka juga memilih jalan pintas superkonyol?!?

Semoga Allah menghukum orang-orang yang dholim karena mengabaikan hak hidup orang-orang yang telah menghidupi perusahaan penerbangan….. Amin

Update (16 Peb 2010, 19.00)

Empat tahun sejak tulisan ini di-posting, masih ada saja kejadian-kejadian ‘sepele’ dalam dunia penerbangan Indonesia. Ada ban pecah, terperosok ke luar landasan, bahkan ada yang superlucu: knalpot pesawat jatuh!!!

Bahwa regulasi sudah kian membaik, misalnya batasan berapa kali ban boleh direkondisi (vulkanisir) hingga penggunaan jenis-jenis barang bogus alias rosokan, baik itu berupa komponen mesin, peralatan navigasi, dan banyak lagi.


Leave a Reply