Mas Tom Jualan Minyak

Mas Tom Jualan Minyak? Jangan keliru dengan judul monolog yang dibawakan Butet Kartaredjasa. Mas Tom yang satu ini adalah pemilik kerajaan bisnis bernama PT. Humpuss, yang akhir-akhir ini sering kita dengar minta ‘cuti’ agar bisa keluar dari Nusakambangan. Tentu saja, dengan alasan paling logis: sakit! (Meski sesungguhnya lebih tepat bila diungkapkan dengan kata wallahualam)


Tommy Soeharto sedang keluar kompleks penjahat kakap menuju ‘kamar pribadi’, seusai melakukan shalat Idul Fitri di masjid yang terletak di kompleks LP Batu, Nusakambangan, 14 Nopember 2004

Harap maklum, hidup serba berkecukupan sejak orok pasti akan membuatnya tidak nyaman tinggal di balik jeruji besi seperti LP Batu, Nusakambangan. (Padahal, kamar Mas Tom paling enak, lho. Terpisah dari narapidana kakap lainnya, bahkan memungkinkan ‘pergi’ tanpa diketahui Bang Napi yang lain, tentu kecuali para sipir). Yang pasti, beberapa meter dari ruangan Mas Tom terdapat saluran telepon tetap (PSTN), sementara sinyal telepon seluler yang bisa
nyangkut di sana antara lain Telkomsel dan proXL (pengalaman berkunjung pada akhir 2004). Telepon satelit? Jelas oke banget!

Dengan keberadaan sinyal itu, tentu Mas Tom tak bakal kesulitan memperoleh akses informasi dari luar sehingga bisa sedikit terhibur. Apalagi, konon ada kabar dari orang dalam sendiri, yang menyatakan bahwa Mas Tom kerap dikunjungi beberapa sosok selebritis, orang-orang Humpuss, kerabat atau orang dekat, minimal dua kali dalam sepekan. Pasti, mereka membawa beragam oleh-oleh: dari makanan ringan hingga gosip ekonomi-politik tingkat tinggi.

Jadi, hidup di Nusakambangan bagi Mas Tom, pasti tak seseram atau semenderita para narapidana lainnya, apalagi yang dibayangkan banyak orang. Bisa jadi, orang terjebak pada image yang sengaja diciptakan, seolah-olah Nusakambangan bagai Alcatraz-nya Indonesia (meski aku juga tak tahu, apakah nama Alcatraz juga seseram namanya :p). Tak jelas pula, apakah Mas Tom yang satu ini juga seperti ‘napi kakap nan baik’ lainnya, turut dipekerjakan di kebun nan luas di sekitar LP Batu.


Ratusan orang antri minyak tanah di Gading, Surakarta, 19 September 2005

Yang pasti, Mas Tom tak peduli pada nasib kaum kecil di berbagai kota di Indonesia, yang harus antri panjang untuk memperoleh minyak dan bahan bakar sepanjang tiga bulan pada akhir tahun lalu. Seorang kakek berusia 75 tahun harus berjalan kaki sejauh lima kilometer dari rumahnya menuju sebuah pangkalan minyak tanah di Kota Surakarta. Di pangkalan itu, sang kakek menanti selama tuju jam untuk memperoleh jatah minyak sebanyak enam liter! (Pangkalan minyak itu berjarak tiga kilometer dari Dalem Kalitan, kediaman resmi keluarga Mas Tom di Surakarta.

Jangankan peduli terhadap perjuangan para pencari minyak untuk memasak. Hak penguasaan Blok Cepu yang diperolehnya dengan mudah dari Sang Romo saja diperjualbelikan, kok… Dengan enteng, pula! Makanya, tak perlu kaget kalau gegeran ExxonMobil vs Pertaminan dalam pengelolaan Blok Cepu (yang pasti didengar dan diketahuinya) pun tak digubrisnya. Yang penting, dia bisa memetik keuntungan besar dari praktek jual-beli ‘hak’ dengan Ampolec, yang ujung-ujungnya dibeli Exxon juga.

Mas Tom… Mas Toommmmm…………………………………………. Hidupmu nyaman benar!

Leave a Reply